Malang Raya Menuju Megapolitan, PPM Manajemen Dorong Swasta Jadi Motor Pertumbuhan
DISWAYMALANG–Malang Raya dinilai memiliki modal kuat untuk berkembang menjadi kawasan megapolitan, tetapi peluang tersebut membutuhkan percepatan kolaborasi lintas daerah dan sektor. Pelaku usaha disebut harus mengambil peran lebih besar sebagai penggerak investasi dan pembentukan ekosistem ekonomi baru.
Pandangan tersebut disampaikan AC Mahendra K Datu dari PPM Manajemen dalam Bincang Bisnis bersama Dahlan Iskan pada peringatan HUT ke-2 Disway Malang di Bakorwil III Malang, Kamis (10/9/2026).
Mahendra menyoroti pentingnya sinergi lintas wilayah di Jawa Tengah, dan DIY sebagai contoh model pembangunan yang bisa ditiru Jawa Timur, khususnya Malang Raya.
Ia juga membandingkan Malang Raya dengan DIY Yogyakarta. Luas Malang Raya mencapai 3.800 km² dengan penduduk 3,9 juta jiwa. Sementara DIY lebih kecil secara wilayah, tetapi memiliki kekuatan besar di dua sektor. Yaitu pendidikan dan industri kreatif.
“Di DIY ada UGM, UNY, UII, Atma Jaya dan puluhan kampus lain. Terbentuklah yang disebut edu town. Usaha kos tumbuh, apartemen untuk mahasiswa ada. Industri pendidikan saja sudah menghidupi. Begitu ada ekosistem besar, semuanya berkembang,” jelasnya.

Menurutnya, Kabupaten Bantul di DIY juga menjadi contoh bagaimana sektor kreatif tumbuh alami. Ada desa gerabah, pusat lukisan, dan komunitas seniman yang menghidupkan ekonomi lokal tanpa harus dipaksa oleh pemerintah.
Mahendra menyebut Malang Raya memiliki potensi serupa. Wilayah ini terdiri dari Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu dengan karakteristik yang saling melengkapi.
“Harus disegerakan sebelum masih jadi metropolitan. Kalau sudah jadi metropolitan, lalu jadi kabupaten metropolitan, sudah tidak ada gunanya. Mumpung sekarang masih humble, masih saling butuh,” tegasnya.
Namun, Mahendra mengingatkan, pengembangan harus dilakukan sebelum statusnya benar-benar menjadi metropolitan yang kompleks.
Sementara, menurutnya, tugas utama swasta adalah berani berinvestasi dan menciptakan populasi serta infrastruktur baru. Sementara pemerintah berperan sebagai regulator dan fasilitator.

“Ini murni tugas swasta. Sama seperti minta mangga ya ke pohon mangga. Jangan minta pelampung ke orang yang sudah jago berenang,” katanya.
Mahendra juga menyoroti potensi wisata di sepanjang Pantai Selatan, mulai dari Pacitan hingga Gunung Kidul. Ia mencontohkan pengembangan kawasan wisata di Gunung Kidul yang dilakukan swasta dan kini ramai dikunjungi, bahkan mengalahkan popularitas Bali dalam beberapa periode.
“Swasta sama swasta rukun ngopi. Ada PHRI juga di sini. Hotel bisa survive karena ada daya tarik seperti sunset. Itu semua inisiatif swasta,” ujarnya.
Di akhir paparannya, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan di Malang Raya — pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media untuk segera duduk bersama dan bergerak.
“Saat ini adalah waktu yang tepat untuk berinovasi dan bekerja sama membangun masa depan yang lebih baik. Jangan tunggu sampai semuanya jadi rumit,” pungkas AC Mahendra K Datu.
Baca Juga
- PPM Manajemen Perluas Kiprah ke Malang Jelang Usia 60 Tahun, Bidik Pengusaha dan UMKM
- PPM School of Management dan BRI Jalin Kerja Sama Strategis untuk Pengembangan SDM melalui Program Pendidikan
- Tiba-Tiba PPM Ajak Calon Mahasiswa Rasakan Langsung Pengalaman Belajar di PPM School
- HUT Ke-59 PPM Manajemen: “My Second Home”, Merayakan Kebersamaan dan Mengapresiasi Dedikasi Insan PPM
- PPM School of Management