Dari Sekadar Laba ke Keberlanjutan: Arah Baru Manajemen SDM

Dari Sekadar Laba ke Keberlanjutan: Arah Baru Manajemen SDM

Selama tiga dekade terakhir, para eksekutif terbiasa memandang fungsi sumber daya manusia (SDM) melalui kacamata strategis, yakni bagaimana menyelaraskan manajemen SDM (MSDM) dengan strategi bisnis agar mampu menopang kinerja, daya saing, dan laba perusahaan. Karena berorientasi pada pencapaian kinerja dan keuntungan, praktik MSDM Strategis kerap menempatkan logika ekonomi di atas aspek kemanusiaan, dengan pemegang saham sebagai pemangku kepentingan utama.

Namun, gelombang perubahan tengah bergulir. Krisis iklim, tuntutan pelaporan ESG, hingga meningkatnya aksi mogok pekerja di berbagai negara mendorong perusahaan meninjau kembali agenda strategisnya, termasuk bagaimana MSDM dapat mendukung perubahan tersebut. Di sinilah konsep Sustainable Human Resource Management (Sustainable HRM) atau MSDM Berkelanjutan menemukan momentumnya.

Apa Itu MSDM berkelanjutan?

Dalam artikelnya berjudul Beyond Strategic Human Resource Management: Is Sustainable Human Resource Management the Next Approach? yang diterbitkan di International Journal of Human Resource Management, Kramar mendefinisikan MSDM Berkelanjutan sebagai “pola strategi dan praktik SDM yang dirancang untuk mencapai tujuan finansial, sosial, dan ekologis secara simultan, sambil mereproduksi basis SDM itu sendiri dalam jangka panjang.”

Sederhananya, MSDM Berkelanjutan berfokus pada pengelolaan manusia bukan hanya agar perusahaan memperoleh keuntungan hari ini, tetapi juga agar karyawan, masyarakat, dan lingkungan tetap sehat dalam jangka panjang.

Dalam artikel reflektifnya yang terbit pada 2025 di jurnal Human Resource Management, Cooke menjelaskan bahwa MSDM Berkelanjutan bukanlah sebuah konsep tunggal, melainkan payung bagi berbagai pendekatan yang saling melengkapi.

Pendekatan tersebut mencakup ethical HRM yang menyoroti standar ketenagakerjaan dan hak asasi manusia; socially responsible HRM yang menekankan tanggung jawab sosial perusahaan; green HRM yang mendorong perilaku ramah lingkungan karyawan; triple bottom line HRM yang menyeimbangkan profit, people, dan planet; hingga varian terbaru, common good HRM, yang menempatkan kepentingan kolektif masyarakat di atas kepentingan perusahaan secara individual.

Secara umum, MSDM Berkelanjutan memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu: (1) berbasis nilai dan berorientasi pada masyarakat; (2) berorientasi pada fenomena serta didorong oleh ideologi atau nilai; (3) melibatkan pemangku kepentingan yang lebih luas dibandingkan MSDM Strategis; serta (4) mencakup dimensi moral sekaligus bisnis.

Mengapa perusahaan perlu menjalankan MSDM berkelanjutan?

Menurut Cooke, setidaknya terdapat tiga alasan perusahaan perlu menerapkan MSDM Berkelanjutan.

Pertama, legitimasi. Perusahaan kini dituntut melaporkan kinerja ESG sekaligus menjadikan tanggung jawab sosial sebagai “lisensi moral untuk beroperasi.”

Kedua, perubahan zaman. Meningkatnya aksi mogok pekerja di berbagai belahan dunia menunjukkan keterbatasan praktik HRM konvensional dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Di saat yang sama, kelangkaan talenta berkualitas semakin terasa, pekerjaan menjadi semakin rentan (precarious), sementara kecerdasan buatan tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan tersebut.

Ketiga, adanya kepentingan bersama yang nyata. Pekerjaan yang layak dan tenaga kerja yang sehat akan meningkatkan produktivitas, yang pada akhirnya menguntungkan pemegang saham sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain, MSDM Berkelanjutan bukan sekadar bentuk altruisme, melainkan respons rasional terhadap perubahan lanskap bisnis.

Bukti empiris: manfaat bagi karyawan dan perusahaan

Pertanyaan klasik para eksekutif tentu, apakah praktik MSDM Berkelanjutan akan mengorbankan kinerja?

Studi Lu, Zhang, Yang, dan Wang pada 2023 memberikan jawaban yang meyakinkan. Mereka meneliti 96 perusahaan di Tiongkok yang melibatkan 278 eksekutif dan 1.277 karyawan untuk menguji dampak praktik MSDM Berkelanjutan, mulai dari rekrutmen berbasis nilai etis, pelatihan keberlanjutan, penghargaan atas perilaku bermoral, hingga kebijakan kesejahteraan serta keseimbangan kehidupan dan pekerjaan (work-life balance).

Melalui model mediasi multilevel, penelitian tersebut menunjukkan rantai manfaat yang jelas. Praktik MSDM Berkelanjutan secara signifikan meningkatkan resiliensi karyawan, yakni kapasitas psikologis untuk bangkit dari kesulitan.

Resiliensi tersebut kemudian meningkatkan work engagement (keterikatan kerja), yaitu kondisi ketika karyawan bekerja dengan penuh semangat, dedikasi, dan keterlibatan. Keterikatan kerja inilah yang pada akhirnya meningkatkan kinerja individu.

Implikasinya penting bagi praktisi. Pertama, studi ini membantah anggapan bahwa fokus pada MSDM Berkelanjutan akan menurunkan efisiensi. Sebaliknya, praktik tersebut justru menjadi sumber daya yang memperkuat modal psikologis karyawan.

Kedua, temuan ini relevan bahkan dalam budaya kerja yang menekankan kerja keras dan disiplin tinggi, sehingga masuk akal apabila dampak serupa, bahkan lebih kuat, muncul di konteks lain.

Ketiga, bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memiliki keterbatasan sumber daya, mengadopsi sebagian praktik MSDM Berkelanjutan pun terbukti mampu membangun resiliensi karyawan.

Peran fungsi SDM dan praktisinya

Lalu, bagaimana fungsi SDM menjalankan agenda keberlanjutan ini?

Society for Human Resource Management Foundation (SHRM) menegaskan bahwa fungsi SDM memegang peran yang sangat penting karena keberlanjutan pada dasarnya merupakan proses perubahan budaya, perubahan organisasi, serta pengelolaan manusia — tiga bidang yang menjadi kompetensi inti praktisi SDM.

Laporan tersebut memetakan dua peran utama.

Pertama, mendukung keberlanjutan bisnis dengan memanfaatkan berbagai perangkat SDM untuk menanamkan strategi keberlanjutan ke dalam budaya dan praktik organisasi.

Hal ini dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu partnering (membantu merumuskan misi sosial organisasi di tingkat pimpinan), engaging (melibatkan pemangku kepentingan internal maupun eksternal), serta aligning (menyelaraskan seluruh proses SDM, mulai dari rekrutmen berbasis nilai, pelatihan keberlanjutan, kompensasi yang dikaitkan dengan target keberlanjutan, hingga penciptaan iklim organisasi yang mendukung).

Contoh penerapannya beragam. Intel mengaitkan bonus tahunan seluruh karyawannya dengan pencapaian target keberlanjutan. Sementara itu, Unilever melaporkan bahwa investasi pada program kesejahteraan karyawan menghasilkan tingkat pengembalian hingga enam banding satu.

Kedua, menjalankan MSDM secara berkelanjutan dengan memastikan bahwa seluruh proses SDM berpijak pada prinsip keberlanjutan, yakni kesetaraan (termasuk audit kesenjangan gaji berdasarkan gender), kesejahteraan karyawan, serta pengembangan kompetensi yang meningkatkan employability.

SHRM juga menawarkan peta jalan lima langkah bagi para praktisi, yaitu mengidentifikasi dan melibatkan pemangku kepentingan; memprioritaskan isu SDM yang material; merevisi seluruh kebijakan SDM agar selaras dengan prinsip keberlanjutan; menyusun rencana aksi beserta scorecard; kemudian mengimplementasikan, mengukur, serta melaporkan dampaknya.

Untuk itu, praktisi SDM perlu membangun kompetensi baru berupa pemahaman terhadap isu keberlanjutan global, kemampuan berdialog dengan pemangku kepentingan, serta kemampuan bermitra dengan organisasi nirlaba.

Pada akhirnya, fokus MSDM Berkelanjutan bukan sekadar memastikan perusahaan memperoleh keuntungan hari ini, melainkan bagaimana karyawan, masyarakat, dan lingkungan tetap sehat dalam jangka panjang.

Penelitian di Tiongkok menunjukkan bahwa nilai-nilai MSDM Berkelanjutan justru memperkuat kinerja, bukan melemahkannya. Sementara itu, SHRM menunjukkan bahwa fungsi SDM telah memiliki perangkat yang memadai untuk mengeksekusi agenda keberlanjutan perusahaan.

Di Indonesia, ketika semakin banyak perusahaan bergulat dengan tuntutan ESG sekaligus persaingan memperoleh talenta terbaik, pesannya menjadi semakin jelas: mengelola manusia secara berkelanjutan bukan lagi sekadar pilihan kosmetik, melainkan strategi untuk bertahan dan bertumbuh di era kapitalisme yang semakin akuntabel.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Baca Juga

Wendra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *