From Trash to Cash: Sisi Menarik Praktik Hijau
Akhir-akhir ini, bencana terjadi di berbagai tempat. Sebagiannya berkaitan dengan perilaku manusia yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan maupun aturan yang berlaku.
Salah satu contoh yang memprihatinkan ialah longsornya timbunan sampah di Bantar Gebang pada Maret 2026 yang menimbulkan korban jiwa (Jakarta Post, 2026), di tengah tata kelola sampah yang belum memadai dan kondisi iklim yang tidak bersahabat.
Situasi serupa juga terlihat pada kebakaran di area pembuangan sampah Jatiwaringin (Tempo, 2026), yang menyebabkan ratusan penduduk dievakuasi akibat polusi asap.
Pada kasus pertama, tingginya curah hujan menyebabkan tumpukan sampah setinggi puluhan meter longsor. Pada kasus kedua, cuaca panas berkepanjangan diduga turut memicu kebakaran pada timbunan sampah organik. Dari berbagai kejadian ini, kita belajar bahwa pengelolaan sampah yang baik dan terencana dapat menurunkan risiko bencana. Pertanyaannya, bagaimana pelaku industri memaknai pengelolaan sampah yang tepat dan memadai sehingga turut membantu mengurangi risiko tersebut?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik hijau (green practice) yang dilakukan pelaku industri merupakan salah satu strategi penting dalam penanganan limbah, termasuk limbah makanan yang bersifat organik. Limbah makanan turut menyumbang emisi gas rumah kaca dalam sistem pangan. Karena itu, pengurangannya menjadi salah satu strategi mitigasi perubahan iklim.
Namun, praktik hijau kadang dipandang sebagai pemborosan yang tidak memiliki nilai ekonomi karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pandangan ini tidak sepenuhnya tepat. Praktik hijau berpotensi mendatangkan pendapatan tambahan jika dikelola dengan baik. Berbagai upaya monetisasi limbah makanan pun telah dilakukan.
Upaya pemanfaatan kembali bahan makanan yang masih layak konsumsi menjadi produk baru mulai banyak dilakukan pelaku industri kecil dan menengah. Misalnya, buah-buahan dapat diolah menjadi pasta yang disimpan dalam lemari pendingin untuk kemudian diolah lebih lanjut. Pasta memiliki masa simpan lebih lama dibandingkan buah segar yang relatif singkat. Buah-buahan yang sudah busuk tentu harus dibuang, sedangkan pasta hasil olahan dapat digunakan sebagai bahan baku makanan dan memiliki nilai jual baru.
Upaya mempercepat penguraian sampah makanan dengan mengubah limbah organik menjadi kompos atau pupuk cair juga kian marak dilakukan, bukan hanya oleh pelaku industri, tetapi juga oleh rumah tangga yang ingin mengurangi sampah makanan. Pupuk ini dapat digunakan untuk taman atau kebun, sehingga menghemat biaya pembelian pupuk, atau dijual sebagai produk sampingan. Peralatan pengolah sampah organik menjadi kompos telah tersedia dalam skala kecil hingga industri. Kompos juga dapat mendukung pengembangan usaha tanaman hias dan berpotensi menghasilkan pendapatan tambahan.
Program redistribusi dilakukan banyak kedai atau restoran melalui kemitraan dengan program atau platform berbagi makanan, seperti Olio, untuk menyalurkan makanan layak konsumsi kepada masyarakat rentan. Ada pula platform yang membantu menjual makanan yang mendekati akhir masa layak konsumsinya dengan harga lebih murah, seperti Surplus. Dengan mengurangi potensi makanan terbuang atau kedaluwarsa, platform semacam ini turut membantu mengurangi limbah organik.
Contoh lain ialah kemitraan restoran dengan pelaku usaha pembiakan maggot sebagai organisme pengurai sisa makanan. Restoran dapat menyalurkan limbah organik yang telah dipilah sebagai bahan pakan maggot dalam volume besar. Pelaku usaha pembiakan maggot pun memperoleh pasokan pakan yang mendukung proses budidaya dan menghasilkan maggot bernilai jual.
Sejumlah jaringan restoran bahkan memiliki unit khusus yang bertugas mengelola dan memonetisasi sisa makanan melalui program kemitraan. Fenomena ini menunjukkan bahwa praktik hijau tidak selalu sekadar membebani biaya, melainkan juga dapat menghasilkan nilai finansial bila dikelola secara tepat.
Indonesia menghasilkan limbah makanan dalam volume besar. Karena itu, upaya mengurangi sampah makanan sekaligus menciptakan nilai tambah masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Persepsi bahwa praktik hijau hanya menghabiskan biaya masih dimiliki banyak pelaku usaha, terutama yang berskala mikro dan menengah. Diperlukan edukasi serta contoh nyata yang menunjukkan bahwa limbah makanan juga dapat memiliki nilai ekonomi dan mendatangkan pendapatan apabila dikelola dengan tepat.
*Tulisan ini dimuat di SWA Online