Ekosistem FinTech di Indonesia

Ekosistem FinTech di Indonesia terdiri dari beberapa klasifikasi produk. Diantara yang ditawarkan adalah produk yang menawarkan jasa lending dan crowdfunding.

Text and image block 



Oleh : Fitri Safira, M.M. -Trainer, Jasa Pengembangan Eksekutif | PPM Manajemen



*Tulisan ini ditayangkan oleh SWA Online

Saat ini, kita telah sampai pada masa ketika perusahaan jasa penginapan tidak memiliki satupun kamar, perusahaan taksi tanpa mobil, dan perbankan tanpa bank. Satu hal yang memungkinkan ini semua terjadi adalah perkembangan teknologi yang begitu pesat. Sesuatu yang tidak hanya mengubah model bisnis tetapi juga mengubah ekosistem suatu industri. Salah satunya adalah industri finansial.

Beberapa waktu belakangan, istilah FinTech atau Financial Technology tengah mengemuka. FinTech pada dasarnya adalah sebuah lini bisnis yang berbasis pada penggunaan software atau aplikasi dalam menyediakan jasa finansial. Biasanya, FinTech hadir sebagai perusahaan rintisan atau perusahaan startup.

Di Indonesia sendiri, FinTech hadir sebagai salah satu katalis dalam meningkatkan inklusi finansial. Indonesia memiliki lebih dari 200 juta penduduk yang tersebar dalam wilayah kepulauan yang luas. Kondisi geografis yang sedemikian rupa menjadikan tantangan tersendiri bagi perbankan tradisional untuk menjangkau masyarakat yang berada di pedalaman Indonesia.

Sebagai dampaknya, hanya 20 persen dari total populasi Indonesia yang memiliki akun di perbankan formal. Pada sektor UMKM sendiri, 79 persen dari 56.5 juta UMKM yang ada di Indonesia tidak memiliki akun di bank. Namun demikian, penetrasi teknologi smartphone yang sangat tinggi di Indonesia membuka peluang tersendiri bagi industri jasa perbankan. Didukung dengan masterplan pengembangan infrastruktur selular, keberadaan FinTech menjadi jawaban atas tantangan inklusi keuangan di Indonesia.

Ekosistem FinTech di Indonesia terdiri dari beberapa klasifikasi produk. Diantara yang ditawarkan adalah produk yang menawarkan jasa lending dan crowdfunding. Melalui aplikasi yang menyediakan jasa ini, orang-orang yang membutuhkan dana cukup membuat account pada aplikasi penyedia jasa lending dan crowdfunding dan mengunggah informasi terkait jumlah dana yang dibutuhkan, tujuan penggunaan dana, dan informasi lainnya yang relevan.

Di sisi yang lain, pihak yang memiliki surplus dana cukup melihat “katalog” pemohon dana dan memilih salah satu atau beberapa debitur. Dalam mekanisme ini, umumnya kebutuhan dana yang dipenuhi hanyalah kebutuhan dana jangka pendek dengan tingkat bunga yang beragam. Beberapa startup yang menyediakan produk ini antara lain Investree, UangTeman, dan Modalku.

Produk yang lainnya yang juga marak ditawarkan oleh startup FinTech adalah jasa pembayaran dan pengiriman uang. Secara umum, model bisnis ini  berbasis pada transaksi yang cashless. Uang elektronik ini dapat disimpan sebagai data dalam kartu, QR Code, maupun perangkat telepon selular. Sehingga pelanggan dapat melakukan transaksi kapanpun, dimanapun, tanpa perlu untuk membawa uang tunai. Dimo, Kartuku, Dompetku dan Doku merupakan beberapa startup asal Indonesia yang bergerak pada bidang ini.

Selain menyediakan jasa pembayaran, perusahaan rintisan berbasis teknologi finansial juga banyak yang menyediakan jasa manajemen investasi. Tidak hanya melayani aktivitas jual-beli produk investasi, perusahaan rintisan ini juga menyediakan informasi terkait dengan pasar modal dan berbagai instrumen investasi, seperti misalnya saham dan reksa dana. Stockbit dan Bareksa merupakan dua perusahaan rintisan yang menyediakan jasa tersebut.

Selanjutnya, terdapat pula perusahaan startup yang menyediakan jasa edukasi dan pengelolaan keuangan pribadi. Startup ini menawarkan berbagai informasi produk keuangan mulai dari kredit, tabungan, asuransi dan investasi. Tidak hanya itu, beberapa startup juga memberikan kemudahan untuk melakukan pencatatan keuangan sederhana. Beberapa perusahaan rintisan yang menyediakan jasa ini antara lain Cekaja.com, Duitpintar, AturDuit dan Jurnal.

Selain berbagai startup di atas, terdapat pula perusahaan rintisan lainnya yang bergerak pada bidang jasa keuangan yang lebih spesifik. Misalnya, iGrow dan TaniHub, sebuah startup yang bergerak pada pembiayaan pertanian; Iwak, perusahaan rintisan yang menyediakan jasa pendanaan bidang perikanan; Jojonomic, yang menyediakan jasa manajemen reimbursement; serta Privy ID yang menyediakan fitur identitas dan tanda tangan digital untuk berbagai pengesahan transaksi secara elektronik.

Lalu, siapkah kita semua dalam peralihan hidup yang serba online ini? Sejatinya dinamika teknologi ini bisa menjadi peluang sekaligus tantangan bagi setiap lini industri. Selamat berefleksi!

Share