Jebakan dalam Pengambilan Keputusan: Benarkah Pengalaman Merupakan Guru Paling Baik?

Ungkapan bahwa “guru yang terbaik adalah pengalaman” diyakini oleh banyak orang sehingga, sejalan dengan ungkapan ini, kita juga sering mendengar orang mengatakan bahwa orang yang lebih tua mengklaim bahwa mereka telah lebih banyak makan asam garam (baca: pengalaman) dari orang-orang yang lebih muda.  

Pemahaman orang tentang perusahaan tidak jauh berbeda. Perusahaan yang sudah berdiri lebih lama dari perusahaan baru diyakini bahwa mereka mempunyai pengalaman yang lebih sehingga seolah-olah perusahaan yang lebih tua usianya mempunyai kemampuan lebih dibanding perusahaan yang relatif lebih baru. Benarkah pemahaman seperti itu?

Untuk menjawab pertanyaan di atas tentunya kita tidak bisa serta merta menyimpulkan benar atau salah karena untuk menilai kenyataan ini sebagai sesuatu yang benar atau salah kita harus melihat situasinya dahulu yang tentunya sangatlah kontekstual.

Odoo text and image block

Sebuah contoh yang sederhana, bila seorang anak kecil menyentuhkan tangannya ke nyala api lilin dan anak itu kaget merasakan panasnya api maka pada umumnya kita meyakini bahwa anak tersebut telah belajar bahwa api merupakan sesuatu yang mempunyai sifat panas sehingga dengan demikian di kemudian hari anak tersebut tidak akan menyentuhkan tangannya ke api.

Contoh lain, seorang anak muda pengendara motor terbiasa melanggar lampu merah atau tanda larangan masuk jalan tertentu. Mengapa? Sebenarnya pada saat sebelum anak muda tersebut melanggar lalu lintas ada proses berpikir, yaitu melanggar atau tidak. Pada awalnya mungkin anak muda tersebut hanya coba-coba melanggar dan ternyata tidak apa-apa alias tidak ada sesuatu yang merugikan baginya, bahkan jika ada polisi pun yang jaga ternyata dia dibiarkan melanggar tanpa ada konsekuensi yang negatif. Alhasil pemuda ini menjadi terbiasa.

Cerita  di atas menggambarkan bagaimana seseorang belajar dari pengalaman terdahulu untuk proses pengambilan keputusan di waktu mendatang. Bagaimana dengan pengambilan keputusan bisnis? apakah halnya akan sesederhana contoh di atas? Apakah benar buat seorang pemasar (marketer) yang punya pengalaman setiap kali menaikkan anggaran iklan sebesar 30% selama 3 tahun berturut-turut dan penjualannya pun berturut-turut meningkat rata-rata 20% akan terjadi lagi di tahun ke-4?

Pendekatan dengan menggunakan pengalaman sebagai basis utama terkesan sebagai sesuatu yang masuk akal untuk memutuskan ke depan. Namun, bila hal ini digunakan tanpa memperhatikan situasi yang ada maka hasilnya kemungkinan akan jauh berbeda dari yang diharapkan. Dengan demikian, dalam keputusan bisnis,  bagaimana respon atas pengalaman kita terdahulu--apakah pengalaman tersebut memang masih bisa dipertimbangkan--akan sangat tergantung pada konteks situasi yang ada.

Kenyataan di dunia bisnis  memang tidak semudah contoh di atas. Mengapa? Kita sebagai pengambil keputusan sering kali akan membenarkan keputusan kita dengan mendasarkan pada fakta lingkungan bisnis yang dipahami oleh kita. Namun demikian, fakta yang sebenarnya sangat mungkin menyimpang atau berbeda dari kenyataan yang sebenarnya yang kita sendiri tidak tahu atau tidak kita pahami dengan baik.

Ada beberapa realitas yang ada pada saat kita melakukan proses pengambilan keputusan. Pertama adalah pada saat kita melakukan evaluasi atas keputusan terdahulu kita cenderung melihat apakah hasilnya baik atau tidak. Seringkali kita menyimpulkan jika hasilnya baik maka kita cenderung akan mengatakan bahwa apa yang telah kita pertimbangkan sebelumnya adalah benar. Padahal kenyataannya bisa beda.

Bagaimana jika kita gagal? Sering kali kita akan mencari penyebabnya dengan mengeksplorasi lingkungan bisnisnya, apakah ada perubahan pada konsumen atau persaingannya? Kita lupa bahwa bisa jadi prosesnya yang salah dalam pengambilan keputusan. Kita terlalu mengandalkan pengalaman untuk pengambilan keputusan yang sama atau mirip.

Realitas yang kedua adalah bahwa sering kali kita sebagai pengambil keputusan terlalu yakin akan pengetahuan atau kemampuan yang kita miliki, yang diperoleh melalui pengalaman. Dalam kasus ini, yang akan terjadi adalah bahwa kita cenderung akan menyalahkan sesuatu di luar diri kita yang seolah-olah di luar kendali kita atau dengan kata lain mencari excuse atau kambing hitam.

Dengan kondisi kedua realitas di atas maka yang terjadi adalah bahwa kita tidak banyak belajar dari pengalaman bahkan yang terjadi adalah bahwa kita sebagai pengambil keputusan terjebak dengan pengalaman yang kita punyai.

Pengalaman memang penting, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana kita memanfaatkan pengalaman dalam proses berpikir bukan pengalaman mengerdilkan kita dalam proses sehingga yang terjadi adalah kita terjebak dalam dalam proses pengambilan keputusan yang hanya mengandalkan pengalaman saja.

*Martinus Sulistio Rusli, Ir. MBA, Ph.D., - Direktur Eksekutif PPM Manajemen

Share