Green HRM: Bukan Sekadar Kebijakan, Melainkan Kebiasaan
Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak organisasi menerapkan praktik manajemen sumber daya manusia hijau, atau green human resources management (Green HRM). Pada dasarnya, ini adalah upaya mengintegrasikan kepedulian lingkungan ke dalam kebijakan dan praktik pengelolaan SDM sebagai bagian dari upaya mewujudkan keberlanjutan organisasi.
Praktik ini biasanya tampak dalam aktivitas seperti rekrutmen yang mempertimbangkan nilai keberlanjutan, pelatihan yang mendorong kesadaran lingkungan, hingga sistem manajemen kinerja yang memasukkan aspek ramah lingkungan dalam penilaian.
Di Indonesia, gaung penerapan Green HRM bukan sesuatu yang asing. Isu keberlanjutan semakin sering hadir dalam percakapan organisasi. Banyak perusahaan berbondong-bondong memasukkan prinsip keberlanjutan ke dalam pedoman pengelolaan karyawan. Misalnya, mendorong digitalisasi dalam beberapa aktivitas seperti imbauan pengurangan kertas dan pengiriman informasi melalui surat elektronik sebagai bagian dari komitmen organisasi hijau.
Mereka juga menyusun prosedur pengelolaan limbah yang semakin ketat demi mengurangi dampak lingkungan. Poster hemat energi terpajang di dinding, dan laporan pencapaian keberlanjutan dipublikasikan dengan desain yang semakin profesional sebagai bukti keseriusan menuju organisasi hijau.
Namun, dalam implementasinya, Green HRM sering hanya menjadi wacana pada tataran sistem formal: hadir dalam wujud dokumen, kebijakan, dan sosialisasi, tetapi belum tentu mengubah perilaku karyawannya. Ketika beban operasional meningkat atau target kinerja menanjak, kepedulian terhadap lingkungan kerap turun menjadi prioritas kedua. Banyak kebijakan yang mendukung keberlanjutan dipatuhi hanya ketika diawasi, tetapi mudah dilupakan saat pengawasan longgar.
Keberlanjutan tidak mungkin tercapai hanya lewat kebijakan atau teknologi. Keberlanjutan membutuhkan perilaku manusia yang konsisten. Di sinilah Green HRM seharusnya berperan: bukan sekadar memproduksi aturan, melainkan mengarahkan, membentuk, dan memperkuat perilaku karyawan agar sejalan dengan tujuan keberlanjutan organisasi.
Selaras dengan itu, penelitian Masum Miah dan tim pada 2025 menunjukkan bahwa Green HRM memiliki hubungan langsung dengan keberlanjutan, karena pada akhirnya keberlanjutan organisasi ditentukan oleh perilaku manusia di dalamnya. Kebijakan dan teknologi ramah lingkungan tidak akan berjalan tanpa karyawan yang sadar, mau, dan terbiasa berperilaku hijau (green behavior).
Melalui Green HRM, organisasi membangun sistem, budaya, dan kebiasaan kerja yang mendorong karyawan menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari praktik sehari-hari — bukan sekadar program sesaat. Untuk melihat bagaimana proses itu bekerja, mari menelusuri satu per satu fungsi manajemen SDM ketika bermetamorfosis menjadi praktik Green HRM.
Perjalanan menuju organisasi ramah lingkungan selayaknya dimulai sejak proses seleksi karyawan. Melalui green selection, perusahaan tidak hanya mencari kandidat yang cakap bekerja, tetapi juga memiliki kepedulian pada lingkungan. Dengan memilih individu yang sudah punya kesadaran terhadap isu lingkungan, nilai-nilai hijau berpeluang tumbuh lebih alami dan lebih mudah tercermin dalam perilaku kerja sehari-hari.
Salah satu praktik green selection adalah mengajukan pertanyaan terkait lingkungan saat mewawancarai kandidat. Setelah karyawan baru bergabung, langkah berikutnya adalah green induction, yakni proses pengenalan yang menanamkan nilai-nilai ramah lingkungan sejak hari pertama bekerja. Melalui proses ini, karyawan baru diharapkan merasa menjadi bagian dari upaya bersama menjaga lingkungan, lalu menginternalisasikannya ke dalam rutinitas kerja.
Setelah seleksi dan pengenalan nilai, peran Green HRM berlanjut melalui green training & development. Pada tahap ini, organisasi mengajak karyawan — melalui pelatihan dan pembelajaran berkelanjutan — untuk memahami bahwa keputusan dan aktivitas kerja membawa dampak terhadap lingkungan. Salah satu contoh programnya adalah menyediakan pendidikan lingkungan bagi karyawan.
Agar komitmen organisasi hijau tidak berhenti pada niat dan pembelajaran, organisasi dapat menggunakan green performance evaluation atau penilaian kinerja hijau. Pada tahap ini, kepedulian dan praktik ramah lingkungan dijadikan bagian dari penilaian kinerja, sehingga kontribusi karyawan dalam mendukung praktik lingkungan diakui dan dihargai. Implementasinya dapat berupa integrasi kriteria hijau dalam penilaian kinerja, atau evaluasi hasil kerja berdasarkan indikator yang terkait dengan lingkungan.
Tentu, penilaian kinerja hijau tidak cukup hanya “dinilai”. Dalam siklus manajemen kinerja, tahap ini selayaknya diikuti oleh green reward management. Penerapan green reward management yang berkaitan erat dengan penilaian kinerja hijau menunjukkan komitmen organisasi yang serius terhadap keberlanjutan. Penghargaan — baik berupa pengakuan sederhana, insentif, maupun bonus — menegaskan bahwa organisasi benar-benar menghargai perilaku ramah lingkungan.
Pendekatan ini membuat karyawan merasakan bahwa upaya kecil yang mereka lakukan memiliki arti. Di saat yang sama, ia mendorong semangat kolektif untuk terus berkontribusi pada keberlanjutan organisasi. Semangat kolektif tersebut, jika dipertahankan, akan membentuk kebiasaan.
Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa Green HRM memegang peran penting dalam mewujudkan keberlanjutan organisasi. Green HRM tidak berhenti pada penyusunan kebijakan atau aturan formal semata, melainkan membentuk cara berpikir, sikap, dan kebiasaan hijau pada karyawan.
Melalui proses seleksi, pengenalan, pengembangan, penilaian, hingga penghargaan, nilai-nilai keberlanjutan dapat tumbuh menjadi praktik sehari-hari yang hidup dalam budaya kerja. Dengan cara itulah keberlanjutan tidak berhenti sebagai kebijakan, tetapi menjadi kebiasaan nyata dalam aktivitas organisasi.
Pada akhirnya, keberlanjutan organisasi tidak hanya ditentukan oleh strategi besar, melainkan oleh kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap insan di dalamnya. Green HRM mengingatkan bahwa perubahan dimulai dari manusianya. Ketika kebiasaan hijau tumbuh menjadi budaya kerja, organisasi lebih dekat pada tujuan besarnya: keberlanjutan.
*Tulisan ini dimuat di SWA Online
Baca Juga
- Ketika Idol Mengalahkan Identitas Brand: Fenomena Celebrity Worship dalam Digital Branding
- Investasi Digital Kalangan Muda: Ikut Kata Orang atau Kata Hati?
- Mengapa Yura Bisa dan Kita Tidak Bisa (Mengurangi Food Waste)?
- Brick-And-Mortar Belum Punah: Customer Experience Kunci Memenangkan Pelanggan Ritel
- PPM School of Management