Dalam menghadapi persaingan bisnis yang semakin kompetitif dan dinamis, organisasi dituntut untuk mampu mengelola human capital sebagai aset strategis yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis. Namun, Manager dan Senior Manager masih menghadapi tantangan dalam mengidentifikasi serta mengembangkan talenta kunci yang dapat menjadi penggerak pertumbuhan organisasi, termasuk dalam membedakan karyawan berkinerja tinggi (high-performer) dengan karyawan berpotensi tinggi (high-potential), sehingga investasi pengembangan talenta berisiko kurang tepat sasaran. Karyawan yang seharusnya dipersiapkan untuk menduduki posisi kepemimpinan dapat terlewatkan, sementara sumber daya dialokasikan untuk mengembangkan karyawan yang belum menunjukkan potensi pertumbuhan sesuai kebutuhan strategis organisasi.
Tantangan ini semakin kompleks dengan tingginya turnover karyawan berkinerja tinggi, dengan biaya penggantian yang dapat mencapai kisaran 150–200% dari gaji tahunan, serta dampaknya terhadap produktivitas tim dan hilangnya pengetahuan kritis dalam organisasi. Di sisi lain, organisasi sering kali baru mengambil tindakan ketika karyawan kunci telah mengajukan pengunduran diri, padahal berbagai sinyal disengagement dapat muncul jauh sebelumnya. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pendekatan yang lebih strategis, sistematis, dan proaktif dalam mengidentifikasi, mengembangkan, serta mempertahankan talenta kunci untuk mendukung keberlanjutan kepemimpinan dan pencapaian tujuan organisasi.
Tantangan lain yang tidak kalah krusial adalah minimnya kesiapan succession planning dan kesenjangan kompetensi yang kian melebar. Ketika seorang leader kunci pensiun, resign, atau dipromosikan, organisasi sering panik mencari pengganti. Proses rekrutmen eksternal yang terburu-buru tidak hanya memakan waktu (3–6 bulan) dan berbiaya tinggi, tetapi juga berisiko salah hire. Ketiadaan successor yang siap mengganggu business continuity dan menunda strategic initiatives. Di sisi lain, transformasi digital dan perubahan model bisnis menciptakan gap antara kompetensi karyawan saat ini dengan skills yang dibutuhkan ke depan. Manager kerap frustrasi karena tim tidak mampu memberikan hasil yang diharapkan—bukan karena kurang usaha, melainkan karena capability gap yang tidak teratasi oleh program training yang bersifat generik dan tidak menyentuh kesenjangan kompetensi kritikal.
Yang memperberat situasi adalah kesulitan mengukur ROI dari investasi pengembangan SDM serta pendekatan talent management yang parsial dan tidak terintegrasi. Leadership sering mempertanyakan return dari dana yang diinvestasikan untuk pelatihan; tanpa metrik yang jelas, talent development dipandang sebagai cost center, bukan strategic investment. Rekrutmen dilakukan tanpa mempertimbangkan strategi pengembangan talenta, performance management berjalan terpisah dari succession planning, dan program pembelajaran tidak terhubung dengan career path serta kebutuhan bisnis. Akibatnya, organisasi memiliki beragam inisiatif yang baik secara individual namun tidak saling memperkuat, dan talent management menjadi sekadar aktivitas administratif HR—bukan strategic capability yang mengakselerasi kinerja bisnis.
Pelatihan SHRM Talent Management: Developing Human Asset Value hadir sebagai solusi komprehensif dengan kerangka sistematis berbasis praktik terbaik global untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan memaksimalkan nilai human capital. Melalui pendekatan terintegrasi—mencakup talent acquisition, development, retention, hingga deployment yang didukung data dan teknologi—pelatihan ini membekali peserta dengan tools dan strategi praktis yang dapat langsung diterapkan untuk membangun organisasi unggul melalui pengelolaan talenta yang strategis, terukur, dan inklusif.
Setelah mengikuti program pelatihan ini, peserta mampu menjelaskan:
• Merencanakan pemenuhan kebutuhan talenta dengan dukungan teknologi dan data.
• Merancang strategi pengembangan talenta untuk memenuhi leadership & talent pipeline.
• Mengembangkan proactive talent retention program untuk mempertahankan komitmen jangka Panjang.
• Mengintegrasikan seluruh elemen Talent Management dengan mempertimbangkan praktik inklusi.
1. SHRM Talent Management Framework
2. Talent Acquisition
2.1 Strategic & Workforce Foresight
2.2 Employee Value Proposition
2.3 Talent Acquisition
3. Talent Development & Retention
3.1 Onboarding for Future-ready Talent
3.2 Learning & Development
3.3 Data-Driven Performance Management
3.4 Human Centric Employee Engagement
4. Talent Deployment
4.1 Succession Readiness & Skill Intelligence
4.2 Career Mobility & Workforce Transitions
• Manager & Senior Manager dari berbagai fungsi yang bertanggung jawab mengelola dan mengembangkan tim
• HR Manager & HR Business Partner yang menangani talent management & organizational development
• Learning & Development Manager yang merancang program pengembangan karyawan
• Talent Acquisition & Recruitment Manager yang ingin memahami talent lifecycle secara holistik
• Department Head & Division Head yang terlibat dalam strategic workforce planning
In-Class Training
• 11 - 14 Februari 2025
• 20 - 23 Mei 2025
• 08 - 11 Juli 2025
• 09 - 12 September 2025
• 25 - 28 November 2025
Live Virtual Training
• 24 - 25 Juni 2025
• 05 - 06 November 2025
In-Class Training
4 hari (32 jam)
Live Virtual Training
4 hari (12 jam)
Online Training
3 minggu
+62 813 5000 5314
Jl. Menteng Raya 9-19, Menteng
Jakarta Pusat 10340
DKI Jakarta
CBD Jababeka Blok E No. 2
Jalan Niaga Raya. Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi 17530
BSD The Icon 5 Business Park Blok D No. 2
Jalan Raya BSD Utama, Sampora, Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten 15316
TIFAhub Lt.12
Graha Bukopin Surabaya
Jl. Panglima Sudirman No. 10-18, Surabaya 60271
Gedung Menara Bosowa
Unit H, Lantai 08 Jl. Jendral Sudirman No. 5 Makassar 90115
© 2021 PPM MANAJEMEN - All Rights Reserved
create with ❤️ by sisinfo team
© 2021 PPM MANAJEMEN - All Rights Reserved
create with ❤️ by sisinfo team
| Cookie | Duration | Description |
|---|---|---|
| cookielawinfo-checkbox-analytics | 11 months | This cookie is set by GDPR Cookie Consent plugin. The cookie is used to store the user consent for the cookies in the category "Analytics". |
| cookielawinfo-checkbox-functional | 11 months | The cookie is set by GDPR cookie consent to record the user consent for the cookies in the category "Functional". |
| cookielawinfo-checkbox-necessary | 11 months | This cookie is set by GDPR Cookie Consent plugin. The cookies is used to store the user consent for the cookies in the category "Necessary". |
| cookielawinfo-checkbox-others | 11 months | This cookie is set by GDPR Cookie Consent plugin. The cookie is used to store the user consent for the cookies in the category "Other. |
| cookielawinfo-checkbox-performance | 11 months | This cookie is set by GDPR Cookie Consent plugin. The cookie is used to store the user consent for the cookies in the category "Performance". |
| viewed_cookie_policy | 11 months | The cookie is set by the GDPR Cookie Consent plugin and is used to store whether or not user has consented to the use of cookies. It does not store any personal data. |