Mewujudkan Keberlanjutan Indonesia melalui Pentahelix

Mewujudkan Keberlanjutan Indonesia melalui Pentahelix

Saat ini, isu keberlanjutan masih didominasi tema energi terbarukan, pengurangan emisi karbon, atau pengelolaan limbah. Satu tema yang belum banyak dibahas adalah keterlibatan berbagai pihak dalam mewujudkan keberlanjutan.

Laporan keberlanjutan sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan sering kali menyuguhkan program kerja yang seakan hanya menjadi milik satu perusahaan. Laporan tersebut terlihat hanya sebagai penggugur kewajiban administratif sehingga tidak perlu ada upaya menjaga lingkungan secara konsisten dan terus-menerus. Padahal, keberhasilan program keberlanjutan membutuhkan peran serta pihak yang lebih luas.

Keberlanjutan dapat diartikan sebagai kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang. Dalam konteks Indonesia, keberlanjutan bermakna bahwa Indonesia dapat menjadi tempat hidup yang layak tanpa kerusakan lingkungan akibat kegiatan penduduknya. Makna tersebut mengandung pesan bahwa setiap penduduk memiliki tanggung jawab atas keberlanjutan Indonesia.

Indonesia sesungguhnya telah memiliki berbagai program keberlanjutan dengan tekad mencapai emisi nol pada 2060. Hal tersebut akan dicapai melalui tiga program: pengurangan penggunaan batu bara, adopsi kendaraan listrik, dan dekarbonisasi proses hulu ke hilir industri logam serta pertambangan, terutama baja, aluminium, dan nikel.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa kegiatan industri memberikan berbagai dampak negatif bagi lingkungan. Proses produksi dapat mengakibatkan pencemaran udara dan emisi gas rumah kaca yang menurunkan kualitas udara; kerusakan lahan dan deforestasi akibat penambangan; serta limbah cair yang merusak ekosistem air dan mencemari sumber air minum.

Kegiatan industri juga dapat merusak hutan, mengasamkan danau atau sungai hingga menyebabkan ikan mati, mempercepat korosi bangunan akibat hujan asam, serta menghasilkan limbah padat dari proses pembakaran.

Tekad tersebut semestinya bukan menjadi milik pemerintah semata. Berbagai pihak dalam pentahelix perlu dilibatkan sesuai dengan perannya. Pemerintah berperan membangun regulasi dan infrastruktur yang mendorong pelaksanaan program keberlanjutan. Dunia usaha menjadi pelaksana peraturan dan bergerak melalui proses bisnis yang lebih efisien.

Sementara itu, akademisi mengembangkan inovasi, metode analisis, serta model prediksi yang mampu meningkatkan nilai tambah dari pelaksanaan program keberlanjutan. Komunitas menjadi penyelaras antara kebutuhan di lapangan dan manfaat yang dirasakan secara luas. Media berperan mengedukasi publik, membangun transparansi, dan mengawasi akuntabilitas seluruh pemangku kepentingan.

Lima peran tersebut dapat berkolaborasi secara efektif dan efisien apabila didukung data yang transparan, mutakhir, dan terintegrasi. Salah satu persoalan di Indonesia adalah data tersimpan dalam sistem yang terpisah. Persoalan ini perlu segera diselesaikan agar data dapat menjadi dasar pengambilan keputusan bersama bagi kelima peran.

Melalui kolaborasi lima peran dengan dukungan data terintegrasi, berbagai persoalan terkait program keberlanjutan dapat diantisipasi lebih awal.

Di sinilah digitalisasi diperlukan. Proses pendataan secara konvensional masih berpeluang menghasilkan informasi yang terpisah-pisah. Digitalisasi memudahkan pendataan yang akurat dan seragam secara waktu nyata. Karena itu, diperlukan transformasi digital atas data keberlanjutan melalui Sustainability Data Control Tower (SDCT).

Serupa dengan menara pengawas di bandara yang mengatur lalu lintas pesawat, SDCT merupakan pusat kendali berbasis teknologi yang berfungsi memantau, mengukur, dan mengelola data dari berbagai aktivitas keberlanjutan secara waktu nyata. SDCT mengumpulkan data dari seluruh program dan pelaksanaannya oleh kelima pihak dalam pentahelix.

Pada tahap awal, ukuran keberhasilan bagi tiap pihak adalah penyediaan data program dan pelaksanaan keberlanjutan yang transparan, akurat, dan mutakhir. Integrasi memungkinkan setiap keputusan didasarkan pada data yang relevan dengan peran masing-masing.

Pada akhirnya, keberlanjutan bukan hanya tentang mengurangi dampak lingkungan. Keberlanjutan juga berarti menciptakan sistem yang mampu terus belajar, beradaptasi, dan menghasilkan nilai ekonomi, sosial, serta lingkungan secara bersamaan. Kolaborasi pentahelix dapat menjadi fondasi penting bagi Indonesia untuk membangun daya saing sekaligus mewujudkan pembangunan berkelanjutan.

*Tulisan ini dimuat di SWA Online

Baca Juga

Alain Widjanarka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *