Menanti Direksi Menyapa di Masa Pandemi

Kehadiran Pemimpin yang dapat dirasakan karyawannya adalah hal utama. Pemimpin, Direktur, ataupun Presiden perlu terus menyapa, mengajak, dan mendorong karyawannya agar terus mempertahankan semangat kerja.

RICKY VIRONA MARTONO
Odoo image and text block



Oleh: Ricky Virona Martono – Core Faculty PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di SWA Online

 

Atasan tidak dapat berasumsi kalau bawahannya tahu apa yang harus dilakukan.Bawahan perlu diyakinkan kalau atasan paham apa yang perlu dilakukan.

Masa Pandemi Covid-19 sudah berlangsung sejak 2020 dan dampak-dampaknya terhadap kegiatan perekonomian semakin tidak terelakkan. Ketika masyarakat diminta untuk tetap di rumah, perputaran uang menurun, dan akhirnya selama tahun 2020 seluruh dunia mengalami resesi ekonomi. Pada tingkat industri, kecuali industri terkait teknologi informasi, semua perusahaan mengalami penurunan pendapatan.

Di sisi lain, tentu kita berharap kalau kegiatan perekonomian akan membaik. Sebelum mencapainya, setiap perusahaan perlu bertahan dan mencari inovasi-inovasi baru untuk mempertahankan kegiatan operasionalnya.

Kehadiran Pemimpin yang dapat dirasakan karyawannya adalah hal utama. Pemimpin, Direktur, ataupun Presiden perlu terus menyapa, mengajak, dan mendorong karyawannya agar terus mempertahankan semangat kerja.

Dikutip dari Harvard Business Review edisi April 2020, What Good Leadership Looks Like During This Pandemic, oleh Michaela J. Kerrissey dan Amy C. Edmondson, menyebutkan empat poin tentang bagaimana peran Pemimpin Perusahaan dalam menghadapi masa krisis agar mampu memimpin karyawannya melewati masa krisis ini.

Yang pertama adalah Act with Urgency. Pemimpin perlu hadir ditengah-tengah karyawan dan menunjukkan sikap adanya kegawatan. Kehadiran ini tidak perlu secara fisik karena di masa Pandemi setiap orang sebisa mungkin tetap tinggal di rumah. Pemimpin perlu menyapa, menegur, menunjukkan bahwa mereka selalu hadir bersama bawahan, dan turut merasakan kesulitan dalam menghadapi krisis.

Dengan menyampaikan adanya kegawatan ini, Pemimpin perlu menunjukkan integritas bahwa cara bekerja perlu disesuaikan dengan keadaan, juga menunjukkan kepada bawahannya bahwa Pemimpin mempertahankan nilai-nilai perusahaan dan memiliki visi yang jelas terkait “badai” yang sedang dihadapi serta kekuatan yang dimiliki organisasi. Sehingga, bawahan yakin bahwa Pemimpin paham dan optimis melewati “badai”.

Kedua adalah Communicate with Transparency. Di sini perlu keberanian dan kebijaksanaan Pemimpin dalam menunjukkan kondisi Perusahaan kepada karyawan. Misalnya: turunnya tingkat pendapatan, keuntungan, bahkan bonus tahunan. Di sisi lain, Pemimpin perlu menunjukkan rencana antisipasi yang meyakinkan. Rencana ini secara berkala perlu disampaikan progresnya kepada seluruh karyawan. Dampaknya adalah bawahan percaya bahwa atasannya mampu diandalkan.

Poin ketiga adalah Respond Productively to Missteps. Di masa normal pun Pemimpin harus mengarahkan bawahannya untuk menjadi problem solver, bukan menyalahkan orang lain. Kesalahan karyawan perlu diluruskan setelah masalah selesai, tanpa adanya kecenderungan memojokkan karyawan yang menyebabkan masalah muncul. Pemimpin harus mengajak dan merangkul karyawan agar fokus pada tujuan untuk menghadapi krisis. Dengan demikian, bawahan merasa nyaman dengan potensi Pemimpin.

Poin terakhir adalah Engage in Constant Updating. Pemimpin harus menunjukkan sikap konsisten dan persisten dalam fokus menghadapi rintangan, dan siap sedia untuk beradaptasi dengan situasi melalui strategi-strategi baru yang solutif. Kebijakan-kebijakan yang kontra produktif di masa krisis perlu ditangguhkan, bahkan dihapus sama sekali, misalnya kebijakan perekrutan karyawan administrasi.

Sesekali atasan perlu turun dan membantu pekerjaan karyawan satu sampai dua level dibawahnya, agar semua pihak mampu bertahan dengan sumber daya yang tersedia. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kepada bawahan bahwa Pemimpin konsisten dan terus peduli selama masa krisis.

Untuk mempertegas keempat poin di atas, Pemimpin dapat memanfaatkan program rutin yang sudah menjadi kebiasaan organisasi, misalnya program rutin bulanan seperti: “Blusukan”, “Leadership Borderless”, ataupun program “Direksi Menyapa”.

Dengan pembiasaan setiap poin di atas selama menghadapi masa krisis, diharapkan semangat optimis ini menjadi budaya organisasi dan diresapi oleh setiap karyawan. Sehingga setelah nanti badai berlalu karakter seorang Pemimpin organisasi menjadi semakin kuat. Karyawan pun percaya kalau Pemimpinnya telah bekerja dengan sangat baik.


Artikel Manajeme terkait:

Ricky Virona Martono - Pesangon Tidak Turun Karena UU Ciptaker

Ricky Virona Martono - Masa Depan Supply Chain: Persaingan Antar Platform

Ricky Virona Martono - Cara Terbaik Memotong Gaji

Ricky Virona Martono - Tourism Supply Chain

Ricky Virona Martono - Rantai Pasok dan Identitas Negara 

Ricky Virona Martono - Tantangan Supply Chain Vaksin Korona di Indonesia

Ricky Virona Martono - Strategi Efisiensi di Tengah Krisis Ekonomi

Ricky Virona Martono - Logistik Militer: Perang Era Modern

Ricky Virona Martono - Supply Chain Masa Pandemi: Masih Strategi Jadul

Ricky Virona Martono - Peluang di Kutub Utara

Ricky Virona Martono -  "City Transportation" di Indonesia

Leave a comment

You must be logged in to post a comment.