Logistik Militer: Perang Era Modern

Indonesia perlu memiliki strategi menghadapi berbagai konflik di negara lain (dan negara tetangganya) supaya jalur logistik Indonesia tidak terganggu.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block




Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LXXII, 2020, hlm. 45

Logistik Militer adalah konsep perencanaan dan distribusi barang, peralatan dan perlengkapan, serta kebutuhan lain yang mendukung tindakan aksi militer - Jenderal Dwight D. Eisenhower

Pada jaman dulu, perang menggunakan kuda, sehingga yang harus dipersiapkan pengiriman peralatan dan makanan kuda. Ketika selesai perang, ada kesepakatan bahwa kedua pihak akan menghentikan perang sejenak dan mengirim pasukannya untuk mengubur atau membakar jenazah korban perang. Ini artinya dibutuhkan ketersediaan dan pengiriman peralatan tambahan setelah perang berlangsung.

Zaman dulu, perang dilakukan dengan bertemunya dua pihak di satu lokasi. Sehingga, peralatan perang, peralatan medis, dan bahan makanan harus dikirim ke satu lokasi yang sama.

Setelah dunia dilanda dua Perang Dunia pada abad ke-20 dan berbagai perang lainnya, model strategi perang pun berubah untuk meminimalkan jumlah korban. Ditambah penemuan senjata perang jarak jauh seperti rudal, maka peralatan perang, peralatan medis, dan bahan makanan disebarkan ke setiap lokasi yang berbeda.

Pada Perang Teluk tahun 1990-1991, tindakan awal Amerika adalah mengebom lokasi penyimpanan senjata Irak, lokasi penyimpanan minyak yang diperkirakan digunakan untuk perang, dan akses transportasi pengiriman bahan makanan bagi tentara Irak. Dengan demikian, tentara Irak dilumpuhkan karena pasokan senjata dan bahan makanan terpotong. Setelah itu, barulah tentara Amerika masuk ke wilayah Irak.

Sebenarnya strategi Amerika ini sejalan dengan strategi perang yang diciptakan sekitar 2.500 tahun yang lalu oleh ahli strategi perang Sun Tzu. Dia mengatakan bahwa perang yang paling sukses adalah perang tanpa pertempuran dan pertumpahan darah.


Peran Strategi Logistik

 

Disini kita melihat bahwa peran signifikan ilmu logistik bagi dunia militer. Tanpa dukungan strategi logistik yang andal, tentara dapat kekurangan peralatan tempur dan bahan makanan. Dampaknya adalah semangat tempur dan energi para tentara yang menurun, sehingga dengan mudah dikalahkan lawan.

Seiring kepedulian manusia akan perdamaian dunia, perang fisik mulai berkurang dan beralih kepada konflik merebut sumber daya. Meski demikian, peran logistik akan selalu penting dalam menyediakan sumber daya bagi manusia.

Misalnya pada tahun 2009, konflik antara Rusia dengan beberapa negara Eropa mendorong Rusia menghentikan pasokan gas melalui pipa ke beberapa negara Eropa. Cadangan gas di Eropa makin menipis dan impor gas dari negara lain tidak dapat dilakukan dalam waktu cepat. Akibatnya, masyarakat Eropa harus menghadapi cuaca dingin karena menurunnya pasokan energi untuk pemanas ruang.

Tidak heran kalau beberapa negara besar kemudian mengambil langkah pengamanan terhadap jalur logistik sumber daya mereka, terutama jalur pengiriman dari luar negeri (impor). Misalnya, langkah Cina menempatkan tentaranya pada jalur OBOR (One Belt One Road), di antaranya pada jalur kereta dari Cina menuju Asia Barat dan pelabuhan di Asia Selatan yang dibiayai oleh Cina (Washington Post, April 2018).

Di sisi lain, ada negara yang merasa terancam dengan keberadaan jalur logistik negara lain. Misalnya, usaha Cina untuk membiayai pembangunan Terusan Kra yang melintasi Thailand disinyalir dihadang oleh Inggris karena berpotensi mengurangi jumlah kapal yang melintasi Selat Malaka dan Singapura (sebagai negara Persemakmuran Inggris).

Begitu juga konflik di Myanmar tahun 2015 disinyalir adanya usaha-usaha dari negara lain untuk menghadang jalur pipa sepanjang 1.420 kilometer yang melintas negara Myanmar untuk memperlancar impor minyak pada rute Timur Tengah – Laut Arab – Teluk Bengal – Myanmar – Cina.

Indonesia perlu memiliki strategi menghadapi berbagai konflik di negara lain (dan negara tetangganya) supaya jalur logistik Indonesia tidak terganggu. Kita perlu kerjasama dan komunikasi yang intensif dengan negara tetangga agar selalu waspada dengan dinamika perdagangan global.

Diapit dua samudera besar yang bukan teritori negara manapun, ada baiknya Indonesia meningkatkan jalur ekspor impor melalui Selat Jawa atau sebelah utara Sulawesi, melalui Pelabuhan Bitung.