Tiga Kunci Sukses Mengelola Atasan

Bawahan harus memahami sasaran dan pekerjaan tersebut. Tidak ada salahnya bawahan bertanya kepada atasan mengenai agenda prioritas mereka.

ACHMAD FAHROZI
Odoo image and text block



Oleh: Achmad Fahrozi, M.M. – HR Consultant, Organization Development Services PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah Sindo Weekly No. 38 Tahun VII, 19-25 November 2018, p. 82

Jika karyawan memiliki masalah dengan atasan, mereka akan merasa kurang nyaman dalam bekerja. Terlebih jika setiap hari dirinya bertemu dan berinteraksi dengan atasan. Dampak yang lebih besar, karyawan bisa demotivasi. Tak jarang mereka segera ingin cepat dimutasi ke unit lain atau berdoa agar segera punya atasan baru.

Dalam bekerja, karyawan memiliki atasan dengan situasi yang berbeda-beda. Ada karyawan yang bekerja dengan satu atasan yang sama dalam kurun waktu lama. Ada juga yang bekerja dengan beberapa atasan sekaligus dalam satu periode waktu. Namun ada juga yang bekerja dengan atasan yang berganti-ganti. Dalam setahun, seorang karyawan bisa bekerja dengan 2 hingga 3 atasan yang berbeda.

Para atasan memiliki karakter dan gaya memimpin yang berbeda-beda. Ada atasan yang progresif, lincah, dan berorientasi pada kecepatan serta hasil kerja. Ada atasan yang sangat hati-hati. Mereka sangat mempertimbangkan banyak risiko, kecepatan kerja tidak menjadi prioritas, yang penting aman. Ada juga yang sangat menuntut, perfeksionis, dan memegang kendali penuh pada bawahan. Namun, ada pula yang cuek seolah tidak peduli dengan bawahannya.

Praktiknya, bawahan tidak bisa memilih dengan atasan mana dia akan bekerja sama. Begitu organisasi menetapkan, mau tidak mau dan suka tidak suka mereka harus menerima pilihan organisasi. Beruntung jika mendapat atasan yang sesuai dengan seleranya. Sebaliknya, menjadi menjadi masalah jika atasan jauh dari harapannya.

Lalu bagaimana menyikapi realita tersebut? Peran atasan-bawahan seharusnya tidak hanya dimaknai sebatas struktur hierarki dalam organisasi, tetapi juga dimaknai sebagai hubungan yang saling bergantung dan membutuhkan.

Berikut ini adalah tiga kunci sukes dalam mengelola atasan. Pertama, pahami gaya memimpin atasan. Bawahan perlu memiliki pemahaman yang cukup mengenai gaya memimpin atasan. Patti Hathaway dan Susan D. Schubert dalam bukunya Dealing with Difficult Boss menjelaskan bahwa ada empat tipe atau gaya atasan dalam memimpin. Pertama, steady. Ciri-ciri atasan ini mapan, menghindari kejutan, rutin, rinci dan prosedural. Kedua, trendsetter.Karakter atas ini adalah percaya diri, kreatif, cenderung melakukan terobosan, dan berani menanggung rIsiko. Ketiga, outgoing. Ciri-ciri atasan ini adalah fleksibel, mudah bergaul dengan orang lain, respons baik, sering kehilangan fokus, serta mudah percaya pada orang lain. Keempat, perfeksionis. Ciri-cirinya teratur, sempurna, mengharapkan semua orang menjadi ahli, kritikus, tuntutan tinggi, dan tidak menyukai kekacauan.

Setelah memahami, bawahan bisa menyesuaikan perilaku atau tindakan dalam berinteraksi dan menghadapi atasan. Kalau atasan dinamis, cepat, kreatif, percaya diri, bawahan harus mengimbangi dengan segala kemampuan. Mereka harus mengikuti kecepatan dan kreativitas atasan.

Kedua, pahami agenda prioritas atasan. Setiap atasan memiliki agenda prioritas yang menjadi fokus perhatiannya. Agenda prioritas tersebut merupakan sekumpulan sasaran atau pekerjaan yang harus dicapai dan diselesaikan. Bawahan harus memahami sasaran dan pekerjaan tersebut. Tidak ada salahnya bawahan bertanya kepada atasan mengenai agenda prioritas mereka.

Ketiga, pahami gaya komunikasi atasan. Komunikasi merupakan aktivitas paling banyak dilakukan dalam interaksi bawahan dan atasan. Sangat penting memahami karakteristik dan gaya komunikasi atasan. Dalam berkomunikasi, atasan cenderung fokus pada tujuan, to the point, tanpa basi-basi atau cenderung sistematis, terorganisir dengan analisis yang dalam. Bawahan perlu menyesuaikan gaya komunikasi dengan atasan.

Kemudian, pahami media yang senang digunakan atasan untuk berkomunikasi. Apakah melalui surel, WhatsApp, bicara langsung via telpon, dalam pertemuan semacam rapat, atau tatap muka langsung? Jika atasan senang dengan komunikasi tatap muka langsung secara khusus, bawahan bisa menggunakan cara ini untuk mendiskusikan pekerjaan, meminta persetujuan, menjual ide dan  hal lainnya.