The Marketing of You

Nilai yang dikomunikasikan dalam proses memasarkan diri membuat orang-orang yang melihat diri kita akan terkesan, merasakan manfaatnya, dan terkoneksi.

Text and image block

Oleh: Pepey Riawati Kurnia
         Ketua Program Pasca Sarjana PPM School of Management






*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 35 Tahun V, 31 Oktober - 06 November 2016

Saat ini eranya unjuk gigi. Sudah bukan rahasia lagi banyak orang yang menampilkan dirinya lebih sering di era digital seperti sekarang ini. Potret diri bertebaran dimana-mana. Dalam lingkup media sosial, berbagai upaya juga dilakukan untuk semakin lebih dikenal, entah dengan menggunakan nama-nama aneh atau mendompleng nama orang terkenal hingga dalam keseharian selalu memberikan kartu nama kepada siapa saja seraya memaksa untuk menerima informasi dirinya. Apakah harus seperti ini memasarkan diri untuk menjadi terkenal dan dikenal?

Joel, M. (2013) dalam bukunya Ctrl Alt Delete, secara apik menyarankan untuk melakukan pemasaran diri yang lebih bermakna, sopan, dan beretika. Zaman memang sudah berubah demikian cepat dan membuat kita berperilaku ingin serba cepat, namun sering melupakan nilai-nilai  ketimuran yang masih banyak dianut masyarakat Indonesia.

Sejatinya, pemasaran diri yang bermakna juga membangun pengaruh dan kredibilitas. Jangan salah mengartikan bila jumlah follower yang banyak menunjukkan sudah tingginya pengaruh diri. Jangan pernah mengartikan bahwa orang-orang yang bertombol click, maka sudah pasti ia sepaham dengan diri kita. Belum tentu.

Joel memberikan contoh menarik tentang Howard Stern, juri di America’s Got Talent yang memiliki 1.5 juta  follower dibandingkan dengan Charlie Sheen yang memiliki 7.5 juta follower. Meski lebiih rendah jumlah follower-nya, pengaruh Stern jauh lebih tinggi dibandingkan Sheen. Oleh karena itu, perlu dicek ulang, mereka yang bangga dengan banyaknya follower, apakah benar-benar tinggi pengaruhnya.

Pengaruh yang kuat perlu dilakukan dengan cara “true influence”, yakni memberi nilai atas relasi atau komunikasi yang dilakukan. Nilai yang dikomunikasikan dalam proses memasarkan diri membuat orang-orang yang melihat diri kita akan terkesan, merasakan manfaatnya, dan terkoneksi.

Selain itu, tidak cukup hanya terus menerus menampilkan foto diri, foto aktivitas, namun harus memiliki semangat untuk memelihara hubungan yang sudah terjalin. Apa informasi atau pesan yang disampaikan setiap harinya harus memiliki nilai tambah bagi kehidupan manusia. Jadi, semakin hari akan terpelihara hubungan yang saling terikat, yang bermanfaat bagi kebutuhan dimasa mendatang.

Lalu bagaimana dengan generasi yang lahir sebelum generasi Y atau Z - seperti generasi Baby Boomer dan generasi X - yang tidak paham dan tidak siap dengan membangun diri di zaman internet?

Nah, bagi generasi sebelum Y atau Z, disarankan untuk banyak belajar dari pengetahuan yang membahas tentang pemasaran diri. Juga upayakan memiliki kebiasaan membaca, tidak hanya membaca blog atau informasi yang dikirim oleh follower Twitter, atau informasi dari grup Whatsapp. Tapi benar-benar membaca buku-buku masa kini yang memberikan tips atas pemasaran diri terkini. Setelah membaca, jangan lupa mempraktekannya, sehingga lambat laun semakin terbangun pengetahuan sekaligus kompetensi diri yang diperlukan.

Tidak cukup hanya banyak belajar dan baca, tetapi juga perlu kreatif untuk membuat informasi bernilai yang siap disebarkan. Artinya, memberikan manfaat bagi yang membacanya. Bila dirasakan bermanfaat, pembaca pun semakin terkoneksi. Apalagi kalau informasi yang disampaikan ada nilai tambah yang sangat khas dengan informasi-informasi yang beredar.

Hanya dengan banyak membaca dan ditunjang dengan pengalaman, maka akan tercipta informasi kreatif. Namun, kadang penciptaan kreatif bisa muncul saat berdiskusi dengan teman, atau orang-orang yang sering menjadi narasumber, serta pakar di bidang tersebut. Untuk mendukung kelanjutan proses memberikan nilai, maka perlu adanya kecintaan saat mengerjakan.  Sebab, kebosanan akan mengambil alih dan mengakhiri segalanya bila tidak ada kecintaan.

Semua yang dilakukan untuk membangun pemasaran diri, perlu live it dengan apa yang dilakukan.  Menjadi darah dalam kehidupan sehari-hari. Tentu diperlukan energi ekstra dalam melakukannya. Tidak ada yang percuma selama diyakini akan manfaatnya. Semoga.

Share