Implementasi Prinsip Dasar Keberlanjutan: Melihat Pengelolaan Sampah di Dukuh Bima Citra-Tambun

Implementasi Prinsip Dasar Keberlanjutan: Melihat Pengelolaan Sampah di Dukuh Bima Citra-Tambun

Salah satu rujukan penting dalam isu keberlanjutan adalah Earth Charter yang dikembangkan oleh Earth Charter Commission pada 2000. Piagam tersebut memuat prinsip bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi sebagai rumah bersama agar tetap layak dihuni.

Salah satu tantangannya adalah pengelolaan sampah. Indonesia menjadi sorotan dunia karena timbunan sampah di tempat pemrosesan akhir dapat menghasilkan gas metana (CH4), gas yang tidak berbau, mudah terbakar, dan merupakan gas rumah kaca yang kuat dalam memerangkap panas.

Selain metana, aktivitas pengelolaan dan penguraian sampah juga dapat menghasilkan karbon dioksida (CO2), yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

Sorotan terhadap persoalan sampah di Indonesia mendorong pemerintah, termasuk Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mencanangkan program pengelolaan sampah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar memilah sampah — organik, anorganik, dan residu — mulai dari rumah. Dengan begitu, sampah dapat dikelola dengan lebih baik dan tidak menambah beban tempat pemrosesan akhir.

Program pengelolaan sampah gencar disosialisasikan hingga tingkat RT, termasuk di Bima Citra. Bima Citra merupakan salah satu cluster di Dukuh Bima yang pengurusnya, mulai dari RW hingga RT, aktif mendukung program tersebut. Para pengurus RW dan RT memahami bahwa kebiasaan membuang sampah tidak bisa lagi dilakukan seperti dulu. Karena itu, dibutuhkan gerakan dan contoh pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah.

Sebut saja Pak RW, Ketua RT 01, dan Ketua RT 02 yang mulai menjalankan program pengelolaan sampah mandiri. Mereka menyampaikan program tersebut secara terbuka, diawali dengan pendirian bank sampah pada Mei. Struktur bank sampah juga dibentuk agar warga Bima Citra mengetahui pihak-pihak yang terlibat dalam program tersebut.

Program pengelolaan sampah mandiri ini benar-benar dijalankan. Warga diminta berkumpul di taman RT untuk mengikuti sosialisasi. Tidak cukup hanya mendirikan bank sampah, pengurus RW dan RT juga menyediakan bronjong untuk menampung sampah plastik. Bronjong tersebut dapat dibeli warga dengan harga Rp100.000.

Selain itu, tersedia kotak penampungan sampah anorganik berupa kardus yang ditempatkan di beberapa titik perumahan. Kardus yang terkumpul diambil oleh bank sampah setiap Rabu, kemudian diangkut truk pengangkut sampah pada Kamis dan diteruskan ke tempat pengelolaan sampah.

Selain menjelaskan proses pemilahan sampah, pengurus RW dan RT Bima Citra juga menyosialisasikan cara mengelola sampah. Salah satu kegiatan yang diperkenalkan adalah pembuatan eco-enzyme, seperti disampaikan melalui undangan yang diterima warga.

Warga pun dapat mengolah sampah buah-buahan melalui proses pembuatan dan pemanfaatan eco-enzyme. Banyak warga hadir dalam sosialisasi tersebut. Masyarakat mulai memahami bahwa mereka dapat membantu program pemerintah dari rumah. Sebagian warga masih mengalami kesulitan, tetapi para pengurus, terutama bank sampah, terus memberikan edukasi melalui video yang dibagikan di grup WhatsApp agar warga tidak putus asa dan terus mencoba.

Poster kegiatan Edu Fun Kids. (Istimewa)
Poster kegiatan Edu Fun Kids. (Istimewa)

Pengurus RW dan RT yang kreatif juga meluncurkan program edukasi bagi anak-anak warga melalui kegiatan Edu Fun Kids. Dalam program tersebut, anak-anak belajar sejak dini untuk memilah dan mengolah sampah, sekaligus mendapatkan hadiah.

Cukup banyak anak-anak yang terlibat bersama orang tua mereka. Program ini terus berjalan hingga sekarang. Kas RW yang mencukupi juga dialokasikan untuk membeli mesin pencacah daun kering, yang banyak ditemukan di Dukuh Bima karena kawasan tersebut dipenuhi pepohonan rindang.

Dengan demikian, program pengelolaan sampah yang dimulai dari rumah bukan tidak mungkin diwujudkan, tetapi memang membutuhkan partisipasi semua pihak. Pengurus RW dan RT yang aktif serta memiliki kesadaran lingkungan menjadi fondasi penting dalam menggerakkan masyarakat untuk mendukung program pemerintah.

Namun, tidak semua pengurus RW dan RT aktif. Sebagian masih diam dan tidak bergerak karena berbagai alasan. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi pemerintah daerah ke depan.

Semoga upaya pengelolaan sampah dari rumah ke rumah dapat membuat Indonesia tidak lagi menjadi sorotan dunia karena persoalan sampah, melainkan menjadi contoh bahwa Indonesia mampu mengelola sampah dengan lebih baik.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Baca Juga

Pepey Riawati Kurnia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *