Mengembangkan Microlearning

Setidaknya terdapat 3 elemen kunci ketika organisasi ingin membangun Microlearning sebagai strategi dan desain pembelajaran dalam organisasinya, yaitu specific, action, dan integrated.

RAHADI CATUR YUWONO
Odoo image and text block




Oleh: Rahadi Catur Yuwono M.M. Marketing Manager Online Learning PPM Manajemen


*Tulisan ini dimuat di Majalah Manajemen, Januari 2019, hlm. 58-59

Sebuah survei mengungkapkan bahwa 7 dari 10 karyawan yang ingin belajar untuk meningkatkan kemampuannya dalam menjalankan tugas, yang pertama kali mereka lakukan adalah mencari informasi melalui Google. Memang ini merupakan cara yang paling praktis. Tetapi pertanyaannya adalah apakah efektif?

Fakta yang sering dihadapi, ketika membuka mesin pencari Google, informasi yang masuk begitu banyak. Sangat sulit bagi mereka menemukan pilihan materi pembelajaran yang dibutuhkan. Akibatnya hanya melihat headline-nya saja, tidak mendapakan apa-apa, dan berujung pada frustasi.

Ironisnya, masih menurut survei tersebut, di sisi lain, satu sampai dua orang, hanya mengandalkan sumber internal organisasi untuk memburu materi pembelajaran.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kebiasaan manusia dalam organisasi tersebut dalam belajar juga berubah. Teknologi telah mengubah pola dan cara mencari informasi yang dapat membantu mereka untuk menyelesaikan pekerjaan. Itulah sebabnya organisasi perlu beradaptasi dengan menggunakan pendekatan baru dalam mengembangkan karyawan.

Organisasi perlu membantu karyawan mendapatkan pengetahuan atau keterampilan untuk menyelesaikan pekerjaannya, bukan membiarkan mereka mencari sumber di luar naungan organisasi. Sungguh disayangkan.

Microlearning

Lalu cara baru seperti apa yang dapat membantu organisasi beradaptasi dengan perkembangan teknologi pada tataran learning and development? Menurut Ron Zamir, salah seorang pakar E-Leraning, seiring dengan masifnya volume informasi dan meningkatnya kemudahan akses informasi tersebut, organisasi perlu mengembangkan pendekatan baru.

Arus dan keterbukaan informasi akibat teknologi tidak bisa lagi dikendalikan organisasi. Menurutnya, organisasi perlu mengembangkan metode pembelajaran yang sifatnya personal dan mengandung ilmu yang spesifik dan relevan dengan kebutuhan karyawan secara cepat.

Metode ini disebut sebagai microlearning. Bagaimana metode mengembangkan microlearning? Bagian pengembangan memilah-milah elemen mikro yang ada pada kurikulum pembelajaran. Peserta didik dapat memilih materi yang hanya paling relevan dengan kebutuhan dan tuntutan pekerjaan mereka. Pembelajaran ini berdurasi pendek, dengan satu sasaran spesifik, sifatnya konseptual maupun aplikasi.

Setidaknya terdapat 3 elemen kunci ketika organisasi ingin membangun Microlearning sebagai strategi dan desain pembelajaran dalam organisasinya: Elemen yang pertama adalah specific. Microlearning mempunyai tujuan pembelajaran yang spesifik terhadap suatu kinerja yang akan dicapai.

Satu modul microlearning mempunyai struktur pembelajaran yang terdiri dari satu pengenalan konsep, satu aktivitas yang harus dilakukan dan satu perubahan perilaku yang disasar. Dimana hal-hal tersebut menyasar secara spesifik pada satu tujuan kinerja yang akan dicapai.

Sebagai contoh, sebuah restoran cepat saji mengembangkan modul-modul mikro yang mempunyai tujuan mengurangi sampah makanan, mengurangi pemasakan ulang makanan dan lain sebagainya.

Elemen yang kedua adalah action. Microlearning mempunyai fokus terhadap suatu aktivitas tertentu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang spesifik, microlearning menggunakan satu aktivitas pembelajaran saja. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode gamiification, virtual reality, diskusi ataupun video animasi interaktif, namun aktivitas ini fokus pada satu konsep dan satu perilaku yang ingin dicapai.

Elemen yang ketiga adalah integrated. Microlearning tidak dapat berdiri sendiri. Microlearning harus menjadi bagian dari strategi pembelajaran yang lebih besar dan kompleks yang saling terintegrasi. Dalam hal ini organisasi perlu menentukan tujuan dan sasaran microlearning dalam keseluruhan desain pembelajaran (learning design) yang lebih komprehensif. 

Siapa yang perlu menerapkannya?

Pertanyaan selanjutnya, seperti apa karakteristiknya organisasi yang membutuhkan metode microlearning dalam program pembelajaran dan pengembangan karyawannya? Berikut beberapa faktor tersebut :

·      Produk atau jasa organisasi Anda sering melakukan modifikasi atau pembaharuan.

·      Memperkenalkan suatu sistem atau proses baru.

·      Bertujuan untuk mengelola perubahan

·      Sumber daya manusia pada perusahaan mempunyai tingkat pengetahuan dan keterampilan yang berbeda-beda.

Apakah organisasi Anda termasuk di dalam kriteria tersebut? Kalau iya, sudah saatnya Anda beradaptasi dengan metode tersebut. Selamat mencoba!