Ketika Sustainability Membuka Sumber Pendapatan Baru: Belajar dari Studio Arae

Ketika Sustainability Membuka Sumber Pendapatan Baru: Belajar dari Studio Arae

Setiap mengunjungi pelaku usaha fesyen, saya hampir selalu menanyakan bagaimana sisa proses pewarnaan dikelola. Di studio Arae di kaki Gunung Salak, Bogor, air sisa pewarnaan dialirkan ke area tanaman, tetapi yang kemudian lebih menarik adalah bagaimana usaha seperti Arae tetap menghasilkan pendapatan ketika pakaian justru dirancang agar dapat digunakan lebih lama.

Sebagian besar bisnis fesyen masih bertumpu pada penjualan berulang. Produk dibuat, dijual, digunakan, lalu konsumen kembali membeli pakaian baru. Semakin cepat pembelian berikutnya terjadi, semakin besar peluang penjualan. Sustainability justru menantang logika tersebut.

Jika pakaian dibuat lebih awet, diperbaiki ketika rusak, diperbarui warnanya, atau digunakan kembali, frekuensi pembelian produk baru dapat berkurang. Dari sudut pandang lingkungan, hal ini tentu masuk akal. Masalahnya, bisnis tetap harus menghasilkan keuntungan. Jika konsumen membeli lebih jarang, lalu apa sumber keuntungan berikutnya?

Arae merupakan UMKM fesyen berbasis ecoprint di Bogor yang mengembangkan pakaian dengan memperhatikan pilihan material, umur pakai produk, dan pemanfaatan sisa produksi. Arae menggunakan bahan seperti linen, katun, dan lyocell, memanfaatkan perca menjadi produk patchwork, menggunakan kembali larutan mordant selama masih layak digunakan, serta menyediakan layanan re-dye untuk memperpanjang masa pakai pakaian. Kualitas produk juga menjadi perhatian, antara lain melalui pengujian ketahanan luntur di Balai Batik dan pemberian garansi warna kepada konsumen.

Pengalaman Arae menunjukkan bahwa sustainability ditempatkan sebagai program tersendiri. Prinsip tersebut sudah masuk ke cara usaha merancang produk, menjalankan produksi, dan melayani pelanggan setelah penjualan.

Menjual umur pakai, bukan hanya pakaian

Hubungan Arae dengan pelanggan tidak berhenti ketika pakaian terjual. Melalui layanan re–dye, pelanggan dapat memperbarui pakaian lama dan terus menggunakannya. Konsumen memperoleh manfaat tanpa harus langsung membeli produk baru, sementara Arae tetap dapat menghasilkan pendapatan dari pakaian yang sudah lebih dulu terjual.

Dalam model bisnis konvensional, transaksi biasanya selesai ketika konsumen membawa pulang barang. Dalam model bisnis seperti Arae, hubungan dengan pelanggan dapat berlanjut selama pakaian masih digunakan. Pendapatan tidak lagi hanya berasal dari penjualan produk baru, tetapi juga dari layanan yang membuat produk lama tetap bernilai bagi pelanggan.

Pewarnaan ulang, perawatan, perbaikan, penjualan kembali, atau pengambilan kembali produk dapat memperpanjang hubungan bisnis dengan pelanggan. Sustainability tidak harus membuat bisnis kehilangan pendapatan. Sumber pemasukan dapat diperluas melalui layanan yang memperpanjang penggunaan produk. Dalam praktik seperti inilah circular economy masuk ke model bisnis.

Koleksi kain, pakaian, dan aksesori Arae yang memadukan motif ecoprint dan warna alam. Melalui layanan pewarnaan ulang, Arae memperpanjang masa pakai pakaian sekaligus menjaga hubungan dengan pelanggan setelah penjualan. (Foto: Studio Arae)
Koleksi kain, pakaian, dan aksesori Arae yang memadukan motif ecoprint dan warna alam. Melalui layanan pewarnaan ulang, Arae memperpanjang masa pakai pakaian sekaligus menjaga hubungan dengan pelanggan setelah penjualan. (Foto: Studio Arae)

Konsumen tetap membeli nilai

Pengalaman Arae juga memperlihatkan bahwa alasan membeli produk berkelanjutan tidak selalu berkaitan dengan lingkungan. Tidak semua konsumen datang karena ingin menyelamatkan bumi. Sebagian calon pembeli justru mempertanyakan apakah warna ecoprint akan cepat pudar. Mereka tetap mempertimbangkan mutu kain, desain, kenyamanan, dan harga.

Arae menjawab keraguan itu dengan uji ketahanan luntur warna, garansi, petunjuk perawatan, dan penjelasan langsung kepada pelanggan mengenai kualitas dan cara merawat pakaian. Hal ini sering terlupakan ketika perusahaan berbicara tentang sustainability.

Pelaku usaha sering lebih banyak berfokus pada cerita tentang bahan ramah lingkungan, pengurangan limbah, atau proses produksi yang lebih bertanggung jawab. Padahal konsumen tetap kembali pada pertanyaan yang sederhana: apakah produknya bagus, nyaman, tahan lama, dan sepadan dengan harga yang dibayar?

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian saya yang menunjukkan bahwa nilai yang dirasakan konsumen menjadi pendorong utama niat membeli produk sirkular. Kesadaran terhadap isu lingkungan tetap berperan, tetapi pengaruhnya lebih banyak bekerja melalui pembentukan sikap.

Artinya, aspek lingkungan dapat memperkuat alasan membeli, tetapi tidak dapat menggantikan kualitas dan manfaat produk.

Model mengenakan syal Arae bermotif bunga dan dedaunan. Daya tarik desain, kualitas, dan kenyamanan tetap menjadi pertimbangan penting konsumen dalam memilih produk fesyen berkelanjutan. (Foto: Studio Arae)
Model mengenakan syal Arae bermotif bunga dan dedaunan. Daya tarik desain, kualitas, dan kenyamanan tetap menjadi pertimbangan penting konsumen dalam memilih produk fesyen berkelanjutan. (Foto: Studio Arae)

Tidak semua hal harus dikerjakan sendiri

Arae juga menunjukkan bahwa tidak semua praktik sirkular dapat dikerjakan sendiri oleh UMKM. Usaha kecil dapat memilih bahan dengan lebih bertanggung jawab, memanfaatkan perca, menggunakan kembali material produksi, dan memperpanjang umur pakaian. Namun, ketika bisnis ingin mulai menarik kembali produk bekas, memilahnya, lalu mengolah materialnya agar bisa digunakan kembali, UMKM membutuhkan dukungan aktor lain.

Pengambilan kembali pakaian, misalnya, membutuhkan logistik, penyortiran, penyimpanan, pembersihan, dan pihak yang dapat memanfaatkan material setelah pakaian tidak lagi digunakan. Jika seluruh aktivitas tersebut dibebankan kepada satu UMKM, ongkosnya dapat lebih besar daripada nilai material yang berhasil dipulihkan.

Karena itu, sustainability tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilakukan perusahaan di dalam usahanya sendiri. Pemasok, pelanggan, penyedia teknologi, lembaga pengujian, pemerintah, asosiasi, dan pelaku usaha lain ikut menentukan apakah praktik sirkular dapat terus dijalankan.

Bagi UMKM, dukungan tersebut penting karena biaya, fasilitas, pengetahuan, dan jaringan tidak selalu dapat dipenuhi secara internal. Tanpa dukungan ekosistem, praktik seperti pengambilan kembali produk atau pengolahan material bekas bisa sulit dijalankan secara ekonomis.

Perubahan menuju circular business model tidak bisa dibebankan pada satu pelaku usaha. Dibutuhkan lingkungan bisnis yang membuat praktik sirkular dapat terus berjalan dan tetap layak secara ekonomi.

Bolehkah bajunya benar-benar dikubur?

Arae menggunakan ungkapan “baju yang boleh dikubur” untuk menggambarkan pilihan bahan yang didominasi serat alam seperti linen, katun, dan lyocell serta upaya menghindari poliester.

Ungkapan itu menarik bukan karena pakaian lalu benar-benar harus dikubur, melainkan karena mengajak pelaku usaha memikirkan produk sejak tahap desain hingga akhir penggunaannya. Dari mana bahan berasal? Berapa lama pakaian dapat digunakan? Bisakah diperbaiki atau diperbarui? Apa yang terjadi ketika pakaian tidak lagi dipakai?

Pada akhirnya, sustainability masuk ke bisnis melalui keputusan operasional, seperti bahan yang dipilih, umur pakaian, layanan setelah penjualan, penggunaan sumber daya, dan sumber pendapatan.

Dari sebuah usaha kecil di kaki Gunung Salak ini, terlihat bahwa sustainability menjadi bagian dari cara bisnis dijalankan.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Baca Juga

Rike Penta Sitio

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *