Kontribusi Pemimpin Perusahaan Untuk Indonesia

Republik Indonesia negara yang sangat kita banggakan ini pada 17 Agustus 2015 memasuki usianya yang ke-70 tahun.  Bila dianalogikan dengan manusia, maka pada usia ini umumnya cenderung sudah mulai sakit-sakitan dengan beragam keluhannya serta dengan segala keterbatasan gerakan. Atau malah di usia 70 tahun, mungkin manusia telah meninggalkan dunia untuk berpulang.

Tapi dalam konteks negara, kejadiannya tentu saja bisa berbeda. Pada usia ke-70 tahun dan seterusnya, sejatinya sebuah negara akan semakin kokoh dan berkembang, dengan rakyat yang semakin makmur dan sejahtera. Bagaimana dengan Indonesia? 

Odoo text and image block

Berkaca dari data ekonomi yang dipublikasikan oleh Bappenas, perlu kita waspadai imbas ekonomi dunia yang tidak terlalu baik serta pasti berdampak pada negara ini. Pada oktober 2014, International Monetary Fund (IMF) mengoreksi pertumbuhan ekonomi global dari 4,0% menjadi 3,8%, dan pertumbuhan emerging market termasuk Indonesia, dari 5,2% menjadi 5,0%.

Koreksi pertumbuhan tersebut disebabkan kinerja perekonomian di wilayah Eropa dan Jepang yang masih belum menggembirakan. Perekonomian Amerika Serikat walaupun menunjukkan tren yang meningkat namun belum cukup untuk mengangkat ekonomi dunia. Pula yang terjadi pada Tiongkok dan Rusia, terjadi kelesuan pada pertumbuhan ekonomi pada masing-masing negara tersebut dan negara-negara lain yang memiliki hubungan dagang dengan keduanya.

Kelesuan pertumbuhan ekonomi di Eropa, Jepang, dan beberapa negara lainnya tentu saja berdampak pada Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia juga melesu. Bank Indonesia merevisi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari kisaran 5,4% - 5,8% menjadi hanya dipatok pada angka 5,4% saja, sedangkan World Bank dari 5,6% menjadi hanya 5,2%.

Sebagai pemimpin perusahaan yang bergelut di dunia bisnis, apa yang bisa  dikontribusikan kepada Indonesia agar perekonomian Indonesia dapat  kembali meningkat dan mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya?

Kontribusi yang bisa dilakukan oleh pemimpin perusahaan tentunya disesuaikan dengan beragam kompetensi dan keahlian dalam kapasitasnya sebagai pemimpin perusahaan, serta bertujuan semata demi peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

PPM Center of Innovation and Collaboration (CIC) pada kurun waktu 2013-2014 telah melakukan riset yang ditujukan kepada lebih dari 200 perusahaan dari berbagai industri. Hasil riset menyebutkan bahwa 68,3% perusahaan yang melakukan inovasi penjualannya bertumbuh sebesar 5-30%.  Malah terdapat 20,7% perusahaan yang pertumbuhannya di atas 20% hingga di atas 50%.

Pertanyaannya, inovasi seperti apa yang telah mereka lakukan sehingga berdampak pada pertumbuhan penjualan? Dari data CIC didapat jawaban bahwa inovasi yang dilakukan adalah dalam lingkup  inovasi produk, inovasi operasional, inovasi metoda pemasaran, dan tentunya inovasi yang menyasar organisasi perusahaan itu sendiri.

Pertanyaan selanjutnya yang muncul, apakah perusahaan yang melakukan inovasi dapat dipastikan penjualannya akan meningkat? Hasil riset CIC berkesimpulan bahwa terdapat 11% perusahaan yang hanya mengalami pertumbuhan di bawah 5% walaupun mereka telah melakukan inovasi. Artinya tetap ada peluang terjadinya pertumbuhan yang rendah walaupun perusahaan tersebut sudah melakukan inovasi. Setidaknya riset telah membuktikan bahwa dengan inovasi perusahaan memiliki peluang mencapai pertumbuhan penjualan antara di bawah 5% hingga di atas 50%.

Lalu bagaimanakah perusahaan yang tidak melakukan inovasi, maka penjualannya tidak akan bertumbuh? Data memperlihatkan bahwa 70% dari perusahaan yang sukses di atas rata-rata, ternyata menggunakan pendekatan inovasi dalam strategi usahanya. Jadi bisa disimpulkan bahwa perusahaan yang melakukan inovasi, mempunyai peluang untuk sukses lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang tidak melakukan inovasi.

Apa saja yang harus diperhatikan agar inovasi berjalan mulus? seperti disampaikan dalam artikel di International Journal of Innovation and Management volume 12 tahun 2008, yang memaparkan bahwa ada sembilan faktor yang diidentifikasi mampu mempengaruhi kemampuan perusahaan memanajemeni inovasi.

Kesembilan faktor tersebut adalah: Gaya Manajemen dan Kepemimpinan; SumberDaya Perusahaan; Struktur Organisasi; Strategi Perusahaan; Teknologi yang digunakan; Manajemen Pengetahuan; Karyawan dan Proses Inovasi. Ternyata dari kesembilan faktor ini yang paling penting adalah peran pemimpin dalam membangun budaya inovasi di dalam organisasi.

Peran pemimpin dalam menciptakan komunikasi, dan kerjasama yang dapat memotivasi karyawan untuk melakukan inovasi. Kemampuan pemimpin untuk mengarahkan perilaku karyawan agar mau melakukan inovasi, dan berani mengambil risiko mengalami kegagalan ketika berinovasi. Pemimpin puncaklah yang dapat memberikan peran membangun budaya inovasi dalam organisasi.

Dari uraian di atas tidak dapat dipungkiri bahwa inovasi berkontribusi pada pertumbuhan penjualan. Inovasi akan berhasil apabila kesembilan faktor dimanajemeni dengan baik, terutama membangun budaya inovasi yang diterapkan oleh pemimpin perusahaan.

Apabila seluruh perusahaan yang ada di Indonesia mencapai pertumbuhan penjualan melalui inovasi, maka pada akhirnya pertumbuhan penjualan ini akan berkontribusi pada pertumbuhan dan perkembangan bangsa ini ke depan. Para pemimpin perusahaan bisa dengan bangga mengatakan bahwa kami turut berkontribusi membuat Nusantara ini tetap berdiri tegak.

Sebagai pemimpin perusahaan, siapkah Anda berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi bangsa melalui membangun budaya inovasi di perusahaan Anda?

*Reni Lestari Razaki MM.  – Direktur Program Pengembangan Eksekutif

Share