Business Acumen di Industri Kreatif

Business Acumen dapat diartikan sebagai suatu atribut kepemimpinan atau manajerial yang mengacu kepada kemampuan seorang pemimpin atau manajer untuk mencurahkan dan memanfaatkan berbagai daya analitis dan kreativitas yang dimilikinya untuk memanfaatkan suatu peluang

Odoo image and text block




Oleh : Alphieza Syam M.Ak., CMA – Core Consultant and Trainer, PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak edisi XXI 2015

Salah seorang sahabat yang memilih berkarir sebagai wirausahawan di bidang desain dan penyelenggaraan resepsi pernikahan (wedding organizer) sempat mengeluhkan tantangan yang dihadapi dari para calon pengguna jasanya. Sahabat tadi mengeluhkan tentang calon pelanggannya yang sangat bersemangat dan berupaya keras menawar harga jual jasa yang ditawarkan seminimal mungkin.

Ya, sebagai seorang wedding organizer, yang mengaku bukan sekedar penyelenggara pesta biasa, sahabat tadi memang terbiasa membangun rancangan pesta pernikahan dengan konsep dan tema yang unik, sesuai dengan gaya dan keinginan si pengguna jasa, dan kemudian mengelola segala persiapan dan menyelenggarakannya berdasarkan tema unik tadi. Dan oleh karenanya, praktis pekerjaannya lebih banyak diisi dengan berbagai hal yang menguras ide kreativitasnya.

“Ah, pestanya cuma segitu aja, tapi harganya tinggi sekali.” atau “Memang sih konsep atau tema pestanya unik dan kreatif. Tapi kan tidak butuh banyak perlengkapan dan material yang sulit. Jadi kenapa harganya mahal sekali?” Kira-kira begitulah ungkapan yang sahabat tadi sebut sebagai ‘tantangan’ dari para calon pengguna jasanya. Bila demikian halnya, lalu apa yang harus dilakukan, atau diperbaiki, atau dilengkapi oleh sahabat tadi, serta mungkin sahabat-sahabat lain yang berprofesi di bidang serupa?

Sebagai seorang wirausahawan wedding organizer, sahabat tadi mungkin dapat kita sebut sebagai pelaku ekonomi kreatif, atau pelaku ekonomi di industri kreatif. Industri Kreatif itu sendiri dapat kita maknai sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan ide kreativitas, keterampilan serta bakat individu, pengetahuan dan informasi untuk menciptakan benda ekonomis (barang atau jasa) yang bernilai tambah, menciptakan lapangan kerja serta kesejahteraan bagi pelakunya.

Berwirausaha dengan memanfaatkan ide kreativitas dalam membangun rancangan konsep dan tema sebuah pesta pernikahan, menjual rancangan dan penyelenggaraan pesta tersebut kepada pelanggan dan mendapatkan imbalannya telah menjadi alasan mengapa wedding organizer tadi kita sebut sebagai pelaku ekonomi kreatif.

Apa yang membedakan antara pelaku ekonomi kreatif dan pekerja kreatif, atau pekerja seni lainnya? Perbedaan mendasar terdapat pada atribut peran yang dimilikinya. Bila seorang pekerja kreatif dituntut untuk memiliki daya kreativitas yang mumpuni untuk menghasilkan banyak ide-ide atau gagasan unik secara cepat dan bernilai seni atau bernilai kreativitas tinggi, maka seorang pelaku ekonomi kreatif selain memiliki atribut-atribut kreativitas tadi juga harus melengkapinya dengan kompetensi peran yang lebih strategis; Business Acumen.

Business Acumen dapat diartikan sebagai suatu atribut kepemimpinan atau manajerial yang mengacu kepada kemampuan seorang pemimpin atau manajer untuk mencurahkan dan memanfaatkan berbagai daya analitis dan kreativitas yang dimilikinya untuk memanfaatkan suatu peluang, menciptakan dan menyampaikan produk (barang atau jasa) dengan atribut yang sesuai, dan pada akhirnya mengubahnya menjadi benefit (laba atau profit). Sederhananya adalah, kemampuan seseorang menggunakan seluruh usaha dan daya pikirannya untuk menghasilkan keuntungan.

Bagaimana Business Acumen Dibangun

Seorang pemimpin suatu korporasi besar dapat saja telah memiliki kemampuan yang sangat mumpuni dalam hal bagaimana mengelola organisasinya secara profesional. Namun demikian, bila dalam rangkaian kemampuan yang dimilikinya tidak terdapat Business Acumen, maka organisasi yang dipimpinnya bisa jadi tidak tanggap dalam memanfaatkan berbagai peluang yang ada, dan bukan tidak mungkin pula yang bersangkutan akan abai dalam kinerja profitabilitas organisasinya.

Sebaliknya, seseorang yang tidak mengenal sama sekali berbagai konsep dan praktek manajemen, mungkin dapat melihat peluang menciptakan keuntungan dari fenomena yang terjadi di lingkungan sekelilingnya. Seseorang yang tidak memahami berbagai mata ajaran kurikulum SD, SMP dan SMA, dan bahkan tidak memiliki kompetensi mengajar mungkin dapat melihat peluang usaha dan profitabilitas dari fenomena persaingan yang tinggi untuk lulus ujian masuk sekolah atau perguruan tinggi ternama. Tetapi dengan atribut Business Acumen yang dimilikinya, seseorang yang tidak cakap mengajar tadi dapat membuka lembaga bimbingan belajar dan mendapatkan keuntungan dari usaha yang dibukanya tersebut.

Sebagai suatu atribut kepemimpinan atau manajerial, Business Acumen juga mempersyaratkan dipenuhinya keterampilan dasar dalam dunia bisnis seperti; keuangan dan akuntansi; pemasaran dan pelayanan pelanggan; serta pengelolaan sumberdaya untuk usaha. Memiliki atribut Business Acumen akan berarti bahwa seseorang mampu membaca berbagai laporan keuangan dan memahami bagaimana laporan keuangan dari organisasinya terbentuk dan tersajikan, serta memahami makna dari laporan keuangan itu sendiri.

Memiliki atribut Business Acumen berarti bahwa seseorang juga mampu melihat dan menemukan serta mengenali calon-calon pelanggan potensialnya, potensi penjualan keuntungan yang mungkin dapat dihasilkan, serta bagaimana menjalin hubungan dengan para pelanggan yang berpotensi memberikan keuntungan tersebut.

Dan memiliki atribut Business Acumen juga berarti bahwa seseorang dianggap cakap mengelola berbagai sumberdaya yang dimilikinya, terlepas dari kendala-kendala yang ada pada sumberdaya tersebut, dan memahami bahwa efisiensi penggunaan dan pengelolaan sumberdaya di organisasi dapat berdampak pada kinerja usahanya (kinerja keuangan). Tanpa ketiga hal tersebut, niscaya tidak akan dibangun suatu atribut Business Acumen yang paripurna.

Pentingkah Business Acumen bagi Pelaku Ekonomi Kreatif?

Kembali ke awal tulisan, bagaimana halnya dengan para pekerja kreatif? Bagi para pekerja kreatif, gagasan dan ide yang berasal dari daya kreativitas individunya tak pelak lagi sudah merupakan aset intelektual terbesarnya. Pilihan berada di tangan para individu pekerja kreatif itu sendiri, apakah ingin tetap berkarya kreatif secara profesional tanpa menghiraukan berbagai peluang yang ada mengikuti perkembangan sosial-budaya dan teknologi, ataukah ingin turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dengan menapaki peran baru sebagai pelaku ekonomi kreatif.

Apapun pilihannya, tidak ada yang lebih baik atau buruk di antara satu dengan lainnya. Bagi yang ingin menapaki peran baru sebagai pelaku ekonomi kreatif, maka membekali diri dengan Business Acumen adalah prasyarat yang tidak dapat ditawar lagi. Dan upaya membekali diri dengan Business Acumen ini bukan hanya berlaku untuk mereka yang baru berpindah dari pekerja kreatif ke pelaku ekonomi kreatif, tetapi juga yang sudah berperan sebagai pelaku ekonomi kreatif sedari awal.

Mencium adanya suatu peluang yang mungkin memberikan benefit dan keuntungan, kemudian dengan daya kreativitas yang dimilkinya mampu menciptakan produk bernilai tambah yang memenuhi keinginan pelanggan (atau calon pelanggan), mengedukasi calon pelanggan akan nilai tambah yang terkandung dalam produk ciptaan tadi serta kompensasi yang memang pantas untuk nilai tambah tersebut, dan pada akhirnya memetik manfaat dan keuntungan atas penciptaan produk kreatif tersebut, merupakan suatu rantai proses dalam ekonomi kreatif.

Dan proses tersebut telah dengan jelas merepresentasikan dibutuhkannya atribut Business Acumen. Pada akhirnya, kita akan mendengar tanggapan calon pelanggan “Oh, jelas saja mahal, ide kreatifnya pun bukan sekedar ide yang didapat sembarangan” atau “Wow, kreatif sekali perancang produknya, wajarlah kalau harganya juga tinggi. Sebanding dengan kualitas dan kreativitasnya”.

Share