Membangun Nimble Culture

Untuk menjadi organisasi yang gesit sebenarnya diperlukan tidak hanya dynamic capability, tetapi juga backbone organisasi yang stabil (stable backbone).

FITRI SAFIRA
Odoo image and text block




Oleh: Fitri Safira, M.M. - Trainer, Executive Development Services PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Manajemen, November 2018, hlm. 64-65 

Bermula dari revolusi industri pertama yang terjadi pada tahun 1800-an, lanskap bisnis telah mengalami banyak perubahan. Pada waktu itu proses bisnis mengalami mekanisasi berkat ditemukannya mesih uap oleh James Watt. Revolusi tersebut terus berlanjut hingga periode elektrifikasi yang terjadi pada tahun 1900-an, hingga hari ini di mana kita telah tiba pada era industri 4.0 yang ditandai dengan proses bisnis yang semakin terotomasi melalui jejaring.

Dalam dunia bisnis, perubahan hakikatnya adalah sebuah keniscayaan. Revolusi industri yang terjadi selalu menuntut perubahan di dalam organisasi. Ke depannya, perubahan ini akan semakin cepat sehingga perusahaan pun dituntut untuk semakin agile (gesit) dalam menghadapi tantangan perubahan. Biasanya perusahaan besar yang telah lebih mapan relatif lebih sulit untuk melakukan perubahan secara cepat dibandingkan dengan perusahaan rintisan (start-up).

Salah satu alasannya adalah semakin besar dan semakin mapan perusahaan maka birokrasi yang ada pun semakin kompleks, sehingga akan sulit untuk menjadi gesit. Sebaliknya, perusahaan rintisan akan mampu bergerak cepat dalam merespons berbagai perubahan. Namun, ketika perusahaan rintisan telah bertumbuh sampai dengan titik tertentu, mereka akan mengalami kesulitan dalam mempertahankan momentum pertumbuhan yang cepat.

Menyoal ini, agility atau kegesitan menjadi kunci. Namun, kegesitan pada dasarnya merupakan sebuah paradoks. Untuk menjadi organisasi yang gesit sebenarnya diperlukan tidak hanya dynamic capability, tetapi juga backbone organisasi yang stabil (stable backbone). Lantas, bagaimana caranya membangun kultur organisasi yang gesit, tetapi dapat mempertahankan kestabilan?

Salah satu kunci organisasi di era dengan perubahan yang super cepat ini adalah dengan membangun nimble culture melalui beberapa pendekatan praktis sebagai berikut.

 

Loosen up Compliance

Seperti yang kita ketahui bersama, organisasi yang telah mapan cenderung kesulitan ketika melakukan perubahan. Selain karena adanya birokrasi yang lebih kompleks, organisasi yang telah mapan juga cenderung memiliki banyak aturan yang melingkupi organisasi. Tujuan dari adanya aturan atau kebijakan di dalam sebuah organisasi tentu baik, yaitu untuk mengatur proses bisnis dan proses kerja sehingga dapat tercipta sebuah harmonisasi antar tiap elemen di dalam organisasi.

Namun keberadaan aturan atau kebijakan pada kondisi tertentu akan menjadi hambatan bagi insan di dalam organisasi untuk bergerak cepat. Organisasi perlu mengendurkan sedikit tali aturan yang ada untuk memberikan ruang pada anggota organisasi sehingga bisa bergerak lebih leluasa.

Dalam situasi yang menuntut pemecahan masalah secara cepat, kungkungan aturan atau kebijakan tertentu perlu diabaikan sesaat. Pada kondisi-kondisi yang genting, diperlukan kreativitas guna menciptakan solusi yang berbeda dan lebih efektif. Kreativitas, seringkali membutuhkan kebebasan dari segala kungkungan dan hambatan yang mungkin ada. Pada akhirnya, ketidaktaatan pada aturan ini sering kali memberikan benefit yang lebih besar pada organisasi dalam melakukan pemecahan masalah.

"Nobody has ever won a Nobel Prize by doing what the are told." -Joi Ito


Embrace Diversity and Collaboration

Dalam buku Whiplash, Joi Ito dan Jeff Howe menceritakan sebuah fakta yang menarik. Masalah-masalah yang selama ini tidak pernah terselesaikan oleh para ahli di bidangnya, dapat ditemukan solusinya oleh orang-orang yang berada di luar bidang tersebut. Mengapa mereka dapat berhasil? Rupanya rahasia keberhasilannya terletak pada bagaimana orang-orang yang berada di luar bidang masalah tersebut, memandang masalah tersebut.

Mereka tidak memiliki blind spot yang sama dengan para ahli yang telah bertahun-tahun berkecimpung dalam bidang yang sama. Akhirnya mereka mampu melihat sesuatu—yang rupanya menjadi kunci pemecahan masalah, yang sebelumnya luput dari pandangan mata para ahli.

Dari fenomena ini kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa untuk memecahkan masalah yang kompleks, dan tidak pernah selesai sebelumnya, diperlukan pandangan-pandangan baru. Maka untuk bergerak gesit, organisasi perlu melibatkan individu dengan latar belakang yang beragam dan memberikan dukungan penuh untuk melakukan kolaborasi lintas fungsi.

 

Take Risk and Make Mistake  

Salah satu hal yang menyebabkan organisasi menjadi ketinggalan zaman adalah kecenderungan untuk melakukan hal yang sama selama bertahun-tahun. Kalaupun organisasi melakukan inovasi, yang dilakukan hanyalah sebatas inovasi yang bersifat incremental yang hanya memberikan perubahan minor bagi organisasi. Oleh karenanya, organisasi perlu untuk melakukan inovasi yang radikal sehingga memunculkan perubahan yang berarti besar bagi organisasi.

Inovasi yang radikal tentu memerlukan upaya yang besar pula. Di antara upaya ini adalah keberanian untuk mengambil risiko dan membuat kesalahan, serta mengambil pelajaran dari kesalahan yang terjadi sebagai basis untuk melakukan lompatan kuantum.