Risiko Pada Perusahaan Fintech

Risiko operasional umumnya menjadi sumber utama kegagalan di industri fintech.

LUFINA MAHADEWI
Odoo image and text block




Oleh: Lufina Mahadewi, M.M., M.Sc. - Core Faculty of PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume LII, 2018, p. 81

Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat pertumbuhan pengguna internet di Indonesia dalam dua tahun terakhir mencapai 50.79%. Ini menunjukkan potensi yang bisa dimanfaatkan dalam peningkatan inklusi keuangan di Indonesia.

Dari data yang dihimpun oleh Asosiasi Fintech Indonesia tahun 2017, jumlah perusahaan fintech (financial technology) di Indonesia saat ini mencapai 132 perusahaan terdiri dari 103 start-up, 22 lembaga keuangan (incumbent) dan 7 mitra asosiasi.

Namun, mengiringi pertumbuhan fintech ini, muncul pula risiko strategis, risiko regulasi, risiko operasional, dan risiko teknologi pada perusahaan fintech.

Risiko strategis dalam fintech muncul karena ada kemungkinan merugi akibat rencana bisnis yang tidak berjalan dengan baik, atau karena ketidakmampuan memanfaatkan peluang bisnis. Penyebabnya adalah produk keuangan yang tidak efektif, alokasi sumber daya yang tidak memadai,  serta kegagalan dalam merespons terhadap perubahan lingkungan bisnis.

Identifikasi risiko strategis dilakukan dengan mengumpulkan data dari perspektif eksternal khususnya lingkungan industri terkait, melakukan pengukuran ketahanan perusahaan dalam mencapai target dan sasaran strategis atas suatu kondisi yang merugikan dan berisiko melalui stress testing maupun skenario model keuangan ataupun melakukan riset pasar secara berkala. Hal tersebut dilakukan mengingat karakteristik industri financial technology yang dinamis.

Risiko lainnya yang sangat erat adalah risiko regulasi. Saat ini kebijakan terkait fintech diatur oleh OJK untuk memastikan bahwa produk yang ditawarkan transparan dan memiliki kejelasan dalam penyediaan platform teknologi. Saat ini OJK telah mengeluarkan kebijakan mengenai peer to peer lending. Risiko regulasi umumnya mencakup risiko kepatuhan (compliance) terhadap aturan dan kebijakan seperti anti money laundering, pendanaan terorisme, kerahasiaan data dan Know Your Customer (KYC).

Risiko operasional umumnya menjadi sumber utama kegagalan di industri  fintech. Salah satu unsur pendukung untuk memitigasi terjadinya risiko ini adalah dengan menyiapkan manual operasional yang secara detail menggambarkan pelaksanaan proses bisnis secara berkala, dilakukan peninjauan, proses audit internal dan eksternal periodik. Selain itu, harus ada struktur organisasi dan pembagian kerja yang tepat untuk memastikan bahwa setiap detail pelaksanaan proses bisnis dilakukan oleh sumber daya yang tepat dan otoritas yang jelas, serta terlaksananya proses rekonsiliasi keuangan secara berkala untuk meminimalisasi terjadinya kesalahan operasional maupun penipuan.

Risiko teknologi pada dasarnya berhubungan dengan risiko operasional, secara spesifik risiko teknologi berhubungan dengan kemungkinan terjadinya kegagalan sistem, seperti hacking, phising, ataupun kegagalan hardware dan software.

Risiko teknologi dimitigasi dengan mengukur dengan mengukur bentuk kerja sama yang dilakukan oleh perusahaan dengan penyedia sistem terkait dengan up-date perangkat lunak, penyediaan mekanisme untuk mencegah kebocoran data yang bersifat rahasia dan sensitif, bentuk kerjasama dengan partner platform penyedia teknologi dalam mendeteksi kegagalan sistem serta mekanisme perbaikannya, pemilihan partner penyedia platform teknologi yang tepat (memiliki protokol sistem operasional yang memadai dan kerangka serta penerapan manajemen risiko yang efektif). Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah keamanan sistem dan kemampuan dalam menyaring akses melalui kerangka sistem informasi atau blue print IT yang memadai.

Kerangka manajemen risiko yang efektif di perusahaan fintech diperlukan untuk memastikan bahwa perusahaan fintech mampu menjadi salah satu fasilitator dalam mendukung program dan kebijakan Pemerintah.