Investasi Digital Kalangan Muda: Ikut Kata Orang atau Kata Hati?
Waduh, porto gue merah lagi nih. Kondisi makro global lagi kurang oke sejak The Fed buat pernyataan minggu lalu, bikin pasar jadi bearish.”
Kalimat seperti itu dulu mungkin kita bayangkan keluar dari ruang rapat, dari mulut eksekutif berjas rapi. Nyatanya, obrolan tentang pasar kini mudah terdengar di coffee shop estetik Jakarta Selatan sampai warung ayam geprek depan kampus di Yogyakarta. Anak muda membicarakan makroekonomi dan dampaknya pada portofolio mereka seolah itu bagian dari rutinitas harian.
Kita sedang menyaksikan pergeseran generasi muda dari digital native menjadi digital investors. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan porsi investor berusia di bawah 30 tahun konsisten berada di rentang 50–60% dari total investor individu sepanjang 2020–2025. Kemajuan fintech ikut menjadi katalis: setoran awal yang rendah dan proses pendaftaran yang ringkas membuat investasi terasa “dekat” — dan sering kali, terasa “harus ikut”.
Namun di balik pertumbuhan itu ada pertanyaan penting: keputusan investasi anak muda dibangun oleh proses berpikir yang matang, atau oleh arus sosial yang terlalu bising?
Pertanyaan tersebut mendorong penelitian yang saya lakukan bersama rekan-rekan dosen muda di PPM School of Management. Riset ini didukung pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Hibah Penelitian Dosen Pemula Tahun 2025. Kami melibatkan 518 responden dari beberapa provinsi — mulai Sumatra Utara, Jakarta, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur — untuk menelisik faktor-faktor yang memengaruhi keputusan investasi digital kalangan muda.
Yakin usaha tidak mengkhianati hasil
Dalam psikologi, keyakinan tentang “siapa yang memegang kendali” atas kejadian dalam hidup kerap dibahas lewat konsep locus of control. Seseorang dengan locus of control internal cenderung melihat hasil sebagai akibat dari tindakan dan keputusannya sendiri. Sebaliknya, mereka yang locus of control-nya eksternal lebih mudah mengaitkan hasil dengan faktor luar: keberuntungan, situasi ekonomi, dan sebagainya.
Salah satu ciri yang sering dilekatkan pada anak muda adalah rasa percaya diri yang kuat. Riset Roberta Katz (Stanford, 2021) menyebut Generasi Z sebagai pribadi yang banyak dimotivasi oleh dorongan dalam diri (self-driven) dan cenderung mengandalkan diri sendiri (self-reliant). Dengan kata lain, banyak keputusan — termasuk keputusan finansial — dipersepsikan sebagai sesuatu yang “bisa diusahakan”.
Dalam penelitian kami, responden diminta merespons cara mereka mengaitkan berbagai kejadian dalam investasi, misalnya ketika investasi menghasilkan keuntungan. Jika responden menilai keberhasilan itu semata-mata karena keberuntungan, maka kecenderungannya lebih eksternal. Jika mereka menilai keberhasilan itu akibat keputusan dan proses yang mereka lakukan, maka kecenderungannya lebih internal.
Hasilnya, secara rata-rata responden mengaitkan 7 dari 10 kejadian pada aspek internal diri mereka. Temuan ini memperlihatkan sisi positif investor muda: mereka percaya hasil investasi bukan sekadar nasib, melainkan sesuatu yang dapat ditingkatkan lewat disiplin, analisis, dan keputusan yang bijak.
Dukungan lingkungan sekitar tetap penting
Meski percaya pada kendali diri, keputusan investasi jarang benar-benar lahir dalam ruang hening. Aktivitas investasi anak muda justru banyak terjadi dalam ekosistem komunal — di obrolan grup, kanal digital, dan arus konten yang bergerak cepat.
Di era hyper-connectivity, pengaruh sosial tidak lagi sebatas percakapan tatap muka. Ia menggema melalui grup Telegram, server Discord, hingga konten yang viral di TikTok dan Instagram. Banyak calon investor muda memulai investasi bukan hanya karena tujuan kebebasan finansial, melainkan juga karena dorongan untuk “tidak ketinggalan” — tetap relevan dalam obrolan, dan memperoleh validasi sosial.
Di media sosial, flexing portofolio yang berhasil meraup untung — sering dinarasikan sebagai “cuan” — mudah muncul sebagai etalase. Ia menggoda, kadang meyakinkan, dan tidak jarang menyederhanakan risiko.
Temuan penelitian kami mengonfirmasi arah tersebut. Responden cenderung setuju bahwa langkah awal mereka memulai investasi dipengaruhi dorongan pihak lain: orang terdekat, iklan dan konten media sosial, hingga pemengaruh finansial (financial influencer). Secara statistik, pengaruh sosial (social influence) berkorelasi positif terhadap niat seseorang untuk memulai perjalanan investasi digital.
Amati kata orang, olah datanya sendiri
Dunia investasi anak muda Indonesia menjadi studi kasus menarik dalam behavioral finance. Di satu sisi, locus of control internal memberi modal psikologis yang sehat: keyakinan bahwa hasil dapat diupayakan. Di sisi lain, pengaruh sosial dapat mendorong partisipasi — namun juga berpotensi menyeret keputusan menjadi impulsif jika tidak diimbangi literasi dan disiplin proses.
Karena itu, keberlanjutan pertumbuhan investor muda perlu didampingi oleh upaya bersama — platform investasi, akademisi, dan pemerintah — agar kompas keputusan tetap merujuk pada proses berpikir yang logis. Tujuannya sederhana: investasi anak muda jangan berubah menjadi perjudian yang hanya mengandalkan “kata-kata” pemengaruh finansial, tetapi menjadi kebiasaan yang bertumpu pada data, pemahaman risiko, dan kesadaran tujuan.
*Tulisan ini dimuat di SWA Online
Baca Juga
- Mengapa Yura Bisa dan Kita Tidak Bisa (Mengurangi Food Waste)?
- Brick-And-Mortar Belum Punah: Customer Experience Kunci Memenangkan Pelanggan Ritel
- Stimulus Jangka Pendek dan Daya Saing Pajak Jangka Panjang di Era Menteri Keuangan Purbaya
- Harmoni Kolektif: Menelusuri Peran Strategis Karyawan dalam Ekosistem Organization Well-Being
- PP 43/2025: Momentum Baru Profesi Akuntan dan Peluang Karier bagi Generasi Muda
- PPM School of Management