Apa Kabar Pelabuhan Patimban?

Keberadaan Pelabuhan Patimban dapat memangkas biaya distribusi di Jawa Barat hingga hampir lima kali lipat karena banyak pelaku industri terkonsentrasi di sekitar Karawang, Tangerang, Subang, dan Purwakarta.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block



Oleh: Ricky Virona MartonoTrainer, Executive Development Services  PPM Manajemen

*Tulisan ini dimuat di Majalah SindoWeekly No. 02, Tahun VIII, 11-17 Maret 2019, p. 82

Sebagai tindak lanjut pembangunan Jalur Laut Cikarang-Bekasi, langkah lain untuk mengurangi beban Tol Jakarta-Cikampek adalah dengan Pembangunan Pelabuhan Patimban, Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang terhubung dengan Bandara Kertajati di Majalengka. Langkah ini didukung oleh pembangunan infrastruktur hinterland berupa pembangunan jalan tol.

Peran lain dari Pelabuhan Patimban adalah pendukung beban dari Pelabuhan Tanjung Priok yang kapasitasnya pada 2017 sebanyak enam juta TEUs. Menurut Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi, jumlah ini tidak mencukupi jika harus menampung seluruh angkutan logistik yang naik setiap tahunnya.

Sementara itu, peran Bandara Kertajati adalah pusat logistik seperti Alibaba dan sebagai bandara keberangkatan haji untuk kawasan Bandung, Cirebon, dan sekitarnya. Artinya, beban penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta otomatis berkurang.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, keberadaan Pelabuhan Patimban dapat memangkas biaya distribusi di Jawa Barat hingga hampir lima kali lipat karena banyak pelaku industri terkonsentrasi di sekitar Karawang, Tangerang, Subang, dan Purwakarta. Alhasil, jalur distribusi dari Pelabuhan Tanjung Priok dapat dipotong.

Pembangunan Pelabuhan Patimban diharapkan selesai pada akhir tahun 2019 dengan investasi sebesar Rp43,22 triliun. Dari angka tersebut, sebesar 83%-nya berasal dari pinjaman JICA (Jepang). Integrasi antara komponen distribution mix (fasilitas, transportasi, inventori, unitisasi, sistem informasi) memang mutlak diperlukan, terutama antara fasilitas (pabrik, gudang, pelabuhan, bandara, terminal) dengan transportasi (moda transportasi, infrastruktur jalan raya, jalur kereta) mengingat biaya dari kedua komponen ini memegang peranan sekitar 65% dari keseluruhan biaya logistik (Herb Davis Associates, 2002).

Integrasi antara Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati sangat tepat dalam menjawab efisiensi biaya logistik.  Efisiensi pertama, barang (inventori) tidak perlu menunggu lama untuk dikirim karena gudang langsung terhubung jalan tol. Di sini, fungsi gudang tercapai, yaitu sebagai tempat penyimpanan sementara dan mengurangi risiko-risiko inventori rusak dan hilang. Kedua, lead time pengiriman ke gudang lebih cepat dan terukur karena terhindar dari kemacetan di jalan tol Jakarta. Ketiga, mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat akibat tersedianya gudang skala besar di Kertajati.

Keempat, mendorong efisiensi moda transportasi intermodal antara moda laut (melalui pelabuhan), darat (truk), dan udara (bandara). Terakhir atau kelima, mendorong pembangunan yang terintegrasi antara pelabuhan dan gudang melalui akses transportasi serta infrastruktur hinterland yang efisien.

Meskipun Pelabuhan Patimban efektif sebagai penopang beban logistik di wilayah Jakarta, perlu diingat bahwa fungsi Pelabuhan Patimban adalah feeder (pengumpan) untuk Pelabuhan Tanjung Priok yang berperan sebagai hub dalam jalur tol laut serta sebagai titik utama ekspor impor.

Akibatnya, Pelabuhan Patimban hanya akan disinggahi oleh kapal berukuran kecil dan sedang sehingga jumlah barang yang melalui Patimban terbatas. Penambahan jumlah barang yang dikelola Patimban hanya dapat diakomodasi dengan penambahan frekuensi kedatangan kapal meski kedalamannya harus ditambah di masa depan.

Proses ekspor dan impor membutuhkan waktu karena harus melalui Tanjung Priok. Alhasil, Patimban sebagai fungsi feeder harus efisien dalam mengelola barang yang melalui Provinsi Jawa Barat dan integrasi transportasi laut yang efisien dengan Tanjung Priok. Efisien di sini termasuk proses birokrasi di pelabuhan dan proses pemindahan barang, proses pemuatan dan penurunan barang dari moda transportasi yang satu ke moda transportasi yang lain. Tujuannya agar lead time dan biaya pengiriman barang melalui Patimban dapat bersaing dengan Tanjung Priok. Jika tidak, sulit untuk mencapai efisiensi biaya Logistik.

Ke depan, akses dari pelabuhan ke bandara perlu didukung oleh jalur kereta sebagai sarana perpindahan barang dan manusia mengingat selama ini pembangunan jalan tol selalu diikuti pembangunan pemukiman serta sarana umum disekitarnya. Tentunya hal ini mendorong pertambahan populasi dan perputaran barang sehingga berpotensi menimbulkan macet di kemudian hari. Bandara Kertajati pun perlu menyediakan akses penumpang berbasis rel dengan kota-kota di sekitarnya guna menghindari bertambahnya beban jalan menuju bandara.