Saat Aplikasi Mengganti “Freight Forwarder”

Freight forwarder merupakan penghubung antara pemilik barang dengan penyedia moda transportasi. Rata-rata keuntungan bersih freight forwarder adalah kurang dari 4% yang diperoleh dari jasa pengiriman barang. Naik atau turunnya pendapatan freight forwarder merupakan dampak dari ketidakpastian permintaan pengiriman.

ALAIN WIDJANARKA
Odoo image and text block




Oleh: Alain WidjanarkaHead of Operational Excellence Department PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di Majalah PAJAK Volume LXXIII, 2020, hlm. 67

Penyedia Jasa Logistik (umum dikenal dengan Third Party Logistics–3PL) merupakan pihak yang melayani kebutuhan pengiriman barang. Bisnis 3PL diperkirakan memiliki rata-rata pertumbuhan sekitar 5–10% di seluruh dunia sampai  tahun 2024. Layanan logistik didominasi oleh jasa pengiriman dan penyimpanan barang. Keberadaan mereka diharapkan dapat mengurangi total biaya logistik produk.

Dari beberapa bisnis 3PL, carrier dan freight forwarder merupakan pelaku utama yang melayani kebutuhan pengiriman barang. Carrier berperan sebagai penyedia kapasitas di dalam moda transportasi yang akan digunakan sebagai tempat meletakkan barang sebelum dikirim. Freight forwarder menjadi pihak yang memastikan tersedianya kapasitas di dalam moda transportasi yang sesuai dengan kebutuhan permintaan pengiriman barang.

Peran carrier tidak berubah dari waktu ke waktu namun peran dan tanggung jawab freight forwarder rentan dengan perubahan. Sebelum menjadi 3PL, peran freight forwarder lebih dominan pada kegiatan administrative, saat ini lebih mengarah ke arah stratejik-operasional serta koordinator antar pihak. Saat ini freight forwarder dituntut untuk mengelola pengiriman barang agar berjalan sesuai dengan mutu yang tinggi, waktu yang ketat, dan biaya minimal.

Secara sederhana, freight forwarder merupakan penghubung antara pemilik barang dengan penyedia moda transportasi. Rata-rata keuntungan bersih freight forwarder adalah kurang dari 4% yang diperoleh dari jasa pengiriman barang. Naik atau turunnya pendapatan freight forwarder merupakan dampak dari ketidakpastian permintaan pengiriman.

Hal tersebut yang membuat freight forwarder harus selalu beroperasi dengan biaya minimal, salah satu upayanya adalah mengurangi penggunaan bangunan sebagai kantor. Beberapa freight forwarder, terutama yang usaha mikro-kecil-menengah, meniadakan kantor dan menempel pada perusahaan pelayaran atau pemilik barang.

Freight forwarder merupakan contoh bisnis yang besar tapi kecil. Sebagai koordinator, perannya memiliki nilai yang cukup besar demi kelancaran pengiriman barang. Sebagai penghubung, keberadaannya harus sekecil mungkin sehingga tidak membebani proses pengiriman barang. Perannya sebagai 3PL tidak dapat dihilangkan namun dapat digantikan.

Perkembangan teknologi mempermudah penciptaan serta penggunaan aplikasi yang menghubungkan pemasok transportasi dan permintaan pengiriman barang. Beberapa aplikasi diciptakan untuk memudahkan penyediaan moda transportasi. Aplikasi memungkinkan penyedia jasa transportasi tidak perlu memiliki aset, dan calon pengguna tidak perlu sibuk mencari penyedia jasa transportasi. Alhasil, biaya transportasi menjadi minimal dan layanan pelanggan menjadi maksimal.

Peran aplikasi serupa peran freight forwarder sebagai koordinator, namun beroperasi lebih efektif dan efisien. Aplikasi bisa secara otomatis mencarikan penyedia transportasi yang dibutuhkan untuk pengiriman barang. Perkiraan waktu pengiriman dapat terlihat. Tarif secara transparan terbaca dengan mudah.  Aplikasi juga dapat melacak lokasi keberadaan barang yang dikirimkan. Semua proses bisa dilakukan secara mudah, cepat dan real time.

Peran freight forwarder selaku koordinator pengiriman barang digantikan oleh aplikasi. Ketika aplikasi telah terisi dengan beragam penyedia jasa transportasi, rute transportasi, dan penghitungan tarif serta waktu, maka pemilik barang dapat melakukan proses pengiriman dengan lebih cepat, dan bisa jadi lebih murah. Tidak akan banyak lagi nilai tambah yang dimiliki freight forwarder, lalu akan hilang satu mata rantai dalam proses pengiriman barang.

Meskipun keberadaan freight forwarder mungkin tidak diperlukan lagi, namun pengetahuannya tetap diperlukan. Beberapa pengetahuan freight forwarder yang telah diformulasikan dimasukan dalam gudang data aplikasi. Antara lain; penentuan tarif, rute, jenis moda transportasi/multi moda, sampai kepada biaya tambahan. Selanjutnya adalah mengumpulkan beberapa pemasok jasa transportasi dan menetapkan pembagian pendapatan. Langkah akhir adalah mendapatkan permintaan pengiriman barang.

Pada kondisi di atas, jelas bahwa protokol yang diterapkan dalam aplikasi mengacu pada profil freight forwarder. Aplikasi transportasi dibangun melalui pengembangan jaringan, kemampuan logistik, dan kemampuan pemasaran dari freight forwarder. Bisnis freight forwarder sebagai 3PL, diprediksi meningkat dari masa ke masa namun dalam bentuk yang berbeda.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa teknologi membantu penurunan biaya transportasi melalui peniadaan fisik dari freight forwarder. Ketika sebagian besar pengetahuan dan kemampuan freight forwarder dapat dipindahkan dalam gudang data, maka keberadaan fisiknya tidak diperlukan lagi. Teknologi akan memilih mata rantai yang paling lemah, dalam hal ini adalah freight forwarder, lalu menggantinya dengan aplikasi yang lebih efektif dan efisien.

Berkaca pada kesimpulan dari kondisi freight forwarder, apabila tidak ingin digantikan dengan aplikasi maka tingkatkan terus pengetahuan dan kemampuan Anda. Buatlah pengetahuan dan kemampuan Anda setidaknya satu tingkat melebihi gudang data yang ada di aplikasi.


Artikel Terkait:

Alain Widjanarka - Kampus Merdeka dan Covid-19

Alain Widjanarka - COVID-19 dan Percepatan Industri 4.0