Rejuvenasi Cita-Cita PPM

Buah tangan PPM Manajemen telah mewarnai seluruh bentuk institusi di Indonesia. Yang terbesar adalah di sektor bisnis, terutama korporasi.



 

PPM Manajemen lahir dari keprihatinan minimnya orang-orang Indonesia yang mampu mengelola sumber daya yang melimpah di tengah gejolak politik di tahun 1967. Hampir setengah abad PPM Manajemen hadir di Indonesia. Beragam prestasi telah dicapai, yakni memberi berbagai sumbangan kepada masyarakat dalam bentuk menelurkan para manajer yang berjiwa pemimpin.

Text and image block

Buah tangan PPM Manajemen telah mewarnai seluruh bentuk institusi di Indonesia. Yang terbesar adalah di sektor bisnis, terutama korporasi. Selain itu, usaha kecil dan koperasi juga tidak luput dari perhatian. PPM Manajemen mendapat sambutan baik dari sektor sosial dan publik. Dari sektor sosial, berbagai lembaga agama, yayasan, dan LSM ikut merasakan sentuhan PPM Manajemen dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusianya maupun meningkatkan kapabilitas organisasi.

Alumni program MM PPM tersebar di berbagai institusi pemerintahan. Menjabat sebagai Menteri, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah baik di pusat maupun di daerah, hingga sebagai Wakil Walikota. Bahkan saat ini kita patut berbangga alumni PPM Manajemen menjadi pucuk pimpinan MPR.

Lalu, bagaimana dengan peta pengelolaan sumber daya saat ini? Dan sejauh mana cita-cita PPM Manajemen masih relevan? Data mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada dekade terakhir mencapai sekitar 5% per tahun. Angka tersebut cukup baik bila kita bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi negara-negara lain. Namun pertumbuhan ekonomi tersebut kurang menggembirakan bila dilihat dari dua aspek. Pertama, secara historis, pertumbuhan Indonesia di masa lalu tidak sebagus pertumbuhan ekonomi negara lain seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Korea Selatan.

Kedua, pertumbuhan sebesar 5% belum cukup untuk menyerap pertumbuhan tenaga kerja yang masih relatif tinggi. Bila pada tahun 1980-an pertumbuhan ekonomi satu persen dapat menyerap tambahan tenaga kerja sampai 400.000. Sekarang, sebagai akibat dari kemajuan teknologi,  penyerapan tenaga kerja untuk satu persen pertumbuhan ekonomi paling hanya 70.000. Ini berarti, ada potensi bahaya dengan adanya bonus demografi, yang belum tentu bisa diserap oleh pasar tenaga kerja.

Dengan demikian tantangan ke depan bagi PPM Manajemen, yang sekaligus menjadi peluang, bukan hanya mampu melahirkan para manajer-pemimpin sektor bisnis, tetapi juga para manajer-pemimpin sektor publik dan para wirausaha yang mampu mengembangkan ekonomi melalui kreasi dan inovasi bisnis, inovasi produk, dan menjadikan masyarakat Indonesia sebagai negara produsen, bukan negara konsumen.

Oleh : Bramantyo Djohanputro - Direktur Eksekutif PPM Manajemen

Share