E-Trust, Mata Uang Baru di Dunia Digital Finance

E-Trust, Mata Uang Baru di Dunia Digital Finance

Bayangkan sepuluh tahun lalu. Untuk membuka rekening, kita harus bangun pagi, antre di bank, mengisi banyak formulir, dan menunggu berhari-hari hingga kartu ATM tiba di rumah. Apalagi untuk investasi, prosesnya jauh lebih rumit.

Namun semua itu berubah dalam satu dekade terakhir. Hanya berbekal ponsel pintar, proses yang dulu memakan waktu panjang kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Membuka rekening, mengajukan pinjaman online, bahkan mulai berinvestasi, cukup lewat aplikasi—verifikasi melalui selfie.

Teknologi finansial (fintech) tidak hanya menyederhanakan proses, tetapi juga mengubah perilaku kita dalam mengelola uang. Pertanyaannya: bagaimana masyarakat bisa begitu percaya melakukan aktivitas finansial yang sensitif hanya melalui “layar ponsel”?

Di titik ini kita melihat satu variabel yang sering luput: kepercayaan digital. Percaya pada sesuatu yang “tidak berwujud” memang tidak mudah.

Uniknya, justru di ruang serba tidak kasatmata itulah banyak orang berani mengelola uang, data, dan keputusan investasi. Ada bentuk kepercayaan baru yang tumbuh — kepercayaan yang tidak lagi bertumpu pada kantor fisik, tetapi pada pengalaman, persepsi risiko, serta keyakinan pada sistem digital. Inilah yang kerap disebut e-trust.

E-Trust: Fondasi Psikologis Keputusan Finansial Digital

Dalam konteks digital, kepercayaan menjadi faktor penentu yang nyaris tak terlihat. Pengguna tidak bertemu teller bank, tidak datang ke cabang, dan tidak berinteraksi langsung dengan manusia. Yang mereka temui adalah ikon aplikasi, UI/UX, notifikasi, dan angka-angka di layar.

Penelitian yang dilakukan oleh Dragan et al. (2025) dan Hamdan et al. (2025) menjelaskan e‑trust sebagai keyakinan pengguna bahwa platform digital aman, kredibel, dan dapat diandalkan sehingga mereka berani mengambil keputusan finansial secara online.

Penulis bersama tim juga telah melakukan riset mengenai faktor-faktor apa saja yang menjadi penentu niat investasi digital.

Riset tersebut dilakukan dengan mewawancarai beberapa narasumber berdasarkan karakteristik tertentu, yaitu berusia 20-40 tahun, pengguna finansial digital, dan sudah memiliki produk finansial digital. Hasil dari riset mengemukakan beberapa faktor yang menjadi penentu niat investasi digital, di mana salah satunya adalah e-trust.

Dari wawancara dengan para pengguna, e-trust terbentuk dari empat dimensi kunci yang saling terkait — layaknya pilar bangunan yang menopang perilaku pengguna di dunia digital finance. Keempat pilar ini pada akhirnya memengaruhi niat seseorang untuk mulai, lalu melanjutkan, investasi digital.

Karena itu, perusahaan finansial digital perlu memberi perhatian serius pada empat pembentuk e-trust tersebut agar pelanggan memiliki keyakinan penuh menggunakan platform—mulai dari pertama kali login hingga berani melakukan transaksi bernilai. Keempatnya menjadi landasan emosional sekaligus rasional dalam pengambilan keputusan finansial di ranah digital.

Gambar 1. Kerangka Konseptual dari E-Trust

Empat Pilar Pembentuk E-Trust

1) Platform security

Bagi banyak pengguna, keamanan adalah syarat pertama sebelum mereka berani memakai aplikasi finansial. Wawancara menunjukkan bahwa pengguna cenderung percaya ketika mereka yakin data, uang, dan aktivitas transaksi benar-benar aman.

Banyak responden menekankan bahwa mereka percaya pada platform yang:

– tidak menyalahgunakan informasi keuangan pengguna,

– menjaga data akun dan transaksi dengan baik,

– menggunakan sistem terenkripsi,

– memiliki proteksi penipuan, dan

– mampu memulihkan data jika terjadi error.

Keamanan juga membentuk kenyamanan. Salah satu responden mengatakan ia merasa lebih aman menggunakan aplikasi digital finansial internasional karena dianggap lebih “teruji”. Di sisi lain, ada pengguna yang tetap bertahan dengan platform lokal karena merasa terlindungi oleh pengawasan regulator.

2) Peer testimony

Di investasi digital, masyarakat sering kali lebih percaya pada pengalaman sesama pengguna daripada kampanye pemasaran. Banyak calon pengguna mencari informasi di media sosial, membaca review di Play Store/App Store, hingga mengikuti forum diskusi komunitas.

Bagi sebagian responden, langkah ini belum cukup. Mereka memastikan kembali dengan bertanya pada orang-orang terdekat — teman, rekan kerja, atau keluarga — yang dianggap lebih paham. Ada yang secara jujur mengatakan, “Kalau ditanya kenapa berani? Karena teman.” Ketika rekomendasi datang dari sosok yang dianggap kredibel — misalnya auditor — rasa percaya pun menguat.

Testimoni sesama investor memberi gambaran nyata tentang kelebihan, kekurangan, dan risiko platform. Tidak heran jika banyak responden cenderung memilih platform yang direkomendasikan oleh teman atau komunitas, bukan dari iklan.

3) Platform reputation

Dalam memilih aplikasi finansial digital, reputasi menjadi kompas. Banyak pengguna menilai usia operasi, tingkat dikenal luas, dan kesan stabilitas. Sebagian responden mengaku menghindari platform baru — meskipun biaya lebih murah — karena reputasinya belum terbentuk.

Ukuran platform juga ikut memengaruhi rasa percaya. Platform dengan basis pengguna besar dan volume transaksi tinggi sering dianggap lebih aman karena “sudah teruji”. Responden juga lazim mengecek internet untuk memastikan reputasi, misalnya melalui ulasan, pemberitaan, atau rekam jejak brand.

Intinya, pengguna cenderung percaya pada platform yang sudah lama beroperasi, penggunanya banyak, sering direkomendasikan, dan memiliki brand perusahaan yang kuat.

4) Asset credibility

Selain menilai platform, pengguna juga menilai “apa yang dijual” oleh platform. Mereka menginginkan aset yang jelas tujuan dan fungsinya, mudah dipahami, dan punya manfaat yang bisa dijelaskan secara rasional. Jika asetnya terasa “nggak jelas”, risiko dianggap lebih besar.

Sejumlah responden menyinggung aset kripto sebagai contoh: ketika ada tokoh/CEO yang bermasalah, harga aset dapat langsung bergejolak dan memicu kekhawatiran. Artinya, siapa yang berada di balik aset juga memengaruhi rasa aman.

Dari wawancara, pengguna cenderung mau berinvestasi pada aset yang:

– memiliki legalitas dan regulasi jelas,

– punya rekam jejak kinerja yang transparan,

– informasinya lengkap dan bisa diverifikasi, dan

– dikelola oleh pihak yang terpercaya.

Aset yang kredibel membantu pengguna merasa “tahu apa yang dibeli” dan memprediksi risikonya. Semakin jelas sebuah aset, semakin kuat rasa percaya yang terbentuk.

Dari login ke margin, semua dimulai dari kepercayaan

Dalam ekosistem finansial digital, keputusan tidak lagi digerakkan semata oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh seberapa kuat kepercayaan yang berhasil dibangun. E-trust bukan sekadar istilah akademik; ia adalah realitas psikologis yang menggerakkan perilaku finansial generasi hari ini.

Karena itu, bagi perusahaan digital finance, empat pilar di atas bukan checklist kosmetik. Ia perlu hadir konsisten sejak pengguna pertama kali mengunduh aplikasi, login, melakukan verifikasi, sampai berani menempatkan dana dan bertahan sebagai pengguna aktif.

Pada akhirnya, di dunia yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, e-trust dapat menjadi “mata uang” paling bernilai. Ia bernilai tinggi ketika dibangun dengan konsistensi, transparansi, keamanan yang kuat, serta komunikasi yang jujur dan akan cepat tergerus ketika salah satunya diabaikan.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Baca Juga

Gusti Ayu Made Hanny Dian Savitri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *