Mengelola Keuangan di Masa Kritis

Mengelola Keuangan di Masa Kritis

Dalam satu bulan terakhir, kondisi ekonomi Indonesia menghadapi tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Nilai tukar rupiah sempat melemah akibat arus keluar modal dan ketidakpastian global, sehingga Bank Indonesia menahan suku bunga di kisaran 4,75% untuk menjaga stabilitas. Pada waktu yang sama, inflasi tahunan Januari 2026 naik menjadi sekitar 3,55%, tertinggi dalam kurun hampir tiga tahun.

Di tengah kondisi ekonomi yang menantang ini, masyarakat juga terdampak langsung, seperti kenaikan harga barang pokok, pemutusan hubungan kerja, dan bisnis yang lesu. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, pengelolaan keuangan menjadi semakin penting. Mayoritas orang mengetahui betapa pentingnya uang, tetapi tidak semua orang memahami bagaimana mengelolanya secara terstruktur.

Pada dasarnya, prinsip-prinsip akuntansi memegang peran penting dalam pengelolaan keuangan pribadi, karena dapat menjadi panduan dalam mengambil keputusan. Pertanyaan selanjutnya: bagaimana peran akuntansi di masa kritis?

Akuntansi pada dasarnya adalah proses mencatat, mengelompokkan, dan menganalisis transaksi keuangan yang telah terjadi. Dalam situasi normal, akuntansi membantu kita memahami kondisi keuangan. Dalam masa kritis, akuntansi berperan sebagai kompas yang menunjukkan arah keputusan yang perlu diambil.

Namun, baik dalam situasi normal maupun kritis, tanpa pencatatan yang jelas seseorang maupun organisasi akan kesulitan menjawab pertanyaan sederhana, seperti: berapa uang yang tersisa saat ini, berapa pemasukan bulan ini, pengeluaran apa yang paling besar, dan pos pengeluaran mana yang bisa dikurangi. Dengan akuntansi, pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dijawab secara cepat, tepat, dan objektif.

Langkah pertama dalam penerapan prinsip akuntansi adalah membuat catatan transaksi harian. Lakukan pencatatan menggunakan Excel atau aplikasi pencatatan keuangan. Tujuannya untuk mengetahui arus kas secara nyata dan real-time, bukan sekadar perkiraan atau asumsi.

Langkah kedua adalah melakukan pengelompokan pengeluaran berdasarkan prioritas. Kelompok pengeluaran dapat terdiri dari tiga kategori, yaitu pengeluaran pokok, pengeluaran penting, dan pengeluaran tambahan. Pengeluaran pokok dapat berupa makan, tempat tinggal, listrik, dan kesehatan. Kebutuhan penting dapat berupa transportasi, pendidikan, dan komunikasi. Kebutuhan tambahan dapat berupa hiburan dan belanja non-esensial. Di masa kritis, fokuslah pada pemenuhan kebutuhan pokok terlebih dulu.

Dengan melakukan pencatatan transaksi harian dan pengelompokan pengeluaran, kita dapat mengetahui kondisi keuangan. Setelah itu, langkah ketiga adalah membuat anggaran bulanan. Anggaran berfungsi sebagai batas pengeluaran agar tidak melebihi kemampuan keuangan. Di masa kritis, disiplin pada anggaran sangat diperlukan untuk mengamankan kondisi keuangan jangka pendek dan jangka panjang.

Selanjutnya, lakukan evaluasi berkala. Akuntansi tidak berhenti pada pencatatan. Setiap akhir minggu atau bulan, lakukan evaluasi dengan menjawab pertanyaan berikut: apakah pengeluaran sesuai anggaran, apakah ada biaya yang bisa dikurangi, dan apakah ada peluang menambah pemasukan. Evaluasi berkala akan membantu mengambil keputusan yang lebih rasional, bukan emosional.

Melalui penerapan akuntansi dari pencatatan hingga evaluasi, kita telah berupaya menerapkan prinsip akuntansi yang relevan di masa kritis, yaitu prinsip kehati-hatian (prudence), prinsip pencatatan yang konsisten, dan prinsip pemisahan keuangan untuk mendukung pengambilan keputusan.

Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa akuntansi berperan sebagai alat bertahan di masa kritis, bukan sekadar laporan berisi data keuangan. Seseorang maupun organisasi dapat mengurangi pengeluaran yang tidak penting, menentukan prioritas pembayaran, menghindari utang yang tidak perlu, serta merencanakan strategi pemulihan keuangan, termasuk mulai membangun dana darurat.

Masa kritis tidak selalu bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat dikelola dengan pengelolaan keuangan yang baik. Akuntansi bukan sekadar ilmu angka, melainkan alat untuk menjaga stabilitas dan ketenangan dalam menghadapi ketidakpastian. Dengan pencatatan yang sederhana, anggaran yang realistis, dan evaluasi rutin, individu maupun usaha kecil dapat bertahan, bahkan bangkit kembali setelah masa sulit berlalu.

Pada akhirnya, keputusan keuangan yang baik selalu berawal dari informasi yang jelas.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Baca Juga

Bernadet Krisma Suryani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *