Senja Teduh Pelita dan Janji untuk Hari Esok

Senja Teduh Pelita dan Janji untuk Hari Esok

Beberapa bulan lalu, saya menyaksikan pertunjukan teater musikal bertajuk Senja Teduh Pelita yang diproduksi Jakarta Movin dengan menghadirkan lagu-lagu MALIQ & D’Essentials, salah satu grup musik pop ternama di Indonesia.

Senja Teduh Pelita berlatar masa depan distopia, ketika dunia berada di ambang kehancuran akibat perubahan iklim, pengelolaan energi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan, pandemi, serta peperangan antarbangsa. Populasi manusia menyusut drastis, sedangkan tanah subur dan air bersih semakin langka.

Dalam situasi itu, seluruh orang dewasa tiba-tiba menghilang dan meninggalkan sembilan anak menghadapi dunia yang diwariskan kepada mereka.

Anak-anak yang ditinggalkan harus menghadapi persoalan yang semakin besar. Sumber daya yang tersedia terus menipis, memaksa mereka bertahan hidup dengan memanfaatkan apa pun yang masih tersisa.

Di tengah keadaan tersebut, hadir seorang gadis misterius yang memiliki pengetahuan luas tentang masa lalu sekaligus masa depan. Ia menjelaskan bahwa kehancuran dunia berawal dari keserakahan manusia dewasa. Generasi sebelumnya mengembangkan berbagai teknologi untuk membuat kehidupan lebih mudah dan nyaman, tetapi kemajuan itu harus dibayar mahal oleh lingkungan. Hasrat untuk terus maju pada akhirnya memicu kerusakan ekologis yang meluas.

Berbekal pemahaman tersebut, anak-anak itu melakukan perjalanan untuk mencari orang tua mereka sekaligus menemukan cara hidup yang lebih baik. Mereka bertekad tidak mengulangi kesalahan generasi sebelumnya. Mereka ingin membangun masa depan yang berlandaskan harapan — bukan hanya bagi diri sendiri, melainkan juga bagi generasi yang akan datang.

Musikal Senja Teduh Pelita. (Foto: Indonesia Kaya/Jakarta Movin)
Musikal Senja Teduh Pelita. (Foto: Indonesia Kaya/Jakarta Movin)

Sekitar dua minggu sebelum menonton Senja Teduh Pelita, saya berkesempatan mengikuti kelas mengenai keberlanjutan (sustainability). Kelas tersebut memperkenalkan prinsip-prinsip dasar keberlanjutan dan relevansinya bagi kehidupan saat ini. Menyaksikan pertunjukan itu tidak lama setelah mengikuti kelas terasa seperti sebuah kebetulan yang tepat.

Tema yang diangkat dalam pertunjukan tersebut memiliki keterkaitan kuat dengan apa yang saya pelajari. Cerita Senja Teduh Pelita pun terasa semakin bermakna sekaligus mengundang saya untuk merenung lebih jauh.

Dalam beberapa tahun terakhir, keberlanjutan semakin banyak diperbincangkan di berbagai sektor. Pemerintah menyelenggarakan seminar dan lokakarya, sekaligus merumuskan kebijakan serta inisiatif untuk mendorong pembangunan berkelanjutan. Institusi pendidikan meresponsnya dengan memperluas penelitian serta menghadirkan semakin banyak mata kuliah dan program yang berfokus pada isu tersebut.

Dunia usaha juga menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam operasi, produk, dan strategi bisnis. Berbagai organisasi telah menunjukkan kemajuan.

Namun, menerjemahkan keberlanjutan dari sekadar konsep menjadi tindakan yang benar-benar berdampak tetap menjadi tantangan yang kompleks. Tidak sedikit kebijakan lingkungan yang berhenti pada tataran pernyataan. Keberlanjutan pun berisiko menjadi jargon ketika tidak diikuti perubahan nyata dalam keputusan dan praktik bisnis.

Bagi dunia usaha, tantangannya bukan sekadar menetapkan target atau menjalankan program tertentu. Keberlanjutan perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan arah pertumbuhan, mengelola dampak lingkungan, memperlakukan pekerja, dan membangun hubungan dengan masyarakat. Di sinilah konsistensi antara komitmen dan pelaksanaan diuji.

Lantas, di tengah semakin populernya istilah keberlanjutan, sementara pengejawantahannya masih jauh panggang dari api, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: sebenarnya, apa makna keberlanjutan?

Bagi saya, keberlanjutan adalah komitmen untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi setelah kita. Keberlanjutan berarti menyadari bahwa setiap keputusan yang dibuat hari ini akan menentukan seperti apa dunia yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Masih adakah hutan tropis Kalimantan untuk generasi berikutnya?

Apakah seratus tahun lagi langit masih berwarna biru, atau justru abu-abu penuh jerebu?

Akankah dunia yang kelak kita tinggalkan tetap menyediakan kesempatan dan kesetaraan bagi seluruh insan?

Karena itu, keberlanjutan mengajak kita untuk tidak hanya memikirkan manfaat saat ini atau keuntungan jangka pendek. Kita juga perlu mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang dari setiap tindakan.

Pada akhirnya, keberlanjutan adalah sebuah janji untuk meninggalkan dunia yang tidak hanya layak dihuni, tetapi juga mampu menopang kehidupan, menciptakan kesejahteraan, dan membuka kesempatan bagi generasi berikutnya.

Lebih dari sekadar menjaga lingkungan, keberlanjutan merupakan persoalan tanggung jawab. Ia menuntut kita berpikir melampaui kepentingan diri sendiri dan menyadari bahwa kehidupan kita terhubung dengan orang lain, komunitas, serta alam. Kita dipanggil untuk menjaga lingkungan yang menopang kehidupan, sekaligus menghadapi ketimpangan sosial dan ekonomi yang membuat sebagian orang tidak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mencapai potensi terbaiknya.

Dengan demikian, keberlanjutan juga berarti memastikan bahwa setiap orang, apa pun latar belakang dan kondisinya, memiliki akses terhadap hak-hak dasar, martabat, serta kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Ketika kembali merefleksikan Senja Teduh Pelita, saya menyadari bahwa keberlanjutan pada akhirnya berbicara tentang harapan: harapan bahwa kita mampu belajar dari kesalahan generasi sebelumnya, masih dapat membuat pilihan yang membawa dunia menuju keseimbangan yang lebih baik, dan menjadikan apa yang dilakukan hari ini sebagai bagian dari warisan bagi mereka yang akan datang.

Sebab, ketika menerapkan keberlanjutan dalam tindakan nyata, kita tidak sekadar menjaga apa yang dimiliki hari ini. Kita sedang membangun kesempatan yang lebih baik bagi kehidupan pada masa depan.

Mungkin itulah makna keberlanjutan yang paling sederhana: sebuah janji bahwa dunia yang kelak kita tinggalkan tetap layak disebut rumah.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Baca Juga

Fitri Safira

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *