Menyambut Vietnam-Filipina di Arena Kelas Menengah

Menyambut Vietnam-Filipina di Arena Kelas Menengah

Setiap kali ada kabar negara tetangga mencatat lompatan ekonomi, reaksi yang muncul di Indonesia hampir selalu sama: apakah kita sedang tertinggal? Pertanyaan itu kembali mengemuka setelah Vietnam dan Filipina resmi bergabung dalam kelompok negara berpendapatan menengah atas. Jika hanya berhenti pada perbandingan, kita justru kehilangan inti persoalannya. Dalam ekonomi semakin terhubung, kemajuan satu negara tidak selalu berarti kemunduran negara lain.

Sebaliknya, meningkatnya pendapatan masyarakat Vietnam dan Filipina membuka pasar baru, memperluas peluang investasi, serta memperkuat rantai pasok kawasan yang juga dapat menguntungkan Indonesia. Karena itu, alih-alih memandang kenaikan kelas kedua negara sebagai ancaman, Indonesia perlu melihatnya sebagai momentum untuk menata ulang strategi ekonomi kawasan.

ASEAN tengah memasuki babak baru sebagai kawasan dengan kelas menengah yang semakin besar. Pertanyaannya bukan lagi siapa lebih dahulu naik kelas, melainkan siapa paling siap memanfaatkan kenaikan kelas itu demi menciptakan pertumbuhan bersama. Kenaikan Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas menandai perubahan penting dalam lanskap ekonomi ASEAN.

Berdasarkan pembaruan klasifikasi Bank Dunia per 1 Juli 2026, kedua negara tersebut berhasil melampaui ambang pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita sebesar 4.636 dollar AS, sehingga bergabung dengan Indonesia, Thailand, dan Malaysia dalam kelompok upper-middle income countries. Artinya, lebih dari separuh penduduk ASEAN kini hidup di negara-negara dengan tingkat pendapatan menengah atas, sebuah perkembangan mengubah kawasan ini dari sekadar basis produksi berbiaya murah menjadi pasar yang semakin besar, semakin produktif, dan semakin menarik bagi investasi global.

Perubahan ini sesungguhnya jauh lebih penting daripada sekadar perpindahan kategori dalam statistik internasional. Ketika pendapatan masyarakat meningkat, pola konsumsi pun ikut berubah. Permintaan tidak lagi didominasi oleh kebutuhan dasar, tetapi bergeser menuju produk pangan olahan, layanan kesehatan, pendidikan, pariwisata, ekonomi digital, hingga berbagai produk bernilai tambah.

Dengan jumlah penduduk ASEAN yang mendekati 700 juta jiwa dan nilai ekonomi kawasan yang telah melampaui 4 triliun dollar AS, terbentuknya kelas menengah yang semakin besar menjadikan Asia Tenggara salah satu pasar paling prospektif di dunia. Pasar berkembang itu tidak berada di belahan dunia yang jauh, melainkan tumbuh tepat di lingkungan terdekat Indonesia. Karena itu, Indonesia perlu berhenti memandang kenaikan kelas Vietnam dan Filipina semata-mata sebagai perlombaan yang dimenangkan negara lain.

Dalam ekonomi yang saling terhubung, kemakmuran negara tetangga justru memperbesar peluang bagi negara di sekitarnya. Semakin tinggi daya beli masyarakat kedua negara tersebut, semakin besar pula potensi ekspor, investasi, kerja sama industri, dan pertukaran jasa yang dapat dibangun Indonesia. Dengan kata lain, yang sedang bertumbuh bukan hanya ekonomi mereka, melainkan juga ukuran pasar ASEAN secara keseluruhan. Inilah momentum yang semestinya dibaca bukan dengan rasa cemas, melainkan dengan strategi.

Selama ini, Vietnam kerap ditempatkan sebagai “lawan” Indonesia dalam perebutan investasi manufaktur dan pasar ekspor, sementara Filipina dipandang sebagai pesaing dalam menarik modal dan mengembangkan ekonomi digital.Cara pandang seperti ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak lagi memadai untuk membaca dinamika ekonomi kawasan. Ketika sebuah negara berhasil naik ke kelompok berpendapatan menengah atas, yang tumbuh bukan hanya kapasitas produksinya, melainkan juga daya beli masyarakatnya.

Jutaan rumah tangga mulai mengonsumsi produk yang lebih beragam, bepergian lebih sering, berinvestasi lebih besar, serta mencari layanan kesehatan, pendidikan, dan hiburan yang lebih berkualitas. Dengan kata lain, negara semakin makmur tidak hanya menghasilkan lebih banyak barang, tetapi juga membeli lebih banyak barang dan jasa. Di sinilah peluang Indonesia sesungguhnya terbuka.Karena itu, sudah saatnya Indonesia berhenti memandang kemajuan ekonomi negara tetangga sebagai permainan zero-sum, seolah keberhasilan satu pihak hanya bisa diraih dengan mengorbankan pihak lain.

Dalam ekonomi semakin terintegrasi, kemakmuran Vietnam dan Filipina justru memperluas ruang bagi perdagangan, investasi, pariwisata, industri kreatif, hingga kolaborasi teknologi di kawasan. Perspektif inilah perlu dibangun jika Indonesia ingin menjadi pemain utama di ASEAN. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah negara bukan ditentukan oleh seberapa banyak pesaing yang berhasil dikalahkan, melainkan seberapa cerdas ia mengubah kemajuan negara lain menjadi sumber pertumbuhan bagi dirinya sendiri.

Kenaikan kelas ekonomi Vietnam dan Filipina seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengubah orientasi ekspornya. Selama ini, hubungan dagang Indonesia dengan kedua negara masih didominasi oleh komoditas primer dan bahan baku industri. Padahal, ketika pendapatan masyarakat meningkat, kebutuhan mereka juga berubah. Permintaan tidak lagi berhenti pada minyak sawit mentah, batu bara, atau mineral, tetapi bergeser ke produk pangan olahan, kosmetik, layanan kesehatan, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga berbagai layanan digital.

Data OECD menunjukkan sektor jasa telah menyumbang sekitar 37 persen dari nilai tambah yang terkandung dalam seluruh ekspor Indonesia. Artinya, daya saing Indonesia sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang diproduksi pabrik, tetapi juga oleh kemampuan menciptakan inovasi, desain, logistik, teknologi, dan layanan yang melekat pada setiap produk yang diekspor.

Peluang itu bukanlah angan-angan. Pada 2025, nilai ekspor Indonesia ke Vietnam telah mencapai sekitar 10,6 miliar dolar AS, dengan komposisi terbesar masih berasal dari bahan bakar mineral, besi dan baja, kendaraan bermotor, serta minyak nabati. Komposisi ini menunjukkan, hubungan ekonomi kedua negara masih bertumpu pada perdagangan berbasis komoditas dan industri hulu. Sementara itu, perdagangan jasa ASEAN terus tumbuh pesat dengan nilai ekspor mencapai sekitar 667,9 miliar dolar AS pada 2024, didorong oleh transportasi, pariwisata, layanan bisnis, serta teknologi informasi.

Angka-angka tersebut menyampaikan pesan yang jelas: pasar ASEAN sedang bergerak menuju ekonomi yang semakin mengutamakan pengetahuan, kreativitas, dan layanan bernilai tambah. Indonesia memiliki modal besar untuk mengambil peran itu, mulai dari industri makanan dan minuman, produk halal, layanan kesehatan, pendidikan, ekonomi digital, hingga kekayaan budaya yang dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi kreatif.

Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar meningkatkan volume ekspor, melainkan mengubah cara berpikir tentang apa yang layak diekspor. Negara berhasil bukanlah negara yang menjual bahan mentah paling banyak, melainkan negara yang mampu menyisipkan nilai tambah terbesar dalam setiap produk dan jasanya.Di tengah membesarnya kelas menengah Vietnam dan Filipina, Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi pemasok solusi, pengalaman, dan inovasi, bukan hanya pemasok komoditas.

Jika momentum ini mampu dimanfaatkan dengan baik, kenaikan kelas negara tetangga tidak akan mengurangi ruang tumbuh Indonesia. Sebaliknya, ia akan menjadi panggung baru bagi produk, talenta, dan kreativitas Indonesia untuk tampil lebih percaya diri di pasar ASEAN. Realitas naiknya Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas juga seharusnya mengubah cara Indonesia memandang persaingan ekonomi di tingkat ASEAN.

Selama ini, keberhasilan menarik investasi sering dipersepsikan sebagai perlombaan yang hanya menghasilkan satu pemenang. Ketika satu negara memperoleh pabrik baru, negara lain dianggap kalah. Padahal, pola pikir seperti itu semakin usang di tengah ekonomi global yang ditopang oleh global value chains. Sebuah telepon pintar, misalnya, dapat dirancang di satu negara, menggunakan bahan baku dari negara lain, dirakit di negara ketiga, lalu dipasarkan ke seluruh dunia melalui platform digital.

Nilai ekonomi tidak lagi diciptakan oleh satu negara secara sendirian, melainkan oleh jaringan produksi yang saling terhubung. Dalam konteks ASEAN, setiap negara sesungguhnya telah memiliki keunggulan saling melengkapi: Indonesia dengan kekuatan sumber daya alam dan pasar domestiknya, Vietnam dengan basis manufaktur berorientasi ekspor, Malaysia dengan industri semikonduktor dan elektronika, Thailand dengan ekosistem otomotifnya, serta Filipina dengan layanan bisnis dan talenta digital yang terus berkembang.

Karena itu, pertanyaan yang semestinya diajukan bukan lagi “siapa yang paling banyak menarik investasi?”, melainkan “bagaimana investasi tersebut menciptakan nilai tambah bagi seluruh kawasan?”. Data ASEAN menunjukkan, perdagangan intraregional baru mencapai sekitar 21 persen dari total perdagangan ASEAN, jauh di bawah Uni Eropa yang telah melampaui 60 persen. Fakta ini menunjukkan, ruang untuk memperdalam integrasi ekonomi kawasan masih sangat besar.

Alih-alih saling berebut proyek investasi yang sama, negara-negara ASEAN perlu membangun rantai pasok lebih terintegrasi sehingga setiap negara memperoleh manfaat sesuai keunggulan komparatifnya. Di sinilah Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran sebagai penghubung (connector) kawasan, memperkuat konektivitas logistik, mendorong harmonisasi standar industri, dan mempercepat integrasi perdagangan. Pada akhirnya, persaingan ekonomi abad ke-21 bukan lagi berlangsung antarnegara, melainkan antarekosistem ekonomi.

Dan ekosistem yang paling kuat bukanlah yang berdiri sendiri, melainkan yang mampu tumbuh bersama. Pada akhirnya, naiknya Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas bukanlah garis akhir sebuah perlombaan, melainkan momentum awal bagi babak baru ekonomi ASEAN. Indonesia tidak perlu merasa terancam oleh tetangga semakin maju, sebab dalam dunia yang saling terhubung, kemakmuran tidak lagi tumbuh dalam ruang yang terpisah. Yang dibutuhkan bukan rasa cemas karena negara lain berlari lebih cepat, melainkan keberanian untuk berlari bersama sambil mengambil peran yang lebih besar.

Jika Indonesia mampu mengubah kemajuan Vietnam dan Filipina menjadi peluang pasar baru, mitra investasi, dan bagian dari rantai pasok kawasan yang semakin kuat, maka keberhasilan mereka juga akan menjadi keberhasilan kita. Sebab pada akhirnya, ukuran kepemimpinan sebuah bangsa bukanlah seberapa lama ia berdiri sendirian di depan, melainkan seberapa jauh ia mampu mengajak kawasan di sekitarnya tumbuh dan maju bersama dalam mengembangkan luasan ‘arena’ itu. Semoga!

*Tulisan ini dimuat di Kompas.com

Baca Juga

Aries Heru Prasetyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *