Selamat Datang Era Big-Data

Para ilmuwan di sejumlah perguruan tinggi baik di Asia, Eropa, maupun Amerika Serikat bahkan berpikir untuk memanfaatkan era ini dalam menciptakan perekonomian dunia yang lebih berkeadilan. Satu di antaranya adalah melalui pengembangan aplikasi fintech yang kini mulai popular di negara kita.

ARIES HERU PRASETYO
Odoo image and text block



Oleh: Aries Heru Prasetyo, Ph.D - Vice Dean Research and Innovation PPM School of Management

*Tulisan ini dimuat di Majalah BUMN Track No. 131, Tahun XI, Desember 2018, p. 22-23

Pada era industri 4.0, pertumbuhan bisnis turut dipicu oleh pemanfaatan teknologi tingkat tinggi dalam mengolah karakteristik konsumen. Sisi irasionalitas pasar yang dulu sering dipandang sebagai sebuah ‘black hole’ dalam ilmu pemasaran kini perlahan mulai transparan. Melalui tehnik data-mining, para data scientists (ilmuwan pengolah data) berhasil menggali informasi penting yang diambil dari karakter dasar konsumen di masing-masing wilayah.

Sebagai contoh, maraknya aplikasi fintech yang menyediakan layanan bak perbankan konvensional mini. Setelah melalui sejumlah fase analisis, penyedia platform mampu merumuskan kriteria khusus yang menyediakan fasilitas penilaian credit rating nasabah perseorangan hanya dalam hitungan menit. Logika prosesnya mengalir dari tarikan simpulan umum berupa karakteristik konsumen yang diambil dari database murni nasabah industri perbankan.

Elemen-elemen seperti gender, umur, rentang alokasi dana konsumsi, pendapatan per tahun, profesi hingga hobi dipelajari sedemikian rupa hingga menciptakan sebuah pohon keputusan yang kompleks. Pada fase selanjutnya, data-data tersebut dialihkan ke dalam pemrograman berbasis alogaritma menggunakan bahasa mesin yang lazim disebut dengan machine learning. Dan akhirnya, mesin jualah yang memberikan justifikasi untuk setiap putusan rating kredit yang diminta.

Satu perkembangan yang cukup menjanjikan adalah ketika dari sisi teknologi dan ilmu, machine learning ini kemudian diperkuat dengan teknologi artificial intelligent (AI) yang membuatnya berkembang dari satu fase ke fase yang jauh lebih kompleks. Lagi-lagi dengan menggunakan unsur matematika dan statistik, dimensi alogaritma akan membuat mesin mampu bertumbuh. Mereka akan terlihat semakin pintar dengan mampu membaca pikiran konsumen. Namun apakah yang sebenarnya terjadi di balik realitas tersebut?

Seorang taipan bisnis Jack Ma sering mengungkapkan pernyataan ini, “Perkembangan bisnis dewasa ini sudah dijalankan oleh mesin, namun yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengembangkan mereka yang memberikan bahasa perintah kepada mesin tersebut”. Inilah yang sebenarnya terjadi di era big-data. Tantangan terberat setelah satu artificial intelligent tercipta adalah bagaimana merumuskan pemikiran baru bagi AI masa depan. Mesin tak hanya diciptakan semata-mata untuk mempermudah kehidupan manusia, melainkan dirancang untuk menjadi mitra konsumen dalam bertumbuh mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik.

Para ilmuwan di sejumlah perguruan tinggi baik di Asia, Eropa, maupun Amerika Serikat bahkan berpikir untuk memanfaatkan era ini dalam menciptakan perekonomian dunia yang lebih berkeadilan. Satu di antaranya adalah melalui pengembangan aplikasi fintech yang kini mulai popular di negara kita. Aplikasi financial-technology yang kini mulai didukung penuh oleh sistem perbankan kita dipercaya menjadi tulang punggung pertumbuhan literasi keuangan kaum milenial.

Generasi yang diprediksi akan menjadi pemegang kendali ekonomi bangsa di delapan tahun ke depan ini secara tak langsung memperkaya dirinya melalui kedekatannya dengan dunia maya (internet). Tak hanya itu, mereka pun mengelola bisnisnya juga melalui internet. Di situlah peran AI akan menjadi sangat signifikan.

Satu prinsip yang menjadikan era baru ini semakin kompleks adalah adanya kesadaran dari kaum milenial bahwa perekonomian perlu dibangun melalui semangat “berbagi keahlian” atau yang dikenal dengan knowledge-sharing. Mereka tak berusaha untuk menguasai semua elemen namun mengkhususkan keahliannya pada satu titik tertentu yang membuatnya tampil sebagai pakar. Alhasil bagian yang lain diserahkannya kepada pihak lain.

Paparan realitas di atas menunjukkan betapa era big-data selalu ditopang oleh kekuatan manajemen pengetahuan yang sangat produktif. Karenanya para ilmuwan data (data scientist) turut berupaya untuk memeriahkan persaingan dengan secara aktif berkolaborasi dengan para pemain fintech.

Semua data yang kita masukkan saat menggunakan aplikasi akan secara otomatis dipelajari secara sistematis oleh mesin. Hasilnya pun cukup menjanjikan; Anda dapat melihat banyaknya variasi produk yang ditawarkan dan dapat diperoleh konsumen dengan cara yang sangat sederhana, bahkan tanpa pengorbanan yang besar seperti sebelumnya.

Sebagai contoh, kini aktivitas mencari informasi secara fisik dengan mendatangi satu toko untuk kemudian membandingkannya dengan produk dari toko lain dapat dilakukan melalui internet. Hanya dalam hitungan menit, kita dapat merumuskan produk mana yang tepat untuk dibeli. Selanjutnya, aplikasi jualah yang akan menuntun kita membeli produk secara online. Dengan dukungan sistem logistik yang kuat maka produk impor pun kini dapat hadir di depan pintu rumah kita dalam waktu kurang dari satu minggu.

Melalui mekanisme tersebut, produktivitas kehidupan kita diyakini akan meningkat. Selamat berefleksi, sukses senantiasa menyertai Anda!