Peran Rantai Pasok Militer di Tengah Pandemi

Pada sebuah proses bisnis, rantai pasok bertujuan meminimalkan biaya

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block



Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LXXVIII

Peran rantai pasok (supply chain) tidak sebatas pada dinamika proses bisnis, tapi juga mencakup tantangan di dunia militer. Namun demikian, fungsi dasar rantai pasok pada keduanya sama, yaitu pasokan barang, produksi, pengiriman barang (militer).

Perbedaan mendasar adalah bahwa pada sebuah proses bisnis, tujuannya adalah meminimalkan biaya (misalnya dengan meminimumkan inventori dengan strategi Just-In-Time). Sedangkan tujuan pada rantai pasok militer adalah ketersediaan barang kebutuhan, berapapun biayanya.

Tidak heran kalau persediaan barang selalu diusahakan terjamin (kalau perlu tanpa peduli berapa safety stocknya), entah akan digunakan saat ini atau besok, demi kelancaran proses militer dan menjaga masyarakat.

Ketika terjadi bencana alam (seperti gempa bumi) dan meluasnya wabah penyakit (pandemi), maka pergerakan arus barang tidak dapat lagi sepenuhnya ditangani oleh perusahaan biasa yang berorientasi bisnis, dan tidak dapat pula dikerjakan oleh manusia sipil biasa (seperti karyawan).

Hal ini disebabkan karena selama masa bencana dan pandemi, distribusi barang harus dilakukan dengan cepat ke daerah yang rawan dengan keselamatan manusia, dan dihadapkan pada akses yang terbatas. Maka dari itu, peran militer muncul sebagai garda terdepan. Masyarakat sipil dapat ikut berperan tapi sebatas pada profesi guru atau aktivis masyarakat yang sudah berpengalaman dengan daerah bencana.

Contoh peran militer ini terlihat ketika Indonesia dilanda bencana alam dan tsunami. Begitu juga dalam peristiwa pandemi korona di mana militer di Italia berperan mengirim peralatan medis dan mengirim tubuh korban yang meninggal ke luar kota. Sementara di Korea, militer ditugaskan menyemprotkan disinfektan untuk membasmi virus.

Pergerakan barang antar negara pun terhambat, karena pesawat komersil enggan beroperasi, khawatir membawa virus. Maka pesawat militer TNI AU yang ditugaskan mengirim peralatan medis dari Cina ke Indonesia. Marinir juga ikut berperan dalam menjamin jarak aman bagi penumpang di Commuterline Jabodetabek.

 

Militer di Cina?

Selama masa pandemi korona, militer di Cina memanfaatkan teknologi big data, di mana tersedia aplikasi di smart phone yang terhubung dengan Pusat Kesehatan Nasional. Aplikasi ini berperan sebagai kartu kesehatan yang menunjukkan status kesehatan tiap orang dengan warna hijau, kuning, atau merah. Status ini diperoleh ketika seseorang menginstal aplikasi tersebut dan menjawab beberapa pertanyaan pada aplikasi dengan jujur. Bagi yang melanggar, ada sanksi hukum. Pertanyaan-pertanyaan ini muncul dan harus dijawab setiap hari.

 

Semua data terkirim ke Pusat dan diolah sebagai big data. Siapa, dimana, berapa persen masyarakat sehat di setiap kota, bagaimana perkembangan penyebaran virus, apa saja aktivitas sehari-hari orang pada setiap status kesehatan. Dengan pendekatan statistik dapat diperkirakan jumlah pertambahan dan pengurangan orang yang terkena virus.

“Big data” dan peran militer?

Militer bertanggung jawab di lapangan untuk memastikan kelancaran strategi big data ini, mengawasi pergerakan manusia, pengiriman barang kebutuhan sehair-hari dari berbagai wilayah sampai di toko.

Ketika diterapkan aturan lockdown, militer di Cina berjaga-jaga di jalan agar masyarakat tidak ada yang keluar rumah. Bagi yang mendesak keluar rumah wajib menunjukkan status kesehatannya pada aplikasi. Hanya yang status kesehatannya berwarna hijau yang diizinkan pergi ke supermarket atau apotek.

Kenapa harus militer yang mengawasi ini semua? Karena ketika sebuah daerah atau negara dilanda bencana, militer sebagai golongan masyarakat paling disiplin mampu menjaga kepastian eksekusi strategi, menjaga keamanan dan ketertiban, dengan tanpa toleransi. Sedikit saja toleransi, dampaknya bisa membahayakan keseluruhan sistem rantai pasok pengiriman barang kebutuhan, barang medis, dan mengawasi pergerakan manusia.

Militer tidak lagi diidentikan dengan perang fisik, namun dapat menunjukkan sisi kemanusiaan ketika diperlukan. Selanjutnya, bagaimanakah teknologi dapat mendorong peran rantai pasok lebih signifikan lagi dalam mendukung kehidupan manusia? Jawabannya adalah blockchain.


Artikel Manajemen Terkait:

Ricky Virona Martono - Rantai Pasok dan Identitas Negara

Ricky Virona Martono - Tantangan Supply Chain Vaksin Korona di Indonesia

Ricky Virona Martono - Strategi Efisiensi di Tengah Krisis Ekonomi

Ricky Virona Martono - Logistik Militer: Perang Era Modern

Ricky Virona Martono - Supply Chain Masa Pandemi: Masih Strategi Jadul

Ricky Virona Martono - Peluang di Kutub Utara

Ricky Virona Martono -  "City Transportation" di Indonesia