Mencari Jalan Menuju Jurusan Idaman

NOVERI MAULANA
Odoo image and text block

 

 

Oleh: Noveri Maulana - Dosen PPM School of Management Alumni Program Indonesia Mengajar

*Tulisan ini dimuat di Media Indonesia (27/03)

Fenomena salah jurusan tidak saja terjadi pada angkutan umum, namun juga banyak dialami oleh calon mahasiswa ketika memilih tempat kuliahnya. Salah jurusan dalam perjalanan tentu akan membawa Kita menuju tempat yang tak diharapkan. Begitu juga ketika salah memilih jurusan perkuliahan, tentu akan membawa Kita pada hidup tak bertujuan. Dan, fenomena ini banyak melanda generasi muda masa kini, generasi yang mudah galau dan cenderung labil dalam menentukan keputusan.

Kegalauan dalam memilih jurusan perkuliahan akan berdampak pada rencana hidup jangka panjang. Selain krisis kenyamanan semasa pendidikan, salah jurusan juga akan menghasilkan lulusan tanpa keahlian. Alih-alih menjadi ahli pada bidang yang dipelajari, korban salah jurusan justru hanya akan menambah beban hidup di kemudian hari. Salah jurusan terjadi ketika harapan tak sesuai kenyataan. Harapan kuliah pada bidang ilmu kedokteran, namun harus menerima kenyataan bahwa nilai ujian tak mendukung pilihan. Akhirnya, melanjutkan kuliah pada jurusan yang dipilih secara sembarangan. Ini lah salah satu potensi barisan salah jurusan.

Memilih jurusan perkuliahan secara sembarangan, apalagi “asal kuliah”, tentu akan berpotensi besar untuk menyesal. Salah jurusan biasanya dialami oleh orang yang menjalani perkuliahan pada tempat yang tak diinginkan. Ingin kuliah di kampus yang sama dengan sahabat semasa sekolah, tapi orangtua memilih kampus favorit di kota sebelah. Akhirnya, banyak anak muda yang terjebak pada fenomena salah jurusan. Karena salah jurusan adalah wujud dari rendahnya komitmen dalam menjalani pilihan yang sudah ditetapkan.

Memilih jurusan bukan perkara mudah atau sebuah pilihan dengan jawaban “terserah”. Sebagai remaja yang beranjak dewasa, para pencari jurusan idaman harus bisa memutuskan mau kuliah apa dan di kampus mana. Pilihannya adalah bukti atas layaknya Ia menginjak fase pendewasaan dari siswa menjadi Mahasiswa. Jika menentukan jurusan yang diminati saja mereka masih susah, bagaimana bisa menentukan pilihan hidup yang lebih menantang di masa depan? Maka, beranilah memilih dan mengambil keputusan.

Oleh karena itu, agar tidak salah memilih jurusan, para pemburu jurusan idaman ini perlu mempelajari seluk beluk dunia kampus dan sistem perkuliahan. Banyak korban salah jurusan dikarenakan salah memahami informasi perkuliahan. Jurusan Teknologi Informasi tidak sama dengan Jurusan Ilmu Komunikasi. Kuliah Ilmu Ekonomi tidak sama dengan Kuliah Manajemen Bisnis. Dan, belajar di jurusan Ilmu Kelautan tidak sama dengan Ilmu Teknik Perkapalan.

Ternyata, informasi dasar ini saja masih banyak yang belum mereka kuasai. Terkadang, para generasi millennials ini memilih jurusan hanya berdasarkan banyak sedikitnya jumlah pendaftar, atau gengsi untuk mencapai passing grade ketika ujian percobaan (try out) di Lembaga kursus pendidikan. Padahal, semakin mengenali jurusan, maka akan semakin matang dalam mengambil keputusan.

Adapula yang memilih jurusan karena niat berbakti pada orangtua semata. Berbakti kepada orangtua adalah kewajiban, tapi menentukan pilihan jurusan adalah proses diskusi dan kesepakatan. Ini yang banyak menjadi perdebatan di beberapa keluarga. Tidak sedikit orangtua yang terobsesi untuk menentukan pilihan jurusan untuk anak-anaknya. Padahal, minat dan bakat anak belum tentu sesuai dengan keinginan orangtua. Bukankah rasa sayang terbaik itu ialah dengan memberi ruang bagi anak untuk berkembang? Maka, perlu diskusi dan saling memahami.

 

Lantas, bagaimana cara memilih agar tidak salah jurusan?

Ada banyak cara untuk memastikan bahwa Anda tidak menjadi bagian dari barisan salah jurusan. Komitmen tinggi dan kesadaran pasti adalah awal yang dibutuhkan. Komitmen untuk terus konsisten atas pilihan yang sudah ditetapkan. Dan, kesadaran pasti bahwa konsekuensi dari tiap pilihan adalah sebuah kepastian yang harus dijalankan. Ilmu ikhlas perlu dipahami secara berkesinambungan.

Memahami keinginan dan kebutuhan juga perlu dikembangkan. Jangan sampai, memilih jurusan hanya sekadar keinginan, bukan melihat kebutuhan. Keinginan dan kebutuhan adalah dua sisi koin yang saling berhubungan. Seringkali keinginan bicara jangka pendek, sedangkan kebutuhan bicara jangka Panjang. Dan di sinilah tantanganya bermula. Para pemburu jurusan idaman cenderung mengedepankan keinginan daripada kebutuhan. Padahal dunia kerja dan prediksi orangtua seringkali bicara pada tataran kebutuhan. Entah itu kebutuhan pengembangan diri, atau kebutuhan dunia karir dan profesi.

Pemahaman kebutuhan dan keinginan ini perlu diselaraskan dengan faktor eksternal dan internal. Kebutuhan eksternal terkait peluang kerja dan pengembangan karir yang akan dijalani nanti. Sedangkan kebutuhan internal berbicara soal minat dan bakat si calon mahasiswa. Transformasi dunia kerja saat ini banyak melahirkan jenis pekerjaan baru, membutuhkan keahlian baru, dan juga membuka peluang bagi ide dan kreativitas masa kini. Model bisnis baru turut menghadirkan jenis pekerjaan yang berbeda dengan yang ada sebelumnya. Sebut saja industri kreatif yang membutuhkan para ahli di bidang IT, ahli bidang digital, dan para anak muda kreatif dalam melahirkan konten yang menarik. Pun begitu, dunia kerja masa kini juga banyak menghilangkan profesi yang dulu jadi idaman.  Profesi surveyor dan peneliti sudah mulai tergantikan dengan banyaknya kehadiran bigdata dan digital analis masa kini. Profesi jurnalis sudah banyak tergantikan dengan sistem citizen journalist yang bisa melibatkan siapa saja. Dan banyak profesi lainnya yang sudah mulai tergerus oleh perkembangan teknologi dan industri. Maka, perlu analisis yang mendalam terkait pilihan jurusan yang diidamkan. Jangan sampai, Anda memilih jurusan yang justru sulit diserap oleh dunia pekerjaan.

Bagaimana kalau Anda masih belum begitu yakin dengan minat, bakat, serta rencana masa depan? Maka pilihlah jurusan yang cukup ramah dengan berbagai profesi. Ada beberapa jurusan yang dibutuhkan oleh segala jenis pekerjaan dan industri. Misalnya, jurusan manajemen. Apapun industri di masa depan, tentu membutuhkan ilmu manajemen dalam pengelolaan organisasi bisnisnya. Entah itu mengelola rumah sakit, mengelola bisnis teknologi, mengembangkan bisnis kreatif, start up, dan banyak jenis pekerjaan lainnya yang tidak bisa dilepaskan dari ilmu manajemen. Tentu, hal ini bisa menjadi salah satu alternatif bagi mereka yang masih belum bisa memantapkan hati.

Lalu, ketika pilihan sudah mulai kelihatan, maka langkah selanjutnya ialah memilih lokasi atau tempat kuliah. Kampus favorit belum tentu menyuguhkan jurusan yang diidamkan. Padahal, seringkali calon mahasiswa selalu melihat nama besar kampus dan akhirnya terjebak pada status populernya. Tidak sedikit pula yang akhirnya sadar dan putus perkuliahan di tengah jalan. Alasannya simpel, merasa tidak cocok dengan metode pembelajaran, atau tidak nyaman dengan lingkungan dan pergaulan.

Akreditasi dan kualitas pembelajaran bisa jadi pertimbangan. Walau terkadang ada kampus yang telah memiliki akreditasi baik namun sebagian lulusannya juga masih belum sesuai harapan. Kualitas pembelajaran juga harus memerhatikan aspek pengembangan kompetensi soft skill dan juga keahlian hard skill. Solusinya? Jangan hanya lihat kampusnya semata, tapi juga pelajari kurikulum dan metode pembelajarannya. Lebih baik menghabiskan waktu untuk riset di awal daripada gagal di belakangan, bukan? Maka, perbanyaklah membaca dan bertanya.

Proses pencarian jurusan idaman memang membutuhkan waktu yang panjang, tidak bisa dilakukan tanpa penuh keseriusan. Pilihan saat ini akan berdampak pada perjalanan hidup di masa yang akan datang. Sekali mengambil keputusan, maka beragam konsekuensi akan datang menjelang.

 

Selamat berproses, selamat memilih sang idaman, semoga Anda tidak salah jurusan!

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.