Belajar Dari Hebohnya Mie Bikini

Sebuah strategi bisnis yang baik tentu harus melakukan kajian yang mendalam terhadap aspek sosial dan budaya pada komunitas bisnisnya.

Text and image block




Oleh: Noveri Maulana, M.M. - Faculty Member PPM School of Management

* Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly edisi No. 29 Tahun V , 19-25 September 2016


Awal Agustus 2016 masyarakat dikejutkan kasus Mie Bikini atau Mie Bihun Kekinian. Makanan ringan berbahan dasar Bihun ini dihasilkan oleh industri rumahan di Depok dan menjadi terkenal seketika karena menuai kontroversi.

Diusung dengan merek ‘Bikini’, kemasan bihun siap santap ini didesain menggunakan gambar lekuk tubuh wanita berbikini two pieces. Di sisi kiri dan kanan kemasan juga ada gambar jemari tangan orang yang sedang menggenggam kemasan dan tepat berada di pinggang wanita berbikini tadi. Bahkan, yang semakin membuat riuh kontroversi ialah keberadaan tagline “Remas Aku” yang ditulis di muka kemasannya.

Reaksi masyarakat melihat semua itu akhirnya membentuk persepsi lain. Tak ayal, isu pornografi dan pencemaran moral anak bangsa menjadi persepsi yang santer terdengar ketika makanan ringan ini beredar di masyarakat.

Bisa ditebak, kontroversi persepsi yang berkembang di tengah masyarakat langsung memicu polemik. Berbagai spekulasi mulai bertebaran. Dari asumsi soal produsen nakal yang tak bertanggung jawab, perusahaan pencari sensasi, hingga asumsi terkait serangan pornografi kepada pelajar dan anak di bawah umur.

Takjubnya, bisnis ini ternyata dikomandoi oleh gadis 19 tahun yang masih duduk di bangku kuliah. Ternyata juga, ternyata Mie Bikini berawal dari tugas pengembangan bisnis dan kewirausahaan yang dipelajarinya di sebuah Sekolah Bisnis di Bandung.

Lantas apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini? Dari kacamata strategi pemasaran, jelas yang dilakukan oleh produsen Mie Bikini merupakan sebuah gebrakan yang unik dan menarik. Pertama, soal pemberian nama atau merek. Bihun Kekinian yang disingkat ‘Bikini’ merupakan merek yang singkat, mudah diingat, unik, dan menarik. Jika ditelisik melalui konsep AIDA (attention, interest, desire, action) dalam ilmu Marketing dan Komunikasi, merek Bikini telah memenuhi unsur daya tarik yang cukup tinggi, menggugah, dan memancing orang untuk membeli karena penasaran. Secara konsep, jelas kemunculan Mie Bikini sudah berhasil menerapkan konsep AIDA yang baik.

Tetapi, satu hal yang luput dari pemikiran produsen ialah terkait konsep STP dan marketing mix yang menjadi tulang punggung strategi pemasaran. Konsep STP (Segmenting, Targeting, Positioning) yang diimplementasikan ternyata tidak sesuai antara satu dengan yang lainnya. Produsen Mie Bikini seakan tidak paham mengenai segmentasi pasar yang menjadi target penjualan produknya. Oleh karena itu, tidak salah jika terdapat gejolak dan kontroversi di tengah masyarakat ketika melihat peredaran Mie Bikini.

Produsen kurang andal memetakan Segmentasi dan Target Pasar yang menjadi ranah penjualannya. Alhasil, positioning yang ia sampaikan melalui kemasan, merek, dan tagline produk menjadi tidak sesuai dengan karakteristik target pasarnya. Andai saja mie ini dijual di Thailand yang memiliki karakteristik pasar yang berbeda dengan masyarakat Bandung, tentu konsep Mie Bikini tidak akan kontroversial lagi.

Oleh karena itu, penting diingat bagi pengusaha terutama pebisnis pemula, strategi pemasaran yang baik akan menentukan keberhasilan penjualan jangka panjang. Tidak hanya membahas konsep STP, tetapi seorang pebisnis yang baik juga harus paham dalam kajian marketing mix atau terkait product, price, place, dan promotion. Sebuah bisnis yang baik harus mampu menempatkan produk dengan harga yang tepat, di tempat yang sesuai segmentasi, dan dengan aktivitas promosi yang tepat sasaran.

Dalam strategi bisnis, faktor eksternal menjadi salah satu komponen yang harus diantisipasi oleh para pengusaha. Salah satunya adalah pengaruh sosial budaya terhadap proses bisnis yang dijalankan. Faktor sosial budaya akan mempengaruhi perilaku konsumen dan akan berdampak pada tingkat penjualan serta berpotensi mengganggu proses produksi. Dan, hal ini yang terjadi pada kasus Mie Bikini.

Kajian mendasar terkait polemik Mie Bikini ialah soal aspek sosial budaya yang juga berkaitan dengan etika. Sebuah strategi bisnis yang baik tentu harus melakukan kajian yang mendalam terhadap aspek sosial dan budaya pada komunitas bisnisnya. Di sinilah, pebisnis harus mampu mengenali consumer behavior para calon konsumen di segmen pasarnya.

Marilah belajar dari polemik Mie Bikini! Dibutuhkan analisis potensi masalah dan rencana penanganan yang baik sebelum meluncurkan sebuah inovasi yang berani, mendobrak rutinitas, dan tradisi, atau bahkan memunculkan sesuatu yang memang mengundang kontroversi.


Share