Bahaya Attention Economy, Keviralan Konten, dan Krisis Kepercayaan Konsumen

Bahaya Attention Economy, Keviralan Konten, dan Krisis Kepercayaan Konsumen

Perubahan fundamental kini sedang terjadi pada pemasaran digital. Tanpa disadari, kini kita harus mengakui: “Produk bukanlah satu-satunya yang dibeli oleh konsumen, kini perhatian juga harus dibayar oleh konsumen.”

Lamanya seseorang melakukan penelusuran di jalur digital dan kemudian bertahan di suatu platform menjadikan semakin besar peluangnya untuk melihat tayangan iklan dan memotivasi orang tersebut untuk bertransaksi — hingga akhirnya menjadi konsumen yang rela memberikan data untuk dimonetisasi.

Begitu pula setiap audiens yang men-scroll tayangan konten di layar platform media sosial, dilanjutkan dengan click, like, comment, share, dan waktu per detik yang dihabiskan oleh audiens di platform digital kini bernilai ekonomi. Begitulah cara kerja attention economy yang tengah kita hadapi saat ini.

Fenomena ini tidak dapat dihindari. Perhatian manusia kini menjadi komoditas yang terbatas dan menjadi rebutan para konten kreator, para influencer, pemilik jenama, bahkan para pemain yang beraksi di layar digital dan sering kali dibayar untuk menciptakan informasi palsu.

Persoalan terbesar yang harus dihadapi pemasar digital yaitu harus menerima kenyataan bahwa perhatian audiens menjadi alat pertukaran yang diperebutkan dan kini mampu menjadi mata uang baru. Dilema yang didapati, konten yang paling mampu merebut perhatian belum tentu konten yang paling benar, tetapi konten yang dapat membangkitkan emosi berupa rasa senang, penasaran, marah, terkejut, kecewa, atau provokasi sehingga menimbulkan rasa takut, kini menjadi daya tarik yang sangat kuat.

Pada fenomena di jalur digital ini, kita mendapatkan suatu paradoks: Semakin mudah mendapatkan konten yang menarik perhatian, semakin besar pula peluang untuk membentuk persepsi audiens tanpa mereka mempertimbangkan kebenaran informasi di dalamnya.

Fenomena attention economy ini telah diprediksi oleh Herbert Simon di tahun 1971. Ia menyatakan: “Akan ada masa di mana kita akan mengalami era kekayaan informasi, tetapi menjadikan kemiskinan perhatian manusia.” Kemudahan akses bagi pengguna internet dan kemajuan teknologi komunikasi menyediakan informasi yang berlimpah, sementara itu kapasitas otak manusia untuk menangkap informasi sangat terbatas. Perhatian pun berubah menjadi sumber daya yang amat langka.

Herbert Simon. (Foto: toolshero.com)
Herbert Simon. (Foto: toolshero.com)

Maxi Heitmayer (2025) memperkuat apa yang disampaikan oleh Herbert mengenai bahaya attention economy dalam penelitiannya yang berjudul “The Second Wave of Attention Economics: Attention as a Universal Symbolic Currency on Social Media and Beyond.”

Heitmayer membahas lebih jauh tentang attention economy secara luas: perhatian di media sosial tidak hanya dipahami sebagai sumber daya yang diperebutkan oleh berbagai platform dan pihak untuk dimonetisasi, tetapi perhatian sebagai mata uang simbolis tersebut tidak dapat menunjukkan identitas yang dianggap bernilai, relevan, dan layak untuk diperhatikan.

Dalam ekosistem media sosial, jumlah likes, views, followers, shares, dan engagement kemudian berfungsi sebagai sinyal sosial. Sesuatu yang mendapatkan perhatian dalam jumlah besar dapat dipersepsikan memiliki nilai yang lebih tinggi.

Maka dari sinilah persoalan epistemik mulai muncul, yaitu popularitas dan keviralan yang dihasilkan dari konten menjadi tolok ukur bagi perhatian audiens, bukan diukur dari kebenaran.

Dari perspektif praktisi pemasaran, kondisi di atas dapat membentuk “digital distrust cycle” (siklus ketidakpercayaan digital). Siklus ini dimulai ketika platform mengejar durasi bertahan audiens sebagai salah satu indikator utama keberhasilan. Berikutnya, algoritma secara intensif mulai mengenali kebutuhan konsumen, lalu mendistribusikan konten yang disukai demi mempertahankan perhatian audiens.

Konten emosional memperoleh momentum; konten viral menjadi sensasi; kemudian publik menghadapi persepsi social proof yang makin kuat dengan anggapan: “Kalau konten sudah ditonton jutaan orang, sudah pasti ada kebenarannya.”

Pada tahap berikutnya, informasi hoax, konten manipulatif, clickbait, deepfake, serta scam mendapatkan kemenangan di lingkungannya. Masalah semakin kompleks karena teknologi generative AI membuat produksi konten yang terlihat autentik menjadi semakin mudah. Pada akhirnya, yang terkikis bukan hanya kredibilitas konten, melainkan kepercayaan masyarakat yang ikut tergerus akibat ekosistem digital secara keseluruhan.

Di sinilah kita dapat melihat secara jelas persoalan yang sedang kita temui — ancaman dan bahaya yang jauh lebih besar yang tengah dihadapi dunia bisnis. Ketika konsumen kehilangan kemampuan membedakan mana konten yang benar dan mana konten hasil manipulasi, mereka tidak selalu berpindah menjadi konsumen yang percaya pada sumber alternatif, melainkan dapat berubah menjadi konsumen yang skeptis terhadap semua informasi yang didapatkan dari berbagai konten.

Lalu pada akhirnya, terjadi digital distrust dan muncul pernyataan: “Saya tidak percaya.”

Dalam konteks yang terkait brand, konsekuensi ini sangat serius. Pemilik brand yang telah bertahun-tahun membangun reputasi dapat dengan segera kehilangan kredibilitas hanya karena satu informasi palsu yang menjadi viral.

Sebaliknya, brand yang terbiasa mengejar engagement melalui kontroversi memang memperoleh perhatian dalam jangka pendek, tetapi membayar mahal erosi reputasinya di mata konsumen dalam jangka panjang.

Perhatian para praktisi global terhadap disinformasi memperlihatkan bahwa persoalan ini bukan lagi sekadar masalah media sosial. Laporan World Economic Forum di tahun 2025 menempatkan misinformation and disinformation sebagai salah satu risiko global penting yang berada pada urutan utama yang dihadapi oleh bisnis dalam jangka pendek.

Dengan kata lain, dapat dikatakan bahwa kini trust (kepercayaan) bukan hanya tentang isu komunikasi, namun telah bergerak menjadi aset strategis.

Lalu, apa yang perlu dilakukan bila attention economy mengancam strategi pemasaran di jalur digital?

Dengan cepat, perusahaan dan pemilik brand harus mulai bergerak dari mengejar attention economy berpindah menuju trust economy. Bila tayangan konten brand ternyata tidak memenangkan perhatian, pesan pemasaran tidak akan pernah masuk ke dalam wilayah pertimbangan konsumen.

Namun, perhatian harus diperlakukan sebagai gerbang utama yang ingin dicapai, bukan sebagai tujuan akhir. Keberhasilan komunikasi di jalur digital tidak cukup berhenti pada reach, views, likes, dan shares saja.

Dalam memperkuat kepercayaan, kita perlu mengenali: apakah perhatian konsumen di jalur digital tersebut dapat menghasilkan kredibilitas bagi bisnis? Apakah konsumen dari brand semakin yakin? Apakah informasi yang kita distribusikan di semua jalur digital dapat diverifikasi? Apakah pengalaman konsumen konsisten dengan janji yang disampaikan oleh brand?

Di sinilah peran pemimpin marketing untuk merancang strategi digital yang tepat.

Meski perhatian audiens dapat diperoleh dengan tayangan konten yang kontroversial, lalu engagement diciptakan dengan clickbait, dan viralitas kenyataannya bahkan dapat didorong oleh algoritma, kepercayaan konsumen tidak dapat dibeli dengan cara yang sama. Trust secara organik dibangun melalui konsistensi, transparansi, bukti, pengalaman pelanggan, dan integritas.

Dalam konteks ini, pemikiran Maxi Heitmayer tentang perhatian sebagai symbolic currency memberikan kita pelajaran penting bahwa setiap like, share, view, dan follower memang mempunyai nilai, tetapi jangan sampai kita keliru membaca nilai perhatian sebagai nilai kepercayaan.

Maxi Heitmayer. (Foto: SEBE-Lab.net)
Maxi Heitmayer. (Foto: SEBE-Lab.net)

Sebuah brand yang kuat mungkin memiliki jutaan views, tetapi belum tentu memiliki jutaan audiens yang menaruh rasa percaya. Maka, pertanyaan strategis seorang Chief Marketing Officer hari ini kepada timnya sebaiknya bukan lagi: “Bagaimana membuat brand kita menjadi viral?”, melainkan berganti menjadi: “Ketika brand kita viral, apakah tingkat kepercayaan konsumen kita ikut meningkat?”

Berikutnya, jika jawaban dari timnya adalah tidak, maka kita mungkin sedang memenangkan pertarungan attention, tetapi kalah dalam memenangkan trust.

Menjaga kepercayaan dengan kerangka TRUST

Pergeseran paradigma ini perlu kita pahami. Bagi pemilik brand dan para komunikator, ada cara sederhana yang dapat dijadikan kompas dalam memenangkan perhatian berbasis kepercayaan. Kini urutan langkah yang perlu mulai dibangun oleh pemilik brand di Indonesia adalah:

bukan lagi urutan langkah yang dimulai dari:

Selanjutnya, agar memenangkan konsumen di jalur digital, kita perlu menerapkan kerangka TRUST:

  • Transparency – hadirkan asal sumber informasi sebagai wujud keterbukaan.
  • Responsibility – kedepankan tanggung jawab atas distribusi informasi yang disebarkan.
  • Understanding Algorithm – pahami cara platform bekerja.
  • Source Validation – lakukan verifikasi terlebih dahulu sebelum memercayai konten.
  • Think Before Sharing – berpikir dahulu sebelum menyebarkan konten.

Intinya, perhatian memang sangat penting untuk meningkatkan awareness, tetapi kepercayaan sangat menentukan keberlangsungan bisnis. Brand yang hanya mengejar sensasi akan menikmati lonjakan perhatian dan dapat mempertahankan pelanggan dalam jangka pendek, namun berisiko kehilangan kredibilitas jangka panjang.

Viralitas bisa saja direkayasa, perhatian audiens bisa dibeli, dan persepsi bisa dimanipulasi, tetapi kepercayaan tetap harus dibangun. Tugas marketer di masa depan bukan hanya memenangkan perhatian konsumen, melainkan memenangkan kepercayaan setelah perhatian konsumen berhasil diperoleh.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Baca Juga

Budi Aryani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *