Menguji Ketahanan Ekonomi RI

Menguji Ketahanan Ekonomi RI

Gejolak yang terjadi di pasar keuangan dalam beberapa hari terakhir (khususnya Rabu, 3 Juni 2026) kembali mengingatkan kita bahwa ketahanan ekonomi tidak pernah dapat dianggap sebagai sesuatu yang permanen. Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mengalami pelemahan tajam, disertai depresiasi nilai tukar rupiah yang sejak hari ini (Kamis 4 Juni 2026) sudah masuk ke level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat, menjadi perhatian tidak hanya bagi pelaku pasar tetapi juga masyarakat luas.

Dalam ekonomi modern, pasar keuangan sering kali bertindak sebagai sistem peringatan dini yang merespons perubahan ekspektasi jauh sebelum dampaknya terlihat pada sektor riil. Karena itu, pertanyaan yang layak diajukan bukan sekadar mengapa IHSG dan rupiah melemah, melainkan apakah gejolak tersebut menunjukkan melemahnya fondasi ekonomi Indonesia atau justru merupakan bagian dari penyesuaian yang lazim terjadi dalam lingkungan ekonomi global yang semakin tidak menentu. Kondisi tersebut tidak dapat dilepaskan dari perubahan besar yang sedang berlangsung di tingkat global. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia memasuki era yang ditandai oleh ketidakpastian yang semakin tinggi

Konflik geopolitik di berbagai kawasan, meningkatnya rivalitas ekonomi antara negara-negara besar, serta fragmentasi rantai pasok global telah mengubah lanskap ekonomi internasional. Pada saat yang sama, tingkat suku bunga di negara-negara maju masih berada pada level yang relatif tinggi dibandingkan periode sebelum pandemi. Di Amerika Serikat, misalnya, kebijakan moneter yang ketat dalam beberapa tahun terakhir telah mendorong investor global untuk kembali menempatkan dana mereka pada aset-aset berdenominasi dolar AS yang dianggap lebih aman.

Akibatnya, banyak negara berkembang menghadapi tekanan berupa keluarnya modal asing dari pasar saham maupun pasar obligasi. Dalam situasi seperti ini, Indonesia sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Hampir seluruh negara emerging markets menghadapi tantangan yang sama, yaitu bagaimana mempertahankan stabilitas ekonomi di tengah meningkatnya preferensi investor terhadap aset-aset safe haven.

Tekanan terhadap rupiah dan IHSG juga perlu dipahami melalui kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS secara global membuat mata uang negara berkembang kehilangan sebagian daya tariknya. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat meningkat, investor internasional cenderung memindahkan dana dari pasar berkembang menuju instrumen yang menawarkan risiko lebih rendah dengan tingkat pengembalian yang kompetitif.

Data pasar selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa arus modal asing memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pergerakan IHSG maupun rupiah. Ketika investor asing melakukan aksi jual secara signifikan, tekanan terhadap pasar saham dan nilai tukar hampir selalu terjadi secara bersamaan. Namun demikian, faktor domestik juga memainkan peranan penting. Pasar tidak hanya menilai kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga prospek ekonomi beberapa tahun ke depan.

Dalam konteks tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada pada kisaran 5 persen memang masih relatif baik dibandingkan banyak negara lain. Akan tetapi, sebagian investor mulai mempertanyakan sumber-sumber pertumbuhan baru yang mampu menjaga momentum ekonomi dalam jangka panjang. Ketergantungan yang cukup besar terhadap konsumsi rumah tangga dan ekspor komoditas masih menjadi perhatian. Ketika harga komoditas global melemah atau konsumsi domestik melambat, ruang pertumbuhan ekonomi dapat menjadi lebih terbatas.

Oleh karena itu, pelemahan pasar sering kali mencerminkan kekhawatiran terhadap masa depan, bukan semata-mata kondisi yang sedang berlangsung saat ini. Meski demikian, akan menjadi kesalahan apabila kesehatan ekonomi Indonesia hanya diukur berdasarkan pergerakan rupiah atau IHSG. Pasar keuangan memang penting, tetapi bukan satu-satunya indikator yang menentukan kekuatan fundamental ekonomi. Untuk menilai ketahanan ekonomi secara lebih komprehensif, perlu diperhatikan sejumlah indikator lain yang mencerminkan kemampuan negara menghadapi guncangan.

Salah satunya adalah cadangan devisa. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia berhasil mempertahankan cadangan devisa pada tingkat yang cukup untuk membiayai beberapa bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan situasi menjelang krisis Asia tahun 1997–1998 ketika cadangan devisa sangat terbatas dan kemampuan intervensi otoritas moneter relatif rendah.

Selain itu, sektor perbankan Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang jauh lebih sehat dibandingkan masa lalu. Rasio kecukupan modal perbankan berada pada tingkat yang relatif tinggi, sementara rasio kredit bermasalah masih terkendali. Inflasi juga masih berada dalam rentang yang relatif terjaga dibandingkan banyak negara lain yang sempat mengalami lonjakan harga pascapandemi. Dari sisi fiskal, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto juga masih lebih rendah dibandingkan banyak negara maju maupun berkembang lainnya.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa meskipun pasar keuangan sedang mengalami tekanan, fondasi ekonomi nasional belum tentu berada dalam kondisi yang rapuh. Sejarah memberikan pelajaran yang penting mengenai perbedaan antara gejolak pasar dan krisis ekonomi. Pada tahun 1998, Indonesia menghadapi kombinasi pelemahan nilai tukar, krisis perbankan, lonjakan inflasi, dan ketidakstabilan politik yang terjadi secara bersamaan. Dampaknya sangat luas dan mengakibatkan kontraksi ekonomi yang dalam.

Sebaliknya, pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020, pasar keuangan juga mengalami kepanikan yang luar biasa, tetapi perekonomian mampu pulih relatif cepat berkat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih baik. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa gejolak pasar tidak selalu berakhir menjadi krisis ekonomi. Yang menentukan adalah kualitas institusi, kemampuan pengambilan kebijakan, dan kekuatan fundamental yang dimiliki suatu negara. Di atas semua indikator ekonomi tersebut, sesungguhnya terdapat satu faktor yang sering kali menjadi penentu utama, yaitu kepercayaan.

Ekonomi modern pada dasarnya berjalan di atas fondasi ekspektasi. Investor menanamkan modal karena percaya terhadap prospek keuntungan di masa depan. Pelaku usaha melakukan ekspansi karena yakin bahwa permintaan akan terus tumbuh. Masyarakat meningkatkan konsumsi karena optimistis terhadap kondisi pendapatan dan lapangan kerja. Ketika kepercayaan mulai melemah, aktivitas ekonomi dapat melambat bahkan sebelum data statistik menunjukkan penurunan yang nyata.

Dalam banyak kasus, krisis bukan diawali oleh buruknya angka-angka ekonomi, melainkan oleh hilangnya keyakinan terhadap kemampuan suatu negara mengelola tantangan yang dihadapinya.

Karena itu, respons terhadap gejolak pasar tidak boleh hanya berfokus pada upaya menstabilkan nilai tukar atau mengembalikan indeks saham ke level tertentu. Yang jauh lebih penting adalah membangun kembali keyakinan bahwa Indonesia memiliki strategi yang jelas untuk menghadapi perubahan ekonomi global. Reformasi struktural yang meningkatkan produktivitas, penguatan kualitas sumber daya manusia, percepatan hilirisasi yang memberikan nilai tambah, serta konsistensi kebijakan ekonomi akan menjadi faktor penentu dalam menjaga kepercayaan tersebut.

Pasar pada akhirnya bukan hanya membaca angka, tetapi juga membaca arah. Apabila dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya dalam dua pekan terakhir, tekanan yang dialami Indonesia sebenarnya merupakan bagian dari fenomena regional, meskipun dengan intensitas yang relatif lebih besar.

Di Thailand dan Filipina, mata uang domestik juga mengalami tekanan akibat kenaikan harga energi dan menguatnya dolar Amerika Serikat. Sebagai negara pengimpor minyak bersih (net oil importer), ketiga negara tersebut menghadapi risiko yang sama berupa meningkatnya biaya impor energi, pelebaran defisit transaksi berjalan, dan potensi kenaikan inflasi. Survei pasar yang dilakukan Reuters bahkan menunjukkan bahwa sentimen negatif terhadap rupiah menjadi yang paling kuat sejak 2022, sementara tekanan serupa juga terlihat pada baht Thailand dan peso Filipina.

Kondisi ini menunjukkan bahwa investor global sedang melakukan penyesuaian portofolio terhadap hampir seluruh aset di kawasan yang sensitif terhadap kenaikan harga energi dan penguatan dolar AS. Namun demikian, tidak semua negara ASEAN menghadapi tekanan yang sama. Dalam periode yang sama, dolar Singapura dan ringgit Malaysia justru menunjukkan daya tahan yang relatif lebih baik dibandingkan rupiah. Singapura memperoleh dukungan dari kuatnya sektor jasa keuangan dan arus investasi global yang stabil, sedangkan Malaysia mendapatkan keuntungan dari posisinya sebagai eksportir energi sehingga mampu menikmati tambahan penerimaan ketika harga minyak meningkat.

Perbedaan ini memberikan pelajaran penting bahwa ketahanan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh besarnya ukuran ekonomi, tetapi juga oleh struktur ekonomi yang dimiliki suatu negara. Ketika Indonesia, Thailand, dan Filipina menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya impor energi, Malaysia justru memperoleh manfaat dari kondisi yang sama. Dengan kata lain, gejolak yang terjadi saat ini bukan sekadar persoalan sentimen pasar jangka pendek, melainkan juga cerminan bagaimana investor menilai kemampuan masing-masing negara dalam menghadapi perubahan lanskap ekonomi global yang semakin tidak pasti.

Pada akhirnya, pelemahan rupiah dan tekanan terhadap IHSG bukan sekadar cerita tentang fluktuasi pasar keuangan. Keduanya merupakan pengingat bahwa ketahanan ekonomi harus terus diperkuat di tengah dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian. Gejolak yang terjadi hari ini dapat menjadi ujian, tetapi sekaligus kesempatan untuk mengevaluasi seberapa kuat fondasi yang telah dibangun selama ini.

Ketahanan ekonomi tidak diukur dari kemampuan menghindari setiap badai, melainkan dari kemampuan bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali ketika badai datang. Dalam konteks itulah, Indonesia sedang diuji—dan hasil ujian tersebut akan sangat ditentukan oleh kualitas kebijakan serta kemampuan menjaga kepercayaan publik dan pasar terhadap masa depan ekonomi nasional. Semoga!

*Tulisan ini dimuat di Kompas.com

Baca Juga

Aries Heru Prasetyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *