Mengapa Yura Bisa dan Kita Tidak Bisa (Mengurangi Food Waste)?
Masih ingat potongan lagu Yura Yunita yang beberapa waktu lalu viral — meng-cover Dewa 19, “aku bisa membuatmu…”?
Di media sosial, kalimat itu mendadak bisa berarti apa saja: tekad, sindiran, humor, atau sekadar hiburan. Tapi ada satu “aku bisa” yang terasa lebih serius dan relevan dengan hidup sehari-hari: aku bisa menghabiskan makanan, aku bisa merencanakan belanja, aku bisa menolak porsi berlebihan.
Masalahnya, pada level kolektif, kita sering belum bisa. Dan akibatnya nyata: food waste di Indonesia masih tinggi dan ikut menekan keamanan pangan hingga ketahanan pangan nasional.
Supaya tidak rancu, mari samakan istilah. Food and Agriculture Organization (FAO) mendefinisikan food waste sebagai makanan yang sebenarnya layak dikonsumsi manusia, tetapi tidak dimakan dan akhirnya dibuang — baik sengaja maupun tidak sengaja, termasuk karena disimpan terlalu lama hingga melewati tanggal kedaluwarsa.
Di sepanjang rantai pasok, literatur juga membedakan food waste dengan food loss. Secara ringkas: food loss terjadi lebih banyak di hulu (dari produksi hingga pengolahan), sementara food waste banyak muncul di hilir (pengecer hingga konsumen rumah tangga). Pembedaan ini penting karena akar masalah dan aktor yang bertanggung jawab pun berbeda.

Jika fokusnya pada rumah tangga, dampaknya tidak kecil. Makanan yang tidak kita habiskan sudah “menghabiskan” energi: dari budidaya, pengolahan, distribusi, pendinginan, hingga memasak. Ketika makanan berakhir di tempat sampah, energi dan sumber daya itu ikut terbuang, sementara emisi dari proses-proses tersebut tetap terlanjur tercipta.
Sejumlah studi menyebut industri pangan berkontribusi sekitar 26% terhadap emisi gas rumah kaca global — menjadikannya faktor penting dalam perubahan iklim. Artinya, pemborosan pangan bukan hanya isu moral, melainkan isu iklim dan efisiensi ekonomi.
Laporan Food Waste Index Report 2024 dari United Nations Environment Programme (UNEP) mencatat Indonesia menempati posisi teratas di Asia Tenggara untuk sampah makanan rumah tangga, yakni 14,73 juta ton per tahun.
Angka ini mengingatkan: persoalannya bukan “seberapa banyak kita memproduksi”, tetapi seberapa banyak yang bocor sebelum benar-benar menjadi nutrisi di tubuh manusia.
Memang, dampak kuantitatifnya bisa diperdebatkan tergantung metode. Namun, kalkulator food waste di laman watchmywaste.com.au memberi gambaran skala: energi yang terbuang setara konsumsi listrik 6,8 juta rumah tangga per tahun dan menyumbang 28 juta kg emisi karbon. Terlepas dari variasi asumsi, arahnya jelas: pemborosan pangan berarti pemborosan energi dan emisi tambahan.
Pertanyaan kuncinya: mengapa kita belum “bisa” mengurangi food waste? Jawaban paling jujur sering tidak nyaman: karena sistem konsumsi kita masih mengganjar pemborosan. Porsi besar dianggap value, pilihan menu cenderung mendorong over-ordering, dan sisa makanan dianggap wajar selama “sudah bayar”.
Di sisi lain, standar estetika pangan ikut menyumbang kebocoran. Makanan yang tampak ‘sempurna’ di piring atau di etalase sering menuntut proses trimming, pemilahan, hingga pembuangan bagian-bagian yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan. Bukan berarti kreativitas chef harus dibunuh; yang perlu dipikirkan adalah bagaimana memaksimalkan pemanfaatan bahan agar ‘cantik’ tidak identik dengan ‘mubazir’.
Masalah berikutnya adalah desain informasi yang membingungkan. Ketidakpahaman atas label expiry date dan best by (“dapat dikonsumsi sebelum…”) membuat orang cenderung membuang makanan yang sebenarnya masih aman dan layak, hanya karena takut salah tafsir.
Faktor operasional juga tidak kalah penting: lemari pendingin yang tidak sesuai spesifikasi, kemasan yang tidak aman sehingga mudah terkontaminasi, hingga moda transportasi yang tidak menjaga kesegaran. Kelemahan infrastruktur ini membuat makanan lebih cepat rusak, baik di tingkat pengecer maupun ketika sudah dibawa pulang.
Kalau begitu, solusinya jelas tidak cukup berhenti pada imbauan “habiskan makanan”. Perubahan perilaku perlu didorong oleh perubahan sistem: insentif, desain layanan, dan infrastruktur. Kabar baiknya, beberapa inisiatif mulai terbentuk.
Di Indonesia, platform seperti Surplus mencoba memotong food waste di restoran dan kafe dengan menjual makanan berlebih dengan diskon besar (minimal 50%) sebelum tidak layak konsumsi. Ada pula DamoGo dan Garda Pangan yang bergerak dengan semangat serupa. Gerakan zero food waste juga mulai hidup di kalangan komunitas dan remaja — sebuah sinyal bahwa isu ini bisa menjadi norma baru.
Namun, agar benar-benar berdampak, ada tiga medan kerja yang perlu berjalan serempak. Pertama, bisnis ritel dan F&B dapat meredesain layanan: opsi porsi kecil/half portion, dynamic pricing mendekati jam tutup, standar take-away yang aman, hingga kemitraan donasi pangan yang punya SOP jelas.
Kedua, dukungan kebijakan dan infrastruktur perlu lebih serius: edukasi label tanggal konsumsi, standardisasi istilah pada kemasan, insentif bagi donasi pangan yang aman, serta penguatan rantai dingin (cold chain) dan logistik agar redistribusi surplus tidak berakhir jadi sampah di jalan.
Ketiga, rumah tangga tetap memegang peran kunci, bukan sebagai pihak yang disalahkan, melainkan sebagai aktor yang memutus kebocoran paling akhir. Mulailah dari hal sederhana: rencanakan belanja, cek isi kulkas sebelum membeli, olah bahan yang mendekati tanggal konsumsi, dan biasakan membawa wadah sendiri saat makan di luar agar sisa makanan bisa dibawa pulang dengan aman.
Ambil secukupnya saat prasmanan, habiskan yang sudah diambil, dan biasakan menilai ‘cukup’ sebagai bentuk kecerdasan konsumsi, bukan kekurangan. Kelihatannya remeh, tetapi jika dilakukan banyak orang, dampaknya akan menumpuk menjadi penurunan limbah rumah tangga secara nyata.
Di titik ini, “aku bisa” ala Yura tidak lagi hanya bahan lelucon internet. Ia bisa menjadi kalimat kebijakan hidup. Sayangi makanan kita, sayangi bumi kita. Love your food, hug your earth.
*Tulisan ini dimuat di SWA Online
Baca Juga
- Brick-And-Mortar Belum Punah: Customer Experience Kunci Memenangkan Pelanggan Ritel
- Stimulus Jangka Pendek dan Daya Saing Pajak Jangka Panjang di Era Menteri Keuangan Purbaya
- Harmoni Kolektif: Menelusuri Peran Strategis Karyawan dalam Ekosistem Organization Well-Being
- PP 43/2025: Momentum Baru Profesi Akuntan dan Peluang Karier bagi Generasi Muda
- Dari Secangkir Kopi: Tentang People, Leader, dan Budaya Belajar
- PPM School of Management