Stress Testing

Stress testing bertujuan menguji ketahanan suatu perusahaan atas suatu kondisi yang merugikan dan sangat berisiko.

LUFINA MAHADEWI
Odoo image and text block







Oleh: Lufina Mahadewi, M.M., M.Sc. - Core Faculty of PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah Pajak Volume L, 2018, p. 43

Adalah Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 17 Tahun 2014, yaitu POJK No. 17/POJK.03/2014. Peraturan mengenai sebuah perusahaan yang termasuk dalam ketegori konglomerasi keuangan, atau entitas utama yang memiliki perusahaan anak atau perusahaan terelasi beserta perusahaan anaknya, memiliki kewajiban untuk melakukan manajemen risiko terintegrasi.

Tersebutlah salah satu wewenang dan tanggung jawab yang wajib dilaksanakan oleh unit manajemen risiko di masing-masing perusahaan yang tergolong sebagai konglomerasi keuangan adalah melaksanakan stress testing.

Kegiatan stress testing bertujuan menguji ketahanan suatu perusahaan atas suatu kondisi yang merugikan dan sangat berisiko. Pada umumnya pengujian melalui stress testing tersebut dilakukan oleh entitas utama ketika berada dalam kondisi krisis dengan menggunakan skenario-skenario yaitu kondisi pasar maupun spesifik pada entitas tersebut.

Skenario tersebut dilakukan atas dasar faktor-faktor yang meliputi jenis-jenis kejadian atau peristiwa maupun potensi kejadian yang menyebabkan terjadinya krisis, lama terjadinya peristiwa tersebut, dan dampak serta permasalahan yang timbul akibat kejadian atau peristiwa tersebut.

Adapun simulasi skenario tersebut disesuaikan dengan asumsi kejadian-kejadian ataupun risiko-risiko yang ekstrem yang dapat terjadi pada bisnis entitas tersebut.

Hasil pengujian melalui stress testing dapat digunakan oleh entitas untuk mengidentifikasi profil risiko entitas tersebut atas eksposur atau kemungkinan terjadinya risiko di mana kemungkinan terjadinya risiko tersebut kecil atau tidak signifikan namun apabila kondisi krisis tersebut terjadi maka akan berdampak besar pada perusahaan.

Berdasarkan identifikasi atas profil risiko entitas yang dihasilkan oleh pengujian stress testing, maka perusahaan dapat mengevaluasi kesesuaian tingkat toleransi risiko yang ditetapkan oleh entitas tersebut. Hasil stress testing dapat digunakan sebagai dasar untuk menguji kerentanan aset entitas dan kecukupan alokasi modal yang dimiliki oleh entitas atas kemungkinan terjadinya kejadian yang merugikan entitas secara signifikan.

Selain itu, manfaat lainnya adalah entitas dapat menggunakan hasil pengujian stress testing tersebut untuk menyusun dan merencanakan tahapan strategi bisnis terkait dengan cara entitas untuk mengatasi krisis dan menentukan rencana tindak lanjut yang dibutuhkan untuk menangani krisis tersebut.

Berdasarkan Committee on The Global Finance (2005), formulasi stress testing dapat menggunakan pengujian melalui uji skenario dengan dua pendekatan, pendekatan pertama adalah dengan menggunakan portfolio driven approach, sebuah metode dengan mengindentifikasi terlebih dahulu parameter-parameter risiko yang akan berubah yang menyebabkan kerugian pada portofolio aset, kemudian dapat diidentifikasikan kejadian atau kondisi apa sajakah yang menyebabkan perubahan pada parameter-parameter risiko tersebut.

Pendekatan kedua adalah dengan menggunakan event driven approach, yaitu dengan mengidentifikasi terlebih dahulu sumber atau penyebab terjadinya risiko yang memengaruhi kondisi pasar keuangan dan kemudian mengukur berapa besar perubahan dalam parameter risiko tersebut akibat terjadinya kejadian tersebut.

Pengujian lainnya adalah dengan menggunakan uji sensitivitas, dengan mengukur seberapa sensitif parameter risiko tersebut terhadap setiap faktor risiko yang terjadi pada basis data historis yang dimiliki oleh entitas tersebut. Salah satunya adalah dengan menguji sensitivitas parameter risiko atas perubahan kondisi IHSG atau suku bunga dalam kurun waktu lima hingga sepuluh tahun terakhir.

Adapun penetapan pengujian stress testing suatu entitas memiliki karakteristik yang berbeda dengan entitas lainnya karena ukuran dan kompleksitas entitas yang dimiliki oleh masing-masing entitas itu sendiri.

Penerapan stress testing yang efektif dapat membantu entitas dalam mengoptimalkan manajemen risiko yang efektif dengan mengupayakan adanya penerapan contingency plan, khususnya dari sisi keuangan berdasarkan hasil stress testing serta menggunakan hasil stress testing dalam penetapan limit toleransi risiko.